Doa yang Benar Hanya kepada Allah, Selain Allah Sia-Sia

Allah Subhanahu Wata’aala berfirman;
‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

لَهٗ  دَعْوَةُ  الْحَـقِّ  ۗ وَا لَّذِيْنَ  يَدْعُوْنَ  مِنْ  دُوْنِهٖ  لَا  يَسْتَجِيْبُوْنَ  لَهُمْ  بِشَيْءٍ  اِلَّا  كَبَا سِطِ  كَفَّيْهِ  اِلَى  الْمَآءِ  لِيَبْلُغَ  فَاهُ  وَمَا  هُوَ  بِبَا لِـغِهٖ  ۗ وَمَا  دُعَآءُ  الْكٰفِرِ يْنَ  اِلَّا  فِيْ  ضَلٰلٍ

“Hanya kepada Allah doa yang benar. Berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apa pun bagi mereka, tidak ubahnya seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air agar (air) sampai ke mulutnya. Padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Dan doa orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 14)

Doa yang benar hanya kepada Allah, selain Allah sia-sia

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menjelaskan bahwa hanya Allah yang memiliki wewenang untuk mengabulkan doa yang benar. Ada pula yang menafsirkan: hanya kepada Allah saja seruan yang benar tentang ketauhidan, kemurnian, dan keikhlasan dalam ibadah. Berhala-berhala yang disembah kaum musyrik tidak dapat mengabulkan permintaan mereka sedikit pun. Meminta sesuatu kepada berhala ibarat orang yang ingin minum, tetapi hanya dengan membuka kedua telapak tangannya ke dalam air. Ia berharap supaya air itu naik sendiri ke dalam mulutnya. Padahal air itu tentu tidak akan mungkin masuk dengan sendirinya ke dalam mulutnya tanpa ditampung dulu dengan kedua telapak tangan.

Demikian pula berhala-berhala yang mereka sembah, jangankan memenuhi permintaan penyembahnya, ditanya saja mereka tidak dapat menjawab. Doa dan ibadah orang-orang kafir kepada berhala hanya sia-sia belaka. Bila mereka berdoa kepada Allah, doanya tidak dikabulkan karena mereka tidak meyakini kekuasaan-Nya. Jika mereka berdoa kepada berhala-berhala, sedikit pun mereka tidak bisa mendengar apalagi mengabulkan permintaannya.

Hanya kepada Allah doa yang benar dipanjatkan, karena selain Dia tidak mampu mengabulkan apa pun, bahkan mereka sendiri tidak dapat memberi manfaat sedikit pun.

Tadabur dari ar rad 14 ;

  1.  Tauhid yang Murni; Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah tempat bergantung. Doa bukan sekadar permintaan, tapi pengakuan bahwa kita lemah dan Allah Maha Kuasa. Ini meluruskan hati agar tidak bergantung kepada makhluk.
  2. Bahaya Ketergantungan pada Selain Allah; Segala sesuatu selain Allah itu terbatas. Jabatan, harta, manusia, bahkan diri sendiri tidak punya kuasa mutlak. Bergantung sepenuhnya kepada selain Allah pasti berujung kecewa.
  3. Ikhlas dalam Berdoa; Doa yang benar bukan hanya ditujukan kepada Allah, tetapi juga lahir dari hati yang yakin. Bukan sekadar ucapan lisan, tapi keyakinan penuh bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.
  4. Pendidikan rohani; Ayat ini mendidik kita agar : Pertama idak menyekutukan Allah dalam bentuk apa pun, kedua tidak menjadikan makhluk sebagai sandaran utama serta yang ketiga menjadikan doa sebagai kekuatan spiritual, bukan formalitas.
  5. Refleksi Pribadi; Saat sulit, siapa yang pertama kita cari? Saat takut, siapa yang paling kita harapkan? Itulah cermin tauhid kita. Insya Allah tauhid ada pada saat takut, pada saat menhadapi bahaya, yang mengaku muslim pasti Allah dan berdoa, pada saat supir menyampaikan remnya blong, pada saat gempa atau longsor setiap muslim pasti ingat Allah, pada saat kerabat ada yang meninggal pasti ingat Allah…Ya Allah…

Ketika bahaya datang, hati manusia kembali kepada fitrahnya: mengakui hanya Allah tempat bergantung. Itu adalah tanda adanya tauhid dalam diri. Namun tauhid yang sejati bukan hanya hadir saat ketakutan, melainkan tetap hidup dalam ketaatan ketika keadaan aman dan lapang.

Doa agar hati diteguhkan dalam agama

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik”

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”