أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمَا كَا نَ النَّا سُ اِلَّاۤ اُمَّةً وَّا حِدَةً فَا خْتَلَفُوْا ۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ لَـقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيْمَا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ
“Dan manusia itu dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu, pastilah telah diberi keputusan (di dunia) di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.”(QS. Yunus 10: 19)
Manusia awalnya satu umat satu akidah, tetapi kemudian mereka berselisih karena hawa nafsu dan berbagai faktor, termasuk godaan setan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Yang dimaksud satu umat di sini ialah satu akidah, yaitu percaya kepada Allah Yang Maha Esa, karena manusia sejak dilahirkan ke dunia telah menganut kepercayaan tauhid, Allah telah mengambil kesaksian terhadap manusia, sejak mereka dikeluarkan dari sulbi, (lihat tafsir Surah al-Baqarah/2: 213 dan al-Araf/7: 172) sebagai fitrah kejadiannya, seperti sabda Nabi Muhammad saw: “Tiap anak yang lahir itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi. (Riwayat Abi Yala, ath-thabrani dan al-Baihaqi dari al-Aswad bin Sari).
Pada mulanya, manusia hidup sederhana, dalam satu kesatuan, seakan-akan mereka satu keluarga. Akan tetapi, setelah mereka berkembang biak, terbentuklah suku-suku dan bangsa-bangsa yang berbeda-beda, baik dari sisi kepentingan maupun kemaslahatannya. Karena hawa nafsu, merekapun berselisih. Oleh karena itu, Allah mengutus kepada mereka para rasul yang menyampaikan petunjuk Allah, untuk menghilangkan perselisihan dan perbedaan pendapat di antara mereka. Para rasul itu membawa kitab yang berisi wahyu Allah. Kemudian manusia berselisih pula tentang kitab yang telah diturunkan Allah itu, sehingga terjadilah permusuhan dan pertarungan di antara mereka.
Sebagian mufasir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “manusia” dalam ayat ini ialah orang Arab. Mereka dahulu adalah pengikut-pengikut agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, agama yang mengakui keesaan Allah. Kemudian masuklah unsur syirik kepada kepercayaan mereka, sehingga sebagian mereka menyembah berhala di samping menyembah Allah dan sebagian masih tetap menganut agama Nabi Ibrahim. Terjadilah perselisihan antara kedua golongan itu.
Jika diperhatikan antara kedua pendapat ini maka tidak ada perbedaan pokok, karena pendapat pertama adalah sifatnya umum, meliputi seluruh manusia yang ada di dunia, sedangkan pendapat kedua adalah khusus untuk orang Arab saja, tetapi tidak menutup kemungkinan berlakunya untuk semua manusia. Dengan peringatan yang sangat keras dengan menyatakan bahwa seandainya belum ditetapkan oleh Allah dahulu untuk memberikan balasan yang setimpal dan adil di akhirat, maka Allah akan segera membinasakan orang-orang yang berselisih itu di dunia ini. Mereka membawa perpecahan dan permusuhan, apalagi perselisihan mereka itu tentang Kitab Allah yang sebenarnya diturunkan untuk menghilangkan perselisihan.
Kitab kitab suci yang diturunkan Allah untuk menghilangkan perselisihan, padahal untuk Allah mudah untuk membuat umat menjadi satu.
Kehendak dan kebijaksanaan Allah dalam menciptakan keberagaman serta memberikan kebebasan kepada manusia. Allah memang Maha Kuasa dan bisa saja menjadikan semua manusia satu keyakinan, tetapi dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan alasan mengapa perbedaan itu ada:
1. Ujian dan Kebebasan Berkehendak
Allah menciptakan manusia dengan akal dan kehendak bebas (ikhtiar), sehingga mereka bisa memilih antara kebenaran dan kesesatan. Jika Allah memaksa semua manusia menjadi satu dalam keyakinan, maka tidak akan ada ujian kehidupan.
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka…” (QS. Hud: 118-119)
Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan dan perselisihan adalah bagian dari ketetapan Allah, dan hanya mereka yang mendapatkan rahmat-Nya yang bisa menemukan jalan kebenaran.
2. Menguji Siapa yang Terbaik dalam Amal Perbuatan
Allah ingin melihat bagaimana manusia berusaha mencari kebenaran dan hidup dengan baik meskipun ada perbedaan.
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Dia hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan…” (QS. Al-Ma’idah: 48)
Perbedaan adalah bagian dari ujian agar manusia berusaha mencari kebenaran dan berbuat baik.
3. Agar Manusia Menggunakan Akal dan Hati
Allah menurunkan kitab-kitab suci sebagai petunjuk, tetapi tetap memberi ruang bagi manusia untuk berpikir, merenung, dan memilih jalannya sendiri.
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama. Sungguh telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…”
(QS. Al-Baqarah: 256)
Allah menghendaki agar manusia menggunakan akal dan hati untuk menemukan kebenaran, bukan sekadar dipaksa menjadi satu keyakinan.
Allah mampu menjadikan semua manusia satu keyakinan, tetapi Dia memilih memberikan kebebasan dan menguji manusia. Kitab-kitab suci diturunkan sebagai petunjuk, bukan untuk memaksa kesatuan. Perbedaan adalah bagian dari ketetapan-Nya agar manusia berusaha mencari kebenaran, berlomba dalam kebaikan, dan membuktikan keimanan mereka dengan kesadaran, bukan paksaan.
Yang penting umat Islamnya bersatu bukan semakin terpecah belah;
Semoga Allah menyatukan hati umat Islam, menjauhkan dari perpecahan, dan menjadikan kita umat yang kuat dalam keimanan dan persaudaraan.