Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قَا لَ رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَا فُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَا بَ ۚ فَاِ ذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِ نَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ۚ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْۤا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 23)
Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah
23. Namun akan tetap ada orang-orang yang akan membela kebenaran meskipun mereka hanya sedikit. Dan inilah dua lelaki pilihan yang shalih, mereka berdiri dengan gagah untuk membela kebenaran sehingga Allah catat mereka di dalam kitab-Nya yang paling agung dan mulia.
Itulah kejantanan dan keberanian yang akan tampak pada peristiwa-peristiwa yang besar, yang senantiasa diiringi rasa takut kepada Allah. Karena barangsiapa yang takut kepada Allah niscaya dia tidak akan takut kepada selain-Nya, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah niscaya dia akan takut dari segalanya.
Oleh sebab itu, mereka berani menyampaikan nasehat yang agung: “Hendaklah kalian segera memasuki Baitul Maqdis dengan usaha yang sungguh-sungguh dan taatilah Tuhan kalian, ikutilah nabi kalian, dan seranglah benteng-benteng musuh kalian itu, niscaya kalian akan meraih kemenangan. Berusahalah dengan sungguh-sungguh dan bertakwalah kepada Allah jika kalian termasuk orang-orang yang beriman, karena tawakal merupakan sifat orang beriman. Dan tingkat tawakal tergantung tingkat keimanan.”
Tawakal adalah menyerahkan suatu urusan kepada kebijakan Allah Swt., yang mengatur segalanya-galanya. Berserah diri (tawakkal) kepada Allah Swt. adalah salah satu perkara yang diwajibkan dalam ajaran agama Islam. Berserah diri (tawakkal) kepada Allah Swt. dilakukan oleh seorang muslim apabila sudah melaksanakan Ikhtiar (usaha) secara maksimal dan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuannya.
Manusia harus menyadari bahwa dirinya lemah. Hal ini terbukti bahwa banyak orang yang mengalami kegagalan dan tidak berhasil memenuhi harapannya. Keberhasilan usaha seseorang terletak pada kuasa dan kehendak Allah Swt. Oleh sebab itu manusia harus sadar bahwa ia harus bertawakal kepada Allah setelah ia berusaha dengan maksimal. Orang bertawakal berarti menunggu keberhasilan apa yang diusahakannya. Oleh sebab itu, di saat tawakal hendaknya meningkatkan intensitas do’a nya kepada Allah Swt. agar apa yang diinginkan akan berhasil dengan baik.
Upaya yang bisa dilakukan dalam membiasakan perilaku tawakkal adalah membiasakan mengawali dan mengakhiri setiap aktivitas dengan berdoa, berusaha maksimal, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah
Membiasakan perilaku tawakal kepada Allah Swt:
1. Meningkatkan keyakinan dan keimanan kepada Allah
2. Memperoleh ketenangan dan ketentraman jiwa
3. Mengurangi beban pikiran, karena yakin manusia hanya berusaha Allah Swt.
4. Memperoleh keteguhan hati,
5. Menyadarkan bahwa dirinya lemah, dan mengakui kebesaran Allah.
Pada saat hasilnya positif maupun negatif, kita hanya bisa berujar, semua juga sudah ada yang ngatur…itu semua ketentuan dari Allah SWT.
Doa Tawakal dan Ikhtiar
Doa tawakal dan ikhtiar dapat diambil dari sebuah hadis yang salah satunya diriwayatkan oleh Imam Muslim:
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ
Alahumma aslamtu wa bika amantu wa ‘alaika tawakkaltu wa ilaika anabtu wa bika khoshamtu wa ilaika hakamtu faghfirli ma qoddamtu wa ma akhkhortu wa ma asrartu wa ma a’lantu antal muqoddimu wa antal muakhkhiru la ilaha illa anta.
“ Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku kembali, kepada-Mu aku mengadu, dan kepada-Mu aku berhukum. Maka, ampunilah dosaku yang telah aku lakukan dan yang kemudian aku lakukan, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah yang mendahulukan dan Engkaulah yang mengakhirkan. Engkaulah Rabbku, tidak ada ilah yang hak diibadahi kecuali Engkau.”