Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا دْخُلُوْۤا اَبْوَا بَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِ يْنَ
“Maka masukilah pintu-pintu Neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Pasti itu seburuk-buruk tempat orang yang menyombongkan diri.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 29).
Ketika Kesombongan Membawa kepada Kehinaan: Jangan Sampai Neraka Menjadi Tempat Kembali
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI: Maka malaikat berkata kepada mereka, “Wahai orang kafir, masukilah pintu-pintu neraka Jahanam yang telah dijanjikan dan disiapkan sebagai tempat kembalimu beserta siksa yang amat pedih di dalamnya. Kamu tinggal dengan kekal di dalamnya. Pasti, neraka Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat orang yang menyombongkan diri.
Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya. Orang-orang yang ketika hidup di dunia berada dalam keadaan zalim terhadap dirinya sendiri, kemudian ketika kematian datang, mereka mengatakan bahwa mereka tidak pernah melakukan keburukan.
Namun Allah mengetahui semuanya. Kini, setelah kehidupan dunia berakhir, tidak ada lagi kesempatan untuk berkilah.
Mereka yang dahulu menolak kebenaran, membantah ayat-ayat Allah, merasa dirinya paling benar, dan menyombongkan diri, akhirnya diperintahkan untuk memasuki pintu-pintu Jahanam.
Kesombongan mungkin membuat seseorang merasa tinggi di dunia, tetapi dapat menjadi sebab kehinaan di akhirat. Di dunia, orang yang sombong mungkin merasa memiliki kedudukan, ilmu, jabatan, kekayaan, pengaruh, atau kekuasaan.
Ia merasa tidak membutuhkan nasihat. Ketika diberi tahu, ia membantah. Ketika dikoreksi, ia tersinggung dan ketika kebenaran datang dari orang yang dianggap lebih rendah darinya, ia menolaknya.
Kesombongan yang paling berbahaya adalah ketika seseorang menolak kebenaran karena merasa dirinya lebih tinggi daripada kebenaran tersebut.
Karena itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya masih mau menerima kebenaran ketika kebenaran itu tidak sesuai dengan keinginan saya?
Apakah saya masih mau menerima nasihat ketika nasihat itu datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau kedudukannya di bawah saya?
Apakah saya mampu mengatakan “saya salah” ketika ternyata memang saya yang salah?
Inilah ujian kesombongan.
Sebab orang berilmu bukanlah orang yang selalu merasa benar. Orang berilmu adalah orang yang bersedia tunduk ketika kebenaran telah jelas.
Sebab pada akhirnya, yang menentukan kemuliaan seseorang bukan apa yang membuatnya tinggi di mata manusia, tetapi bagaimana kedudukannya di hadapan Allah SWT.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa manusia perlu berhati-hati terhadap kesombongan yang tumbuh perlahan. Kesombongan sering kali tidak datang dalam bentuk yang terang-terangan dan datang perlahan lahan ;
“Sudah, saya lebih tahu.”
“Tidak perlu menasihati saya.”
“Siapa dia sampai berani mengkritik saya?”
“Saya sudah melakukan ini puluhan tahun.”
Pada saat inilah kita sedang kehilangan kemampuan untuk menerima kebenaran.
An-Nahl ayat 29 seakan mengajak kita melihat jauh ke depan.
Tetapi akan datang suatu hari ketika kesempatan itu berakhir.
Jangan sampai ketika datang pintu kematian, baru kita menyadari bahwa selama hidup kita terlalu sibuk mempertahankan ego, terlalu sulit menerima kebenaran, dan terlalu tinggi menempatkan diri di hadapan manusia.
Lebih baik merendahkan hati di dunia daripada direndahkan di akhirat. Lebih baik mengakui kesalahan hari ini daripada mempertanggungjawabkan kesombongan di hadapan Allah nanti.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang rendah hati, mudah menerima kebenaran, senang menerima nasihat, dan tidak meremehkan siapa pun.
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesombongan dan tipu daya diri. Kami berlindung kepada-Mu dari menolak kebenaran dan meremehkan manusia.
“Ya Allah, tutuplah kehidupan kami dengan iman. Jadikan akhir ucapan kami di dunia sebagai kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu dan lindungilah kami dari api neraka.”