Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَلَمَّاۤ اَلْقَوْا قَا لَ مُوْسٰى مَا جِئْتُمْ بِهِ ۙ السِّحْرُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَيُبْطِلُهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِيْنَ
“Setelah mereka melemparkan, Musa berkata, Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu. Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus 10: Ayat 81)
Sihir adalah kepalsuan, dan kepalsuan itu tidak akan bertahan lama
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Setelah mereka selesai menunjukkan sihir mereka, Musa berkata kepada mereka tanpa mengindahkan sedikitpun kedahsyatan sihir yang mereka tunjukkan itu, bahwa apa yang mereka lakukan itu hanyalah sihir belaka, atau suatu usaha memutarbalikkan penglihatan manusia. Hakikatnya tidak ada suatu perubahan yang terjadi dengan berubahnya tongkat dan tali itu menjadi ular. Sedangkan apa yang akan dilakukan oleh Musa adalah suatu mukjizat dari kekuasaan Allah. Allah akan membatalkan sulapan itu dengan mukjizat yang dibawa Nabi Musa a.s. Jelas bahwa sihir adalah perbuatan manusia, bukan peristiwa yang luar biasa. Maka Musa melemparkan tongkatnya, dan Allah mengubah tongkat itu menjadi ular, lalu ular itu menelan ular-ular sihir yang mereka perbuat karena Allah tidak akan membiarkan perbuatan kaum penyihir itu berlangsung terus.
Mentadaburi Surah Yunus ayat 81 dengan inti bahwa “Sihir adalah kepalsuan, dan kepalsuan itu tidak akan bertahan lama”, memberikan banyak pelajaran mendalam yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan. Berikut adalah beberapa poin tadabbur yang bisa kita renungkan:
1. Kebenaran dan Kebatilan Tidak Akan Pernah Sama
Ayat ini menegaskan bahwa kebenaran memiliki daya tahan, sedangkan kebatilan pasti hancur. Meskipun sihir (kebatilan) tampak memukau dan menipu mata manusia, hakikatnya lemah dan fana. Ini menjadi pengingat bahwa kita harus membangun hidup di atas nilai-nilai kebenaran.
Tadabbur: Jangan mudah terpesona oleh sesuatu yang hanya indah di permukaan, tetapi kosong dari kebenaran.
2. Tipu Daya dan Kebohongan Hanya Menang Sesaat
Sihir melambangkan segala bentuk penipuan, manipulasi, dan tipu daya. Dunia bisa saja kagum, tetapi Allah menunjukkan bahwa kebatilan itu tak akan mampu bertahan lama, dan akan gugur dengan datangnya cahaya kebenaran.
Tadabbur: Kebohongan, fitnah, dan manipulasi bisa mencuat sementara, tetapi akan runtuh oleh kejujuran dan keikhlasan.
3. Kemenangan Milik Orang yang Membawa Kebenaran
Nabi Musa menghadapi para penyihir bukan dengan sihir tandingan, tapi dengan kebenaran dari Allah. Ini menjadi pelajaran bahwa dalam menghadapi kemungkaran, kekuatan utama kita adalah keimanan dan kejujuran, bukan tipu daya.
Tadabbur: Jangan melawan keburukan dengan cara yang sama buruknya. Lawan kebatilan dengan kesabaran dan kebenaran.
4. Menjauhi Segala Bentuk Praktik Sihir dan Syirik
Ayat ini juga bisa menjadi pengingat keras agar menjauhi sihir, perdukunan, ramalan, atau hal-hal yang menjadikan makhluk sebagai sandaran selain Allah, karena semua itu adalah kebatilan yang akan membawa kepada kehancuran.
Tadabbur: Apa pun bentuk “sihir modern” — entah itu manipulasi, ilusi media, atau eksploitasi emosi — jika tidak jujur, pasti akan gagal pada akhirnya.
5. Keteguhan dalam Menyampaikan Kebenaran
Seperti Nabi Musa yang tidak goyah meskipun dihadapkan dengan kekuatan besar para penyihir istana, kita belajar bahwa keteguhan dalam memegang prinsip kebenaran adalah kekuatan sejati.
Tadabbur: Kebenaran tidak membutuhkan pertunjukan megah, cukup dengan keyakinan dan keberanian.
Doa Perlindungan dari Ilmu Sihir dan Kedzaliman
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
A‘ūdzu bikalimātillāhit-tāmmāti min sharri mā khalaq.
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala sesuatu yang Dia ciptakan.” (HR. Muslim)