أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَكَذَّبُوْهُ فَنَجَّيْنٰهُ وَمَنْ مَّعَهٗ فِى الْـفُلْكِ وَجَعَلْنٰهُمْ خَلٰٓئِفَ وَاَ غْرَقْنَا الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا ۚ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُنْذَرِ يْنَ
“Kemudian, mereka mendustakannya (Nuh), lalu Kami selamatkan dia dan orang yang bersamanya di dalam kapal, dan Kami jadikan mereka itu khalifah dan Kami tenggelamkan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (QS. Yunus 10: Ayat 73).
Nabi Nuh dijuluki sebagai ‘bapak kedua umat manusia’ setelah Nabi Adam.
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini diterangkan bahwa meskipun Nabi Nuh a.s. sudah mengemukakan kebenaran seruan dan ajakannya dengan alasan-alasan yang logis, namun kaumnya terus mengingkarinya dan mendustakan kerasulan-nya. Karena kemungkinan mereka beriman telah tertutup, hukuman Tuhan diturunkan kepada mereka berupa angin topan yang dahsyat serta banjir besar yang menenggelamkan mereka. Nabi Nuh dan orang-orang beriman bersamanya, diselamatkan Allah dari bencana topan itu.
Mereka naik ke sebuah bahtera yang mereka buat sebelum serangan topan itu atas petunjuk Allah. Mereka inilah yang menjadi penghuni bumi dan menggantikan kaum yang telah binasa itu yaitu mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dalam salah satu firman-Nya, Allah berkata: Dan berapa banyak kaum setelah Nuh, yang telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya. (al-Isra/17: 17)
Allah kemudian mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan berita ini kepada mereka yang terus menerus ingkar kepada Rasul. Apa yang dialami umat Nabi Nuh itu tentulah akan dialami pula oleh kaumnya bilamana mereka terus menerus mengingkari kerasulannya.
Tadabbur (Perenungan) dari Yunus: 73
1. Keselamatan hanya bagi yang beriman
- Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya.
- Ini menunjukkan bahwa iman dan ketaatan adalah satu-satunya jalan keselamatan, baik di dunia maupun akhirat.
2. Kebinasaan bagi yang mendustakan kebenaran
- Kaum Nabi Nuh yang mendustakan dan menolak peringatan akhirnya dibinasakan dengan ditenggelamkan.
- Tadabbur: Penolakan terhadap kebenaran bukan hanya salah secara moral, tapi juga mendatangkan hukuman Allah.
3. Allah menjadikan orang beriman sebagai khalifah (penerus)
- “Kami jadikan mereka sebagai khalāif” — artinya Allah memberi mereka tanggung jawab memimpin generasi setelahnya.
- Pesan penting: Orang-orang saleh akan menggantikan generasi yang rusak, menjadi pelanjut bumi dengan nilai-nilai ilahi.
4. Sejarah adalah cermin masa depan
- “Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu” — ini ajakan untuk tadabbur sejarah.
- Allah ingin kita belajar dari umat terdahulu, agar tidak mengulangi kebinasaan akibat kesombongan dan kedurhakaan.
5. Kemenangan bukan selalu dalam bentuk duniawi langsung, tapi kelanggengan pesan
- Meskipun Nabi Nuh “kalah” secara jumlah pengikut, tapi beliau berhasil menyelamatkan risalah dan umat pilihan, yang kelak menjadi cikal bakal umat manusia
- Saat kebenaran ditolak atau diabaikan, tetaplah teguh seperti Nuh.
- Jangan putus asa jika minoritas dalam kebaikan — karena yang sedikit itu justru bisa menjadi generasi penerus.
- Tetap berdakwah, sebab Allah yang akan menentukan siapa yang layak diselamatkan.
“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menyelamatkan Nuh dan pengikutnya dari kebinasaan, selamatkanlah kami dari segala fitnah dan keburukan dunia dan akhirat. Jadikanlah kami golongan yang menerima peringatan dan berpegang teguh pada ayat-ayat-Mu. Aamiin.”