أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَجَآءَهٗ قَوْمُهٗ يُهْرَعُوْنَ اِلَيْهِ ۗ وَمِنْ قَبْلُ كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِ ۗ قَا لَ يٰقَوْمِ هٰۤؤُلَآ ءِ بَنٰتِيْ هُنَّ اَطْهَرُ لَـكُمْ ۚ فَا تَّقُوْا اللّٰهَ وَلَا تُخْزُوْنِ فِيْ ضَيْفِيْ ۗ اَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَّشِيْدٌ
“Dan kaumnya segera datang kepadanya. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan keji. Luth berkata, Wahai kaumku! Inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu orang yang pandai?” (QS. Hud 11: Ayat 78)
Nabi Luth mengingatkan kaumnya agar meninggalkan perbuatan homoseksual yang keji, menjaga kehormatan tamunya, dan memilih jalan yang suci sesuai syariat dengan menikahi perempuan
Tafsir Lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan Datanglah kaum Luth kepadanya dengan bergegas-gegas seperti orang-orang yang didorong oleh hawa nafsu yang jahat. Mereka sejak dahulu mengerjakan perbuatan-perbuatan yang keji dan sangat dicela oleh tabiat manusia yang wajar, lebih-lebih oleh syariat agama. Mereka suka melakukan homoseksual, melakukan hubungan kelamin dengan sesama lelaki tidak dengan wanita, dan mereka secara terang-terangan melakukan berbagai kemungkaran di balai pertemuannya. Firman Allah:
Apakah pantas kamu mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” (al-Ankabut/29: 29)
Nabi Luth a.s. berkata, “Wahai kaumku inilah puteri-puteriku, dan puteri-puteri kaumku, silahkan kamu kawin dengan mereka. Mereka lebih suci bagimu dan kamu dapat bergaul secara halal dan baik dengan mereka daripada memuaskan seleramu dengan melakukan homoseksual yang sangat keji dan merusak moral dan kesehatan. Bertakwalah kepada Allah dan hindarilah azab Allah, dan janganlah kamu mencemarkan namaku dengan memperkosa tamu-tamuku ini, sebab menghinakan tamu sama dengan menghinakan tuan rumahnya. Tidakkah ada di antara kamu seorang yang mempunyai akal yang sehat dan kebijaksanaan yang dapat mencegahmu dari perbuatan keji?”
Dalam Hud ayat 78, Nabi Luth belum mengetahui bahwa tamunya adalah malaikat. Yang ia tahu, mereka adalah tamu manusia biasa yang datang ke rumahnya, sehingga ia sangat khawatir terhadap gangguan kaumnya yang sudah terbiasa melakukan perbuatan keji. Itu sebabnya beliau berusaha melindungi tamunya dengan cara apa pun, termasuk menawarkan putri-putri kaumnya sebagai jalan halal.
Yang tersirat dari Hud ayat 78:
1.Akhlak Nabi Luth sebagai tuan rumah → beliau sangat menjaga kehormatan tamunya, meski dalam keadaan genting.
2.Kegelisahan beliau yang mendalam → menggambarkan betapa berat menghadapi kaum yang tenggelam dalam dosa, sampai-sampai beliau berusaha mencari solusi agar mereka terhindar dari perbuatan keji.
3.Pentingnya fitrah pernikahan → ayat ini menegaskan bahwa hubungan halal dengan perempuan adalah jalan yang lurus, bukan penyimpangan hawa nafsu.
4.Ujian bagi seorang rasul → terkadang nabi pun dihadapkan pada situasi yang tampak buntu, agar tampak jelas penentangan kaumnya dan kelak layak mendapat azab.
Hud 78 mengingatkan kita, menjaga kehormatan tamu adalah bagian dari iman. Fitrah suci pernikahan harus dijaga, sementara hawa nafsu yang menyimpang hanya membawa kehinaan dan azab. Mari jaga diri dan keluarga dalam kesucian syariat
“ Ya Allah, peliharalah kami dari perbuatan keji, jauhkan keluarga kami dari penyimpangan hawa nafsu, dan jadikanlah kami penjaga kehormatan, tamu, serta martabat diri dengan cara yang Engkau ridoi. Āmīn.