Manusia Boleh Memohon dengan Penuh Empati dan Harapan pada Kebaikan Orang Lain, Asalkan….

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قَا لُوْا  يٰۤاَ يُّهَا  الْعَزِ يْزُ  اِنَّ  لَهٗۤ  اَبًا  شَيْخًا  كَبِيْرًا  فَخُذْ  اَحَدَنَا  مَكَا نَهٗ  ۚ اِنَّا  نَرٰٮكَ  مِنَ  الْمُحْسِنِيْنَ

“Mereka berkata, Wahai Al ‘Aziz! Dia mempunyai ayah yang sudah lanjut usia, karena itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf 12: Ayat 78).

Manusia boleh memohon dengan penuh empati dan harapan pada kebaikan orang lain, tetapi keputusan yang benar tetap harus berdiri di atas keadilan dan ketentuan Allah, bukan semata rasa kasihan

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini dijelaskan tentang apa yang dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada al-Aziz, bahwa Bunyamin yang ditetapkan sebagai pencuri itu mempunyai ayah yang telah lanjut usia, dan tidak bisa berpisah dengannya. Bunyamin adalah pengganti saudaranya yang hilang. Oleh karena itu, mereka mengharap kepada al-Aziz agar sudi mengambil salah seorang dari mereka sebagai jaminan karena Bunyamin lebih dicintai ayahnya.

Mereka juga telah berjanji untuk menjaga keselamatan Bunyamin selama dalam perjalanan. Di samping itu, mereka pun memuji al-Aziz bahwa beliau adalah orang yang gemar berbuat baik. Pujian serupa itu tentu saja dengan maksud agar Bunyamin dibebaskan dari penahanan karena tuduhan pencurian. Mereka sebagai tamu merasa telah mendapatkan pelayanan dengan sebaik-baiknya, dan alangkah lebih sempurna jika kebaikan itu ditambah lagi dengan memenuhi permintaan mereka untuk membiarkan Bunyamin kembali kepada ayahnya yang selama ini dilanda kesedihan karena kehilangan Yusuf.

Ayat ini menceritakan ketika saudara-saudara Nabi Yusuf memohon kepada beliau agar Bunyamin tidak ditahan, dengan menawarkan salah satu dari mereka sebagai pengganti karena ayah mereka sudah tua dan sangat mencintai Bunyamin.

Beberapa pelajaran (tadabbur) penting dari ayat ini:

  1. Kasih sayang dan empati terhadap orang tua; Saudara-saudara Yusuf menyebut kondisi ayah mereka yang sudah lanjut usia. Ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan perasaan dan kondisi orang tua dalam setiap keputusan.
  2. Pengakuan terhadap kebaikan orang lain; Mereka berkata, “Sesungguhnya kami melihatmu termasuk orang-orang yang berbuat baik.” Akhlak yang baik membuat seseorang dihormati, bahkan oleh orang yang sedang terdesak.
  3. Usaha manusia tidak selalu mengubah ketetapan Allah; Meskipun permohonan mereka penuh emosi dan logika, Yusuf tetap berpegang pada keadilan. Ini mengajarkan bahwa rasa iba tidak boleh mengalahkan prinsip kebenaran.
  4. Perubahan sikap saudara-saudara Yusuf; Dulu mereka iri, dengki, dan zalim kepada Yusuf. Kini terlihat lebih lembut, bertanggung jawab, dan peduli. Taubat dan proses pendewasaan itu nyata, meski membutuhkan waktu panjang.
  5. Pemimpin yang adil tidak bertindak karena tekanan; Yusuf, sebagai penguasa, tidak menyalahgunakan wewenang atau mengambil keputusan karena rasa kasihan semata. Keadilan adalah amanah, bukan sekadar perasaan.
  6. Ujian kesabaran masih berlanjut sebelum akhir bahagia.; yat ini menunjukkan bahwa sebelum pertolongan Allah datang sepenuhnya, sering kali ujian justru memuncak terlebih dahulu.

QS. Yusuf: 78 mengajarkan keseimbangan antara belas kasih dan keadilan, pentingnya akhlak yang baik, serta keyakinan bahwa rencana Allah selalu berjalan meski manusia berusaha dengan caranya sendiri.

“Ya Allah, jadikan kami hamba yang berakhlak mulia, peka terhadap penderitaan orang lain, dan kokoh menegakkan keadilan sesuai ketentuan-Mu.”