أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
ثُمَّ نُنَجِّيْ رُسُلَنَا وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كَذٰلِكَ ۚ حَقًّا عَلَيْنَا نُـنْجِ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban Kami menyelamatkan orang yang beriman.” (QS. Yunus 10: Ayat 103)
Orang beriman pasti diselamatkan, tidak diselamatkan di dunia, pasti diselamatkan di akhirat
Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Yunus Ayat 103
Ketika ketetapan itu datang, kami siksa orang-orang yang durhaka itu, kemudian kami selamatkan rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah ketetapan kami, yakni menjadi kewajiban kami menyelamatkan dan memberikan kemenangan kepada orang yang beriman dan menghukum orang-orang yang durhaka.
Tadabbur Surah Yunus 103
Tadabbur adalah merenungi makna terdalam dari ayat-ayat Allah, bukan hanya dari segi terjemahan, tapi juga pesan spiritual, moral, dan kehidupan. Berikut beberapa poin tadabbur dari ayat ini:
1. Janji Allah adalah Pasti: “Dan Kami selamatkan…”
🔹 Kalimat ini dalam bentuk fi’il mudhāri‘ (kata kerja sekarang/berulang) menunjukkan bahwa penyelamatan ini adalah sunnatullah yang berulang, bukan sekali-dua kali.
🔹 Ini menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan orang-orang yang beriman, di masa lalu, kini, dan masa depan.
Renungan: Jika kita beriman, Allah sudah berjanji akan menyelamatkan kita, walau situasi terlihat buruk.
2. Keselamatan yang Dimaksud Tidak Selalu Duniawi:
Allah menyelamatkan orang beriman – tapi bentuknya bisa:
•Diselamatkan dari azab dunia seperti banjir, gempa, wabah, dll (seperti kaum Nabi Nuh atau Luth).
•Diselamatkan dari kebingungan, kegelisahan, atau kerusakan akhlak.
•Atau yang paling utama: diselamatkan dari azab akhirat.
Renungan: Jangan ukur “keselamatan” hanya dengan dunia. Keselamatan terbesar adalah keselamatan iman dan akhirat.
3. Optimisme di Tengah Kehancuran
Ayat ini turun di tengah kisah-kisah tentang kehancuran kaum-kaum terdahulu. Namun, selalu ada segelintir yang diselamatkan karena iman mereka.
Renungan: Walau dunia tampak rusak atau banyak orang lalai, tetaplah berpegang pada iman. Allah melihat dan menyelamatkan siapa yang setia pada-Nya.
4. Selamat Bukan Karena Jumlah, Tapi Karena Kualitas
Tidak disebut “yang banyak beribadah” atau “yang berilmu”, tapi “yang beriman.
Renungan: Allah menilai kualitas iman, bukan status sosial, keturunan, atau popularitas.
Kesimpulan Tadabbur Yunus 103:
“Jika kita beriman , maka tak peduli sekacau apa keadaan di dunia — kita akan diselamatkan oleh Allah, di dunia atau di akhirat. Itu janji-Nya.”
“Ya Allah, selamatkanlah aku bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertakwa. Teguhkanlah aku dalam iman hingga aku berjumpa dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepadaku.”