Select Education Level
Please select an education level to begin registration.
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.
SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAILLAHAILLOH. WALLAHU AKBAR.
Semoga kita selalu sehat dalam lindungan Allah SWT.
Mari saling mendoakan ;
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَوَکُلَّمَا عٰهَدُوْا عَهْدًا نَّبَذَهٗ فَرِ يْقٌ مِّنْهُمْ ۗ بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُوْن
“Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Sedangkan sebagian besar mereka tidak beriman.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 100)
Sikap-sikap buruk sudah berkumpul sedemikian rupa dalam diri sebagian besar Bani Israil. Mereka adalah pendengki, keras kepala, licik, dan selalu mengingkari janji. Namun demikian, masih ada sebagian kecil dari mereka yang beriman.
Pantaslah mereka itu mengingkari ayat Allah, karena setiap mereka mengadakan perjanjian, sebagian besar mereka mengkhianati janji. Janji yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah janji mereka kepada Nabi Muhammad saw, dan janji yang mereka buat itu tidak sedikit. Tegasnya, orang-orang Yahudi mempunyai watak yang tidak setia, bahkan sebagian besar dari mereka suka menyalahi janji.
Allah menerangkan dalam ayat ini ketidakjujuran yang dilakukan orang-orang Yahudi dalam mengingkari ayat-ayat yang terdapat dalam kitab Taurat dan tidak mau menjalankan ajarannya.
Suka mengingkari janji…jangan dianggap ringan, watak Yahudi dan sifat orang munafik.
Dalam ajaran Islam, janji bukanlah masalah yang ringan atau sepele. Janji merupakan masalah besar yang berpengaruh bagi kebaikan atau kecelakaannya di dunia maupun di akhirat. Dan, janji itu akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (QS al-Isra [17]: 34).
Dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman, “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji.” (QS an-Nahl [16]: 91).
Selain itu, mengumbar janji tanpa niat untuk melakukannya termasuk perbuatan dusta. Pada suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar seorang ayah yang sedang berkata kepada anak-anaknya, “Aku akan memberikan anu dan anu kepadamu.”
Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya, “Apakah kamu berniat akan memberinya?” Dia berkata, “Tidak.” Nabi SAW bersabda, “Engkau harus memberinya atau berkata benar. Sesungguhnya Allah melarang berbuat dusta.”
Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, apakah ini termasuk dusta?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya segala sesuatu itu dituliskan. Dusta dituliskan dusta dan dusta kecil (sedikit) ditulis dusta kecil.” (HR Ahmad dan Ibnu Abu Dunya).
Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim tidak pantas baginya berperilaku banyak mengumbar janji karena janji adalah utang yang harus dipenuhi sekecil atau seringan apa pun janji tersebut.
Selain itu, bila kita banyak berjanji tapi tidak menepatinya, akan mengurangi kredibilitas diri dalam pandangan manusia. Adapun bila sengaja tidak melakukannya termasuk telah melakukan dosa besar.
Karena begitu besarnya dampak dari mengumbar janji terhadap kehidupan kita, kita harus berhati-hati dalam menjanjikan sesuatu. Jika memang sesuatu itu terasa berat dan di luar kemampuan dan kapasitas kita, selayaknya kita tidak menjanjikannya.
Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari watak orang Yahudi dan sifat munafik. Aamin.