أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قَا لَ رَبِّ اِنِّيْۤ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَسْـئَلَكَ مَا لَـيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌ ۗ وَاِ لَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْۤ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِ يْنَ
“Dia (Nuh) berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.” (QS. Hud 11: Ayat 47)
Seorang nabi pun senantiasa memohon ampun, mengajarkan bahwa hamba Allah harus selalu merendah, mengakui kelemahan, dan kembali kepada-Nya.
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini diterangkan anggapan Nabi Nuh a.s. terhadap teguran Allah yang berisi penolakan atas permohonannya, agar anaknya Kanan diselamatkan dari topan. Demikianlah, setelah Nabi Nuh a.s. mengetahui dari Allah hakikat anaknya itu, maka ia memohon ampun kepada-Nya tentang kekhilafan dan kesalahannya dalam memohonkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Ia berlindung kepada Allah supaya dapat menjaga dirinya agar tidak menyampaikan permohonan yang sifatnya serupa dengan kesalahannya itu. Pada akhir permohonan ampun itu, dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, ia menyatakan penyesalannya kepada Allah. Jika kesalahannya tidak diampuni Tuhan, niscaya ia termasuk golongan orang yang merugi, sebab kesalahannya itu hanya didorong oleh perasaan kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya dan ingin supaya anaknya mendapat rahmat Allah.
Tadabbur yang bisa diambil
- Kerendahan hati seorang nabi; Nabi Nuh tidak merasa aman dari kesalahan dalam berdoa, padahal beliau maksum. Ini menegur kita yang sering lalai meminta ampun.
- Pentingnya ilmu sebelum berdoa atau meminta sesuatu; Meminta sesuatu tanpa mengetahui hakikatnya bisa berbahaya, bahkan kepada Allah sekalipun.
- Penyandaran penuh pada ampunan dan rahmat Allah; Tanpa ampunan dan rahmat Allah, bahkan nabi pun mengaku termasuk golongan yang rugi.
- Berani mengoreksi diri; Ayat ini muncul setelah Nabi Nuh memohon keselamatan anaknya, lalu Allah mengingatkan bahwa anaknya termasuk orang kafir. Nuh langsung memperbaiki sikapnya.
- Doa sebagai senjata utama orang beriman; Walaupun menghadapi ujian besar, Nuh tetap menutupnya dengan doa yang penuh tunduk dan pengakuan kelemahan.
Doa adalah senjata utama orang beriman. Salah satu yang paling sering dijadikan rujukan adalah:
1. HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 1816), dinilai hasan oleh Al-Albani
“الدعاء سلاح المؤمن وعماد الدين ونور السماوات والأرض”
“Doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, dan cahaya langit serta bumi.”
2. HR. Tirmidzi no. 3371
“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.”
3. HR. Abu Dawud no. 1479 & Tirmidzi no. 2969
“Barang siapa tidak berdoa kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”
Berikut bentuk doa yang bisa dibaca dengan makna yang sejalan dengan Hud: 47:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ، وَأَسْأَلُكَ مَغْفِرَتَكَ وَرَحْمَتَكَ، فَلَا تَجْعَلْنِي مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari meminta sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Aku memohon ampunan dan rahmat-Mu, maka janganlah Engkau jadikan aku termasuk orang-orang yang rugi.”