Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah subhanahu wata’aala berfirman ;
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)
Mengingat Allah hati menjadi tenteram
Dalam tafsir Quraish Shihab dijelaskan bahwa orang-orang yang selalu kembali kepada Allah dan menyambut kebenaran itu adalah orang-orang yang beriman. Mereka adalah orang-orang yang ketika berzikir mengingat Allah dengan membaca al-Qur’ân dan sebagainya, hati mereka menjadi tenang. Hati memang tidak akan dapat tenang tanpa mengingat dan merenungkan kebesaran dan kemahakuasaan Allah, dengan selalu mengharap keridaan-Nya. Inti Ar-Ra’d 28 adalah:
Ketenangan hati sejati hanya datang dari mengingat Allah.
– Kekayaan tidak menjamin ketenangan.
– Jabatan tidak menjamin kedamaian.
– Dzikir kepada Allah-lah yang membuat hati stabil dan damai.
Tadabbur yang bisa diambil. Ada beberapa pelajaran mendalam dari ayat ini.
1. Manusia mencari ketenangan di banyak tempat; Orang sering mencari ketenangan melalui:
– harta
– hiburan
– popularitas
– kekuasaan
Namun ayat ini memberi pesan kuat: ketenangan hakiki tidak ada di sana, tetapi di dzikir kepada Allah. Hati manusia sebenarnya “butuh Allah”. Seperti tubuh butuh makanan, hati butuh dzikir. Kalau hati jauh dari Allah:
– mudah gelisah
– mudah takut
– mudah marah
Tetapi jika sering mengingat Allah:
– hati menjadi stabil
– sabar menghadapi ujian
– tidak mudah putus asa.
Dzikir bukan hanya ucapan. Dzikir kepada Allah mencakup:
– membaca tasbih, tahmid, tahlil
– membaca Al-Qur’an
– shalat
– mengingat Allah dalam setiap keadaan
Semua itu membuat hati hidup. Analogi dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan ikan di air.
– Selama ikan berada di air → ia hidup tenang.
– Jika ikan keluar dari air → ia gelisah dan hampir mati.
Begitu juga hati manusia.
– Jika berada dalam dzikir kepada Allah → hati tenang.
– Jika jauh dari Allah → hati gelisah.
Karena “air bagi hati manusia adalah dzikir kepada Allah.”
– Hati manusia diciptakan untuk mengenal Allah.
– Jika hati dekat dengan Allah → tenang.
– Jika jauh dari Allah → gelisah.
Karena itu Allah menegaskan:
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Banyak ayat lain dalam Al-Qur’an yang juga memerintahkan agar kita banyak mengingat Allah (berzikir).
1. Al-Ahzab 41
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir yang banyak.”
2. Al-Ahzab 42
وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
3. Al-Jumu’ah 10
“…dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
4. Al-A’raf 205
“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut…”
5. Al-Baqarah 152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kepadamu.”
Orang beriman diperintahkan banyak berdzikir karena dzikir membuat hati tenang, hidup berkah, dan Allah pun mengingat hamba-Nya.
Hadits tentang keutamaan dzikir dibanding harta dan amal yang berat; Rasulullah SAW bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian amal yang paling baik, paling suci di sisi Tuhan kalian, paling tinggi derajatnya, dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, bahkan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian memenggal leher mereka atau mereka memenggal leher kalian?” Para sahabat berkata: “Tentu.” Beliau bersabda: “Yaitu dzikir kepada Allah.” (HR. Sunan At-Tirmidzi no. 3377 – dinilai hasan sahih)
Doa Nabi untuk ketenteraman hidup;
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ النَّفْسَ الْمُطْمَئِنَّةَ
Allahumma inni as’aluka an-nafsal muthmainnah.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang.”