Semua Sujud kepada Allah

Allah subhanhu wata’aala berfirman dalam QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 15;
‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَلِلّٰهِ  يَسْجُدُ  مَنْ  فِى  السَّمٰوٰتِ  وَا لْاَ رْضِ  طَوْعًا  وَّكَرْهًا  وَّظِلٰلُهُمْ  بِا لْغُدُوِّ  وَا لْاٰ صَا لِ

“Dan semua sujud kepada Allah baik yang di langit maupun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa, (dan sujud pula) bayang-bayang mereka, pada waktu pagi dan petang hari.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 15)

Semua sujud kepada Allah

Dalam tafsir lengkap Kementerian Agama RI; Ayat ini menegaskan bahwa hanya kepada Allah semua malaikat, jin, dan manusia yang beriman tunduk, sujud, dan patuh, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, yang berada di langit dan di bumi, rela dan ikhlas dengan kemauan sendiri. Sedangkan orang-orang kafir hanya tunduk dan patuh apabila dalam keadaan darurat atau terdesak, seperti dalam firman Allah: Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. (al-Isra/17: 67)

Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). (al-Ankabut/29: 65)

Allah menjelaskan bahwa bukan hanya tubuh-tubuh mereka saja yang tunduk, sujud, dan patuh kepada Allah, tetapi sujud pula bayang-bayang mereka di waktu pagi dan petang. Setiap benda yang kena sinar matahari terutama di waktu pagi dan petang tentu kelihatan bayang-bayangnya memendek atau memanjang. Semua benda dan bayang-bayangnya tunduk kepada Allah, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa. Hal ini menunjukkan kekuasaan Allah yang Mahasempurna.

Semua makhluk di langit dan di bumi tunduk kepada Allah, baik dengan sukarela maupun terpaksa, bahkan bayang-bayang mereka pun ikut bersujud pagi dan petang.

  1. Universalitas tauhid; Tidak ada satu pun makhluk yang keluar dari kekuasaan-Nya.
  2. Sujud sadar dan sujud tak sadar;  Orang beriman sujud dengan kesadaran dan cinta, sedangkan orang yang ingkar tetap tunduk pada hukum Allah (kematian, takdir, hukum alam), meski hatinya menolak.
  3. Ketundukan kosmik; Bahkan bayang-bayang pun digambarkan bersujud, artinya seluruh sistem alam tunduk pada sunnatullah.

Ternyata bukan hanya manusia yang sujud, bukan hanya orang shalih yang sujud. Seluruh alam semesta sujud.

Gunung sujud dengan kokohnya, laut sujud dengan pasang surutnya, matahari sujud dengan terbit dan tenggelamnya dan angin sujud dengan hembusannya.

Semua tunduk pada aturan Allah, tidak pernah membangkang, tidak pernah protes, tidak pernah lalai. Lalu manusia? Manusia diberi pilihan. Di sinilah letak kemuliaan sekaligus ujian.

Ada yang sujud karena iman, hatinya tunduk sebelum dahinya menyentuh sajadah. Ada yang sujud hanya karena keadaan, ketika sakit datang, ketika musibah menimpa, ketika rem blong di jalan menurun, ketika gempa mengguncang, ketika kebakaran, ketika datang angin puting beliung, ketika kematian menghampiri keluarga. Saat itu spontan lisannya berkata, “Ya Allah…” Itulah tauhid yang muncul dalam ketakutan.

Ayat ini mengajarkan bahwa pada akhirnya semua akan tunduk, yang sombong pun tunduk pada usia, yang kuat tunduk pada kelemahan dan yang kaya tunduk pada kematian.

Maka sebelum datang sujud yang terpaksa karena takdir, mari memilih sujud yang sukarela karena cinta. Karena sujud yang lahir dari iman itu menenangkan. Sujud yang dipilih, bukan dipaksa. Sujud yang dilakukan saat lapang, bukan hanya saat sempit.

Semoga kita termasuk hamba yang bersujud bukan karena terhimpit keadaan, tetapi karena sadar akan kebesaran-Nya.