Kebenaran Sesuatu Hal yang Tidak Disukai Bagi Orang-Orang yang Suka Berbuat Dosa

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَيُحِقُّ  اللّٰهُ  الْحَـقَّ  بِكَلِمٰتِهٖ  وَلَوْ  كَرِهَ  الْمُجْرِمُوْنَ
“Dan Allah akan mengukuhkan yang benar dengan ketetapan-Nya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya.” (QS. Yunus 10: Ayat 82).
Kemenangan mutlak kebenaran, meskipun manusia menolaknya dan menyukai kebatilan
Kebenaran sesuatu hal yang tidak disukai bagi orang orang yang suka berbuat dosa
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah menegaskan bahwa Dia dengan kalimah-Nya mengokohkan kebenaran. Dengan kebenaran itu, umat manusia akan mencapai kesejahteraan dan terpelihara dari kezaliman. Kalimat Allah itu adalah aturan Allah yang ditanamkan ke dalam syariat yang disampaikan kepada rasul-rasul-Nya. Dengan kalimat itu, Musa dapat mengalahkan Firaun dan melepaskan Bani Israil dari perbudakan Firaun, walaupun yang demikian itu tidak disukai oleh Firaun dan pemuka-pemukanya.
Kebenaran  sesuatu hal yang tidak disukai bagi orang-orang yang suka berbuat dosa.
Al-Qur’an, hadis, dan realitas psikologis manusia menunjukkan bahwa kebenaran seringkali tidak disukai oleh orang-orang yang tenggelam dalam dosa atau kebatilan. Ini karena:
  • Kebenaran mengancam kenyamanan yang diperoleh dari kebatilan.
  • Ia membongkar kepalsuan yang dibungkus oleh hawa nafsu atau kepentingan duniawi.
  • Kebenaran menuntut perubahan, sedangkan orang yang sudah terbiasa dalam maksiat cenderung menolak perubahan.
“Dan janganlah kamu campuradukkan yang haq dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq, sedang kamu mengetahui.” QS :Al-Baqarah ayat 42)
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakini kebenarannya… (QS An-Naml ayat 14)
Jadi, kebenaran terasa pahit bagi pelaku dosa karena mengganggu status quo hawa nafsu mereka.
Berikut beberapa poin tadabbur (perenungan) dari QS Yunus 82:
  1. Kebenaran adalah kehendak Allah, bukan suara mayoritas; Banyak orang berdosa mungkin membenci atau menolak kebenaran, tapi kebenaran tetap ditegakkan oleh Allah.
  2. Penolakan terhadap kebenaran bukan ukuran kebenaran itu sendiri; Jangan goyah karena kebenaran yang kita pegang tidak populer — itu sudah sunnatullah.
  3. Hati yang penuh dosa akan sulit menerima cahaya kebenaran; Sebab itu, penting menjaga kebersihan hati agar tidak menjadi bagian dari “al-mujrimun” yang membenci kebenaran.
  4. Optimisme bagi para pendakwah: Jika Anda menyeru kepada kebenaran dan ditolak, ingatlah ayat ini: kebenaran itu akan Allah tegakkan dengan kalimat-kalimat-Nya
  5. Sihir vs. Mukjizat sebagai simbol kontemporer: Dalam kehidupan modern, sihir bisa diibaratkan sebagai tipu daya atau propaganda, sementara mukjizat adalah nilai kebenaran yang murni, yang akan selalu menang di hadapan Allah.
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkan pula kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya. Teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kebencian terhadap kebenaran”