Nikmat Membuat Bersyukur, Ujian Membuat Bersandar

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا  بِكُمْ  مِّنْ  نّـِعْمَةٍ  فَمِنَ  اللّٰهِ  ثُمَّ  اِذَا  مَسَّكُمُ  الضُّرُّ  فَاِ لَيْهِ  تَجْئَرُوْنَ ۚ

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 53)

Nikmat Membuat Bersyukur, Ujian Membuat Bersandar

QS. An-Nahl ayat 53 sangat kuat jika ditadabburi sebagai pengingat tentang dari mana nikmat berasal dan kepada siapa kita kembali ketika diuji.

Ketika Nikmat Datang, Jangan Lupa Sumbernya

Setiap hari kita menerima begitu banyak nikmat. Kita bangun masih diberi kehidupan, dapat melihat, mendengar, berpikir, berjalan, bekerja, berkumpul dengan keluarga, memiliki rezeki, ilmu, kesempatan, bahkan kemampuan untuk beribadah.

Sering kali kita menganggap semua itu sebagai sesuatu yang biasa. Kita berkata, “Ini hasil kerja keras saya.”
Memang kita bekerja keras. Kita belajar, berusaha, merencanakan, dan berikhtiar. Tetapi siapa yang memberikan kesehatan untuk bekerja? Siapa yang memberikan akal untuk berpikir? Siapa yang membuka jalan ketika usaha kita berhasil?

QS. An-Nahl ayat 53 mengingatkan: “Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah.”

Ayat ini mengajarkan agar keberhasilan tidak membuat kita lupa kepada Sang Pemberi nikmat. Ikhtiar adalah kewajiban manusia, tetapi hasil tetap berada dalam kehendak Allah.

Yang menarik, ayat ini kemudian berbicara tentang keadaan yang berlawanan: “Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”

Ketika nikmat datang, kita sering merasa mampu. Tetapi ketika kesulitan datang, barulah kita sadar bahwa ternyata kemampuan manusia sangat terbatas.

Saat sakit, kita mencari pertolongan.
Saat usaha mengalami kesulitan, kita mencari jalan keluar. Saat keluarga menghadapi masalah, kita memohon agar Allah memberikan jalan. Saat hati terasa berat, kita kembali berdoa.

Seakan-akan kesulitan mengingatkan kita pada sesuatu yang kadang terlupakan ketika hidup sedang nyaman:

Kita membutuhkan Allah, bukan hanya ketika sedang susah, tetapi setiap saat.

Karena itu, ayat ini mengajarkan keseimbangan hati: ketika mendapat nikmat, bersyukurlah; ketika mendapat ujian, bersabarlah dan mintalah pertolongan kepada Allah.

Jangan sampai kita hanya mengenal Allah ketika membutuhkan pertolongan. Sebab sesungguhnya, sejak awal sampai akhir, seluruh kehidupan kita adalah rangkaian nikmat Allah yang membuat kita mampu menjalani setiap ujian.

Allah menciptakan ujian agar manusia menjalani, menunjukkan, dan membuktikan kualitas iman serta amalnya dalam kehidupan nyata.

Beberapa hikmahnya:

1. Untuk menguji kualitas amal
“…untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Jadi ukuran manusia bukan bebas dari masalah, tetapi bagaimana ia bersikap ketika masalah datang.

2. Untuk membedakan antara ucapan dan kenyataan iman
Allah berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)

Ujian membuat iman tidak berhenti sebagai pengakuan, tetapi terlihat dalam kesabaran, kejujuran, tawakal, dan keteguhan.

3. Untuk menguatkan dan mendewasakan manusia
Kesulitan dapat mengajarkan sesuatu yang tidak selalu bisa diperoleh dari kenyamanan: kesabaran, keteguhan, kerendahan hati, dan ketergantungan kepada Allah.

4. Untuk menguji manusia melalui dua arah: nikmat dan kesusahan
Jangan mengira hanya sakit, kehilangan, dan kesulitan yang merupakan ujian. Kesehatan, kekayaan, jabatan, keberhasilan, keluarga, dan kebahagiaan juga ujian.

Saat susah, kita diuji: “Apakah aku sabar?”
Saat senang, kita diuji: “Apakah aku bersyukur?”

5. Untuk mengembalikan manusia kepada Allah
Sering kali ketika hidup nyaman, manusia merasa tidak membutuhkan siapa-siapa. Sebaliknya, kesulitan dapat membuat hati kembali berdoa dan menyadari bahwa pertolongan sejati berasal dari Allah.

Dan ada satu hal yang sangat indah: Allah tidak menjanjikan manusia hidup tanpa ujian. Allah menjanjikan bahwa ujian itu ada dalam batas kemampuan manusia.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

“Apa yang Allah ingin ajarkan kepada saya melalui ujian ini, dan apakah saya akan keluar dari ujian ini sebagai manusia yang lebih baik?”

Nikmat mengajarkan kita untuk bersyukur, kesengsaraan mengajarkan kita untuk bersandar. Keduanya sama-sama mengantarkan kita kepada Allah.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى شُكْرِ نِعَمِكَ، وَالصَّبْرِ عَلَى بَلَائِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allahumma a’inna ‘ala syukri ni’amika, wash-shabri ‘ala bala’ika, wa husni ’ibadatik.

“Ya Allah, bantulah kami untuk mensyukuri nikmat-Mu, bersabar atas ujian-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”