Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَجَآءَ اَهْلُ الْمَدِيْنَةِ يَسْتَـبْشِرُوْنَ
قَا لَ اِنَّ هٰۤؤُلَآ ءِ ضَيْفِيْ فَلَا تَفْضَحُوْنِ
وَا تَّقُوا اللّٰهَ وَلَا تُخْزُوْنِ
“Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena kedatangan tamu itu).”
“Dia (Luth) berkata, Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan kamu mempermalukan aku.”
“dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 67, 68 dan 69).
Ketika Kerusakan Moral Menghilangkan Rasa Malu
Dalam tafsir ringkas (Ayat 67, 68 dan 69) Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa usai menggambarkan peristiwa yang akan terjadi pada kaum Nabi Lut, melalui ayat-ayat berikut Allah menceritakan suasana sebelum dialog antara Nabi Lut dengan para tamunya.
Kaum Nabi Lut melihat ada pria-pria tampan yang bertamu ke rumah Nabi Lut. Dan datanglah sejumlah pendurhaka dari penduduk kota itu, yakni Sodom yang menjadi tempat tinggal Nabi Lut, ke rumah Lut dengan gembira dan berduyunduyun karena kedatangan para tamu tampan itu. Mereka datang untuk mengajak para tamu itu melakukan hubungan homoseksual.
Melihat sikap dan gelagat para pendurhaka yang mendatangi rumahnya, Nabi Lut berkata, ya”Sesungguhnya mereka yang ada di rumahku adalah tamuku yang harus kita hormati bersama. Maka, jangan kamu mempermalukan aku dengan mengajak mereka melakukan perbuatan yang tidak senonoh.”
Melanjutkan nasihatnya, Nabi Lut berpesan, “Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Lindungi dan jagalah diri kamu dari siksa-Nya dengan menghindari perbuatan yang tidak senonoh itu. Dan janganlah sekalikali kamu membuat aku terhina akibat sikap dan perlakukan kalian kepada mereka.
QS. Al-Hijr ayat 67 akan lebih utuh dipahami jika dibaca bersama ayat 68 dan 69, karena ketiga ayat tersebut merupakan satu rangkaian peristiwa.
Jika hanya mengambil ayat 67, baru mengetahui bahwa mereka datang dengan gembira. Mengapa mereka bergembira? Penjelasannya tampak dari ayat 68–69, yaitu karena mereka berniat melakukan perbuatan keji terhadap para tamu Nabi Luth. Oleh karena itu, ayat 67–69 membentuk satu kesatuan cerita.
Adapun mengenai “kaum Sodom sudah bejat moralnya”, secara makna memang demikian. Dalam Al-Qur’an, kaum Nabi Luth digambarkan telah mengalami kerusakan moral yang sangat parah. Mereka tidak hanya melakukan penyimpangan seksual, tetapi juga menolak nasihat nabi, menantang kebenaran, dan bahkan hendak mencederai tamu Nabi Luth. Gambaran ini juga dijelaskan pada ayat-ayat lain, seperti dalam Surah Hud dan Surah Al-’Ankabut.
Inti tadabbur QS. Al-Hijr: 67–69
Kerusakan moral membuat seseorang kehilangan rasa malu, menghalalkan kemaksiatan secara terang-terangan, bahkan merendahkan kehormatan orang lain. Sebaliknya, orang beriman berkewajiban menjaga kehormatan tamu dan menegakkan ketakwaan meskipun menghadapi tekanan masyarakat.
Quran Surah Al-Hijr, ayat 67, 68 dan 69 memiliki tema yang sama, yaitu kontras antara kebejatan moral kaum Nabi Luth dengan keteguhan Nabi Luth dalam menjaga kehormatan tamu dan menyeru kepada ketakwaan.
QS. Al-Hijr ayat 67–69 memperlihatkan bahwa salah satu ciri kerusakan moral adalah hilangnya rasa malu. Kaum Nabi Luth bukan hanya melakukan kemaksiatan, tetapi juga datang beramai-ramai ke rumah beliau untuk menuntut perbuatan yang dilarang Allah. Mereka tidak lagi merasa bersalah, bahkan menjadikan dosa sebagai sesuatu yang wajar dan dilakukan secara terbuka.
Fenomena seperti ini dapat muncul dalam berbagai bentuk pada setiap zaman.
Salah satunya adalah korupsi. Ketika seseorang menyalahgunakan amanah, menikmati harta yang bukan haknya, lalu tetap tampil tanpa rasa bersalah, bahkan berusaha membenarkan perbuatannya, sesungguhnya rasa malu sebagai benteng moral telah mulai hilang. Lebih memprihatinkan lagi apabila perbuatan itu dilakukan secara berjamaah, saling melindungi, atau dianggap sebagai hal yang lumrah. Pada saat itulah kerusakan moral tidak lagi menjadi persoalan pribadi, tetapi telah berubah menjadi penyakit sosial.
Islam mengajarkan bahwa malu adalah bagian dari iman.
Rasa malu kepada Allah, malu kepada sesama manusia, dan malu kepada hati nurani akan menjaga seseorang dari perbuatan dosa, sekecil apa pun. Sebaliknya, ketika rasa malu hilang, pintu-pintu kemaksiatan akan terbuka lebar dan berbagai bentuk kezaliman akan semakin mudah dilakukan.
Doa supaya diberi keteguhan iman, sifat malu (al-ḥayā’), dan amanah;
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَازْرَعْ فِي قُلُوبِنَا الْحَيَاءَ وَالتَّقْوَى، وَطَهِّرْنَا مِنْ كُلِّ خُلُقٍ ذَمِيمٍ، وَأَعِذْنَا مِنَ الْفَوَاحِشِ وَالظُّلْمِ وَالْخِيَانَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
“Allāhumma yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wazra’ fī qulūbinā al-ḥayā’a wat-taqwā, wa ṭahhirnā min kulli khuluqin dzamīm, wa a’idznā minal-fawāḥisy waẓ-ẓulmi wal-khiyānah, waj’alnā min ’ibādikaṣ-ṣāliḥīn.
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Tanamkanlah dalam hati kami rasa malu yang lahir dari keimanan dan ketakwaan. Bersihkanlah kami dari segala akhlak yang tercela. Lindungilah kami dari perbuatan keji, kezaliman, dan pengkhianatan terhadap amanah. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh, yang menjaga kehormatan diri dan istiqamah di jalan-Mu. Āmīn.”