Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَ الْاَ رْضِ وَلَهُ الدِّيْنُ وَا صِبًا ۗ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَـتَّـقُوْنَ
“Dan milik-Nya meliputi segala apa yang ada di langit dan di Bumi, dan kepada-Nyalah (ibadah dan) ketaatan selama-lamanya. Mengapa kamu takut kepada selain Allah?” (QS. An-Nahl 16: Ayat 52)
Segala Sesuatu Milik Allah, Mengapa Kita Takut kepada Selain-Nya?
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI bahwa Allah SWT lalu menjelaskan bahwa semua yang ada di alam ini adalah milik-Nya. Allah tidak membagi kekuasaan-Nya kepada yang lain dalam mengurus segala yang ada di langit dan di bumi. Ia tidak memerlukan pembantu ataupun serikat. Oleh sebab itu, yang berhak ditaati hanyalah Dia. Taat dalam arti yang sebenar-benarnya, ikhlas, dan tidak berkesudahan.
Dengan demikian, tidaklah benar apabila ada manusia yang bertakwa kepada selain-Nya karena tuhan-tuhan itu tidaklah mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan nikmat yang telah ada atau mendatangkan siksa. Oleh karena itu, takwa harus disandarkan hanya kepada Allah.
QS. An-Nahl 16:52 menegaskan bahwa milik Allah segala yang ada di langit dan di bumi dan hanya kepada-Nya ketaatan yang terus-menerus. Ayat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada satu pun makhluk yang memiliki kekuasaan mutlak atas kehidupan kita. Semua pada akhirnya berada dalam kepemilikan dan ketentuan Allah.
Namun dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mengalami keadaan sebaliknya. Kita takut kepada manusia: takut kehilangan jabatan, takut dimarahi atasan, takut dikritik, takut ditolak, takut kehilangan teman, takut kehilangan harta, bahkan takut kepada orang yang sebenarnya juga sama-sama makhluk Allah.
Takut secara manusiawi tentu tidak selalu salah. Kita boleh takut terhadap bahaya, ancaman, atau konsekuensi tertentu. Yang perlu direnungkan adalah ketika rasa takut kepada manusia membuat kita berani melanggar perintah Allah.
Misalnya, seseorang mengetahui sesuatu itu salah, tetapi tetap melakukannya karena takut kepada orang yang memiliki kekuasaan. Atau mengetahui sesuatu itu benar, tetapi tidak berani menyampaikannya karena takut kehilangan kedudukan. Di sinilah rasa takut perlu dikembalikan kepada proporsinya.
Manusia bisa mengancam, tetapi tidak memiliki kekuasaan mutlak. Manusia bisa memberi atau mengambil sesuatu, tetapi semuanya tetap berada dalam izin Allah.
Maka QS. An-Nahl 52 mengajarkan keteguhan hati: jangan sampai rasa takut kepada makhluk mengalahkan ketaatan kepada Khaliq.
Ada sebuah pertanyaan untuk kita renungkan:
“Siapa yang sebenarnya paling kita takutkan: manusia yang hanya memiliki kekuasaan sementara, atau Allah yang memiliki segala sesuatu?”
Tadabbur ini bukan mengajarkan kita untuk menjadi orang yang kasar, berani tanpa pertimbangan, atau tidak menghormati manusia. Justru kita tetap menghormati manusia, tetapi hati tidak boleh diperbudak oleh manusia.
Kita menghormati manusia karena Allah, tetapi kita tidak tunduk kepada manusia dengan mengorbankan ketaatan kepada Allah.
Segala sesuatu milik Allah. Karena itu, jangan biarkan ketakutan kepada makhluk membuat kita kehilangan keberanian untuk taat kepada Sang Pemilik segala sesuatu.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَوْفَنَا مِنْكَ فَوْقَ خَوْفِنَا مِنْ خَلْقِكَ، وَاجْعَلْ طَاعَتَنَا لَكَ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ رِضَا النَّاسِ
Allahumma aj‘al khaufana minka fauqa khaufina min khalqik, waj‘al tha‘atana laka ahabba ilaina min ridhan-nas.
“Ya Allah, jadikan rasa takut kami kepada-Mu melebihi rasa takut kami kepada makhluk-Mu, dan jadikan ketaatan kami kepada-Mu lebih kami cintai daripada mencari keridaan manusia.”