Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قَا لُوْا يٰمُوْسٰۤى اِنَّ فِيْهَا قَوْمًا جَبَّا رِ يْنَ ۖ وَاِ نَّا لَنْ نَّدْخُلَهَا حَتّٰى يَخْرُجُوْا مِنْهَا ۚ فَاِ نْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا فَاِ نَّا دَا خِلُوْنَ
“Mereka berkata, Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 22)
Penolakan Yahudi untuk berperang
Kisah Kaum Yahudi yang Menolak Perintah Berperang.
Sepertiga bagian isi kandungan Al Qur’an adalah kisah-kisah tentang umat terdahulu. Al Qur’an banyak memuat kisah-kisah inspiratif yang patut diteladani oleh para pembacanya. Kisah-kisah itu menggambarkan akhlak para nabi dan rasul yang mulia. Kisah-kisah al-Qur’an banyak menggambarkan bagaimana Allah mengajarkan akhlak yang mulia para nabi dan rasul dalam menghadapi tantangan dakwah.
Dengan bekal akhlak mulia yang dimiliki oleh para pribadi pilihan tersebut, dan ajaran tauhid yang dengans angat dipegangi oleh mereka, di satu sisi para nabi dan rasul Allah menjadi suri tauladan bagi contoh yang baik bagi generasi selanjutnya. Seemntara umat mereka yang membangkang dan kemudian dikenai adzab (siksa) lantaran keingkaran mereka menjadi contoh jelek yang tidak boleh ditiru. Itulah hikmah yang bisa dipetik dari kisah-kisah al-Qur’an.
Bani Israil menolak berperang merebut tanah suci
Sudah diperingatkan dalam QS al-Mā’idah/5:21, agar mereka tidak takut terhadap musuh yang akan dihadapi oleh kaum Israil dalam perjuangan merebut tanah yang dijanjikan. Bani Israil pada kenyataannya menolak perintah Tuhan untuk memasuki tanah suci yang dijanjikan, lantaran ketakutan.
Ayat di atas menegaskan penolakan keras kaum Musa untuk memasuki tanah suci yang dijanjikan, lantaran mereka benar-benar enggan berjuang untuk merebutnya. Mereka begitu takut terhadap kaum yang gagah perkasa yang menguasai kota itu, sehingga hampir seluruh kaumnya menolak berjuang merebut wilayah yang dijanjikan tersebut. Khāzin menafsirkan bahwa kaum jabbārīn yang menguasai kota itu adalah penguasa yang bengis dan kejam, bertubuh besar dan kuat. Mereka adalah suku Amaliqa, dari sisa-sisa kaum ‘Ad.
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِيْ السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَا سِئِـيْنَ
“Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, Jadilah kamu kera yang hina!” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 65)
فَجَعَلْنٰهَا نَكٰلاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْنَ
“Maka Kami jadikan (yang demikian) itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 66)
Pembangkangan pembangkangan Yahudi banyak ditemukan dalam al Quran, kisah kisah ini disampaikan supaya menjadi ibrah/pelajaran untuk umat nabi Muhammad SAW.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah kisah yang ada dalam al Quran, pembangkangan hanya akan mengundang murka Allah SWT.