Select Education Level
Please select an education level to begin registration.
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَمَّا بَرَزُوْا لِجَـالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ قَا لُوْا رَبَّنَاۤ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَا مَنَا وَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْکٰفِرِ يْنَ
“Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 250)
Sebagai muslim dengan keimanan yang kuat jangan merasa kecil walaupun musuh dalam jumlah besar
Allah SWT akan menolong muslim dalam menghadapi kezaliman yang dilakukan oleh kaum kafir, selama muslimnya menolong agama Allah.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
Sayyid Qutb Rahimahumullah, di dalam sebuah bukuknya, ‘Manhaj Hubungan Muslim – Non Muslim’, memberikan sebuah landasan yang sifatnya baku, bagaimana kita – kaum muslimin dalam menghadapi orang-orang kafir, secara mutlak. Al-Qur’an memberikan sebuah landasan yang dapat digunakan sepanjang zaman, khususnya dalam hal memandang, mensikapi dan menghahadapi orang-orang kafir, dan bahkan dalam bermuamalah.
Sebuah perbedaan yang bersifat mutlak dan asasiyah antara orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir, adalah berkaitan itijah (orientasi) hidup, yang sangat berbeda. Orang-orang kafir dengan kekufurannya, selalu memutarbalikkan permasalahan, tidak amanah dan berdusta. Mereka lebih memilih untuk beriman kepada hal-hal yang bathil, dan selalu menolak kebenaran, mengikuti hawa nafsu dan praduganya yang tidak memiliki dasar. Dan, kehidupan orang-orang kafir itu, semakin jauh dari petunjuk Allah.
Firman Allah Ta’ala :
“ … Katakanlah, Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun”. (all-Qur’an : an-Nisa’ : 77)
“…Maka, mengapa (sesudah nyata kebenaran),mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah? Dan, siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haq, dan tatkala haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang kafir?”. (al-Qur’an : al-Ankabut : 67-68).
Ayat-ayat diatas memperlihatkan perbedaan kehidupan antara orang kafir dengan orang mukmin, yang bersifat asasiyah (mendasar), yang menyangkut itijah. Bagi orang-orang kafir kehidupan dunia menjadi tujuan mereka, menjadi tempat kesenangan dan memuaskan hawa nafsunya, sedangkan orang-orang mukmin, menjadikan kehidupan dunia sebagai batu ujian, dan masa untuk menanam dan mencari bekal, demi kehidupan akhirat, sebagai tempat tinggal abadi.
Orang-orang kafir dalam penjara yang sangat sempit dan menghabiskan waktu mereka yang sangat terbatas. Mereka makan, menikmati hidup layaknya seekor binatang dan bahkan mereka lebih rendah dari seekor binatang. Kehidupan duniawi telah membutakan mereka dan membuat lupa akan kematian. Mereka tidak pernah meliha hakekat kehidupan yang sebenarnya dan mereka sama sekali tidak pernah menginvestasikan kebaikan dalam hidup mereka.
Inilah gambaran al-Qur’an yang sifatnya final tentang orang-orang kafir. Siapakah orang-orang kafir yang secara ekplisit di dalam al-Qur’an tak lain, yaitu orang-orang musyrik, yahudi, dan nashrani. Mereka terkena hukum tetap yang seperti diungkapkan di dalam al-Qur’an. Di dalam perspektif al-Qur’an itu, mereka membiarkan dirinya selalu dalam kemegahan, dan tertipu oleh keindahan dunia. Dan, materi merupakan keindahan yang menjadi tujuan akhir dari kehidupan mereka.
Berlindung dari kezaliman orang kafir dan berlindung dari sifat sifat kafir.
ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَا قَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَا عْفُ عَنَّا ۗ وَا غْفِرْ لَنَا ۗ وَا رْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰٮنَا فَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِ يْنَ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)