Orang yang Koruptif dan Manipulatif Pasti Pinter, tapi Akhlaknya Belum Tentu Mulya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَلَوْ  لَا  كَا نَ  مِنَ  الْقُرُوْنِ  مِنْ  قَبْلِكُمْ  اُولُوْا  بَقِيَّةٍ  يَّـنْهَوْنَ  عَنِ  الْفَسَا دِ  فِى  الْاَ رْضِ  اِلَّا  قَلِيْلًا  مِّمَّنْ  اَنْجَيْنَا  مِنْهُمْ  ۚ وَا تَّبَعَ  الَّذِيْنَ  ظَلَمُوْا  مَاۤ  اُتْرِفُوْا  فِيْهِ  وَكَا نُوْا  مُجْرِمِيْنَ
“Maka mengapa tidak ada di antara umat-umat sebelum kamu orang yang mempunyai keutamaan yang melarang (berbuat) kerusakan di bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang yang telah Kami selamatkan. Dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan. Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Hud 11: Ayat 116)
  • Orang yang memiliki keutamaan (pintar, cerdik dan pandai) tidak melarang berbuat kerusakan di bumi
  • Orang zalim yang mementingkan kenikmatan dan kemewahan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini Allah swt menyatakan celaan-Nya kepada orang-orang pintar, cerdik-pandai yang tidak melarang orang-orang sesamanya berbuat kerusakan di muka bumi, padahal akal sehat dan pikiran cerdas yang mereka miliki itu cukup untuk dapat mengerti dan memahami kebaikan yang diserukan oleh para rasul. Hanya sedikit saja di antara mereka yang mempergunakan akal sehat, pikiran, dan kecerdasannya, untuk melarang berbuat yang mungkar dan menyuruh berbuat yang baik. Mereka yang sedikit itulah yang diselamatkan oleh Allah.
Orang-orang dahulu yang cerdik pandai yang zalim lebih mementingkan kemewahan dan kesenangan yang berlebih-lebihan yang menyebabkan mereka itu menjadi sombong, takabur, dan fasik. Ajakan rasul kepada kebaikan ditentangnya, bahkan mereka berbuat sebaliknya. Kejahatan merebak, tidak ada seorang pun di antara mereka yang melarang orang lain berbuat yang mungkar. Oleh karena dosa yang mereka perbuat itu sudah terlalu berat, maka Allah membinasakan mereka. Firman Allah:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu). (al-Isra/17: 16)
Orang yang koruptif dan manipulatif pasti pinter, tapi ahlaknya belum tentu mulya.

“Ulul baqiyyah” = orang-orang yang memiliki keutamaan: berilmu, cerdas, bijak, berpengaruh, dan berakhlak mulia. Namun kebanyakan mereka tidak menggunakan keutamaan itu untuk mencegah kerusakan dan kemungkaran. Akibatnya, kerusakan merajalela, dan azab Allah pun turun pada negeri mereka. Yang terselamatkan hanyalah sekelompok kecil yang tetap menegakkan amar makruf nahi mungkar.

  • Orang yang pintar dan cerdik tetapi diam terhadap kezaliman atau malah menikmati kemewahan dunia, termasuk bagian dari yang menyebabkan suatu negeri binasa.
  • Mereka zalim secara sosial dan moral, karena membiarkan kebatilan tanpa peringatan.
  • Banyak “orang berilmu” yang tahu kebenaran, tetapi tidak mau bersuara melawan kezaliman, korupsi, atau perusakan lingkungan.
  • Ketika akal dan ilmu tidak digunakan untuk memperbaiki, justru ikut menikmati hasil dari sistem yang rusak, itulah tanda kehancuran moral suatu bangsa.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mencegah kerusakan dan menyeru kepada kebaikan.
Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang diam terhadap kebatilan dan ridha terhadap kezaliman.”