Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لَ اِنَّـكُمْ قَوْمٌ مُّنْكَرُوْنَ
قَا لُوْا بَلْ جِئْنٰكَ بِمَا كَا نُوْا فِيْهِ يَمْتَرُوْنَ
“dia (Luth) berkata, Sesungguhnya kamu orang yang tidak kami kenal.”
“(Para utusan) menjawab, Sebenarnya kami ini datang kepadamu membawa azab yang selalu mereka dustakan.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 62 dan 63).
Kisah Nabi Luth: Antara Keraguan Kaumnya dan Kebenaran Wahyu Ilahi
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI: Menerangkan maksud kedatangan mereka, para utusan itu menjawab, “Sebenarnya Kami ini datang kepadamu tidak untuk berbuat jahat kepadamu, wahai Nabi Lut. Kami datang kemari tidak lain untuk membawa kabar buruk berupa azab pedih yang akan Allah timpakan kepada kaummu yang durhaka. Itulah azab yang selama ini selalu mereka dustakan ketika engkau menyampaikan dakwahmu kepada mereka.
Dan jangalah engkau ragukan maksud kedatangan kami. Kami datang kepadamu dengan membawa kebenaran yang membuktikan kebenaran yang engkau sampaikan kepada mereka dan kesalahan mereka menolak ajakanmu untuk beriman kepada Allah. Dan sungguh, Kami adalah orang yang benar dalam ucapan dan perbuatan kami.
Misteri Tamu Nabi Luth: Tafsir Surah Al-Hijr Ayat 62-63 dan Kabar yang Membawa Kebenaran. Kisah Nabi Luth AS merupakan salah satu narasi yang paling sering diulang dalam Al-Qur’an. Kisah ini sarat akan pelajaran moral, sosial, hingga keteguhan iman. Salah satu bagian paling penting dan menegangkan dari kisah ini ada dalam Surah Al-Hijr ayat 62 dan 63. Kedua ayat ini merupakan dialog berubahnya rasa takut seorang manusia menjadi keyakinan mutlak atas ketetapan Allah SWT.
Ketakutan dan Kewaspadaan Nabi Luth (Ayat 62)
Para tamu yang datang ke rumahnya adalah para malaikat (termasuk Malaikat Jibril) yang menjelma menjadi pemuda-pemuda yang sangat tampan dan rupawan. Di sisi lain, kaum Luth (penduduk Sodom) adalah masyarakat yang mengalami penyimpangan moral yang parah dan gemar melakukan pelecehan seksual terhadap sesama jenis.
Ketika Nabi Luth berkata, “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak kami kenal (Munkarun),” kalimat ini bukan sekadar basa-basi penolakan. Berdasarkan tafsir para ulama, ungkapan ini mengandung dua makna mendalam:
1. Rasa Asing yang Mencemaskan: Kata munkarun berarti asing atau tidak dikenali. Nabi Luth menyadari bahwa pemuda-pemuda tampan ini bukanlah penduduk setempat dan tidak punya pelindung di kota tersebut.
2. Kekhawatiran akan Keselamatan Tamu: Sebagai tuan rumah yang saleh, Nabi Luth merasa memiliki kewajiban moral untuk memuliakan dan melindungi tamunya. Namun, ia tahu betul watak keji kaumnya. Kehadiran pemuda tampan di rumahnya adalah “umpan” yang sangat berbahaya bagi syahwat liar kaum Sodom. Nabi Luth merasa cemas dan tertekan karena merasa tidak akan mampu melindungi mereka jika kaumnya datang menyerbu.
Jawaban Malaikat: Penyingkapan Identitas dan Kepastian Azab (Ayat 63)
Melihat kegelisahan dan ketakutan Nabi Luth yang begitu besar, para tamu tersebut segera menenangkan sang nabi pada ayat 63. Mereka menjawab, “Sebenarnya kami ini datang kepadamu membawa azab yang selalu mereka (kaummu) dustakan.”
Kalimat ini memuat transisi informasi yang sangat kuat melalui kata بَلْ (bal / sebenarnya/bahkan). Melalui ayat ini, para malaikat menyingkap dua hal penting:
1. Mengubah Ketakutan Menjadi Ketenangan: Para malaikat seolah berkata, “Wahai Luth, jangan takut. Kami bukan manusia lemah yang butuh perlindunganmu. Kami adalah utusan Tuhanmu.” Seketika, beban berat di pundak Nabi Luth yang takut gagal melindungi tamunya langsung sirna.
2. Kabar Kepastian Azab: Kaum Sodom sudah berkali-kali diperingatkan oleh Nabi Luth tentang siksa Allah, namun mereka selalu mengejek, meragukan, dan menantangnya (yamtarun / ragu-ragu dan mendustakan). Pada titik ini, para malaikat menegaskan bahwa waktu penangguhan (tempo) bagi kaum Sodom telah habis. Sesuatu yang selama ini mereka remehkan kini telah tiba di depan pintu rumah mereka sendiri.
Hikmah dan Pelajaran untuk Kehidupan Modern
Penggabungan Surah Al-Hijr ayat 62-63 ini memberikan kita beberapa pelajaran berharga (hikmah) yang tetap relevan hingga hari ini: Sifat Memuliakan Tamu (Dhiyafah): Nabi Luth menunjukkan standar tertinggi dalam memuliakan tamu. Meski kedatangan mereka membawa risiko keamanan yang besar bagi dirinya, ia tidak mengusir mereka, melainkan mengkhawatirkan keselamatan mereka.
Batas Akhir Sebuah Pendustaan: Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyabar, Dia memberikan waktu bagi manusia untuk bertobat. Namun, ketika peringatan demi peringatan terus mendapati pendustaan dan tantangan (seperti watak kaum Luth), maka ketetapan azab-Nya tidak akan bisa dimundurkan sedetik pun.
Pertolongan Allah Datang Tepat Waktu: Di saat Nabi Luth merasa berada di titik paling lemah dan tak berdaya untuk menghadapi kejahatan kaumnya, di situlah Allah mengirimkan penolong-Nya. Kalimat malaikat di ayat 63 adalah bukti bahwa Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya yang beriman berjuang sendirian dalam keputusasaan.
Surah Al-Hijr ayat 62 dan 63 adalah satu kesatuan dialog yang utuh tentang ketegangan dan ketenangan. Melalui dua ayat ini, Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa apa yang seringkali ditakutkan oleh manusia (ayat 62), ternyata merupakan jalan bagi Allah untuk menunjukkan keadilan dan pertolongan-Nya (ayat 63). Di balik kecemasan Nabi Luth, ada skenario besar Allah untuk menyapu bersih kezaliman dan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa.
Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Luth AS ketika menghadapi kaumnya yang melampaui batas. Doa ini sangat pas karena diambil dari esensi perjuangan beliau. Doa ini bisa dipanjatkan kalau kita berada di suatu masyarakat yang sudah melampaui batas kezaliman.
رَبِّ نَجِّنِيْ وَاَ هْلِيْ مِمَّا يَعْمَلُوْنَ
Rabbi najjini wa ahli mimma ya’malun.
“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 169)