Ketaatan Malaikat dan Kemuliaan Adam

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاِ ذَا  سَوَّيْتُهٗ  وَنَفَخْتُ  فِيْهِ  مِنْ  رُّوْحِيْ  فَقَعُوْا  لَهٗ  سٰجِدِيْنَ

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 29)

Sujudnya malaikat kepada Adam adalah sujud penghormatan sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI: Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadian-nya dan Aku telah meniupkan roh ciptaan-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu, wahai para malaikat, dengan sukarela sebagai tanda penghormatan kamu kepadanya dengan bersujud.”

Dalam syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, sujud adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah. Lalu mengapa dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan malaikat sujud kepada Adam?

Dalam tafsir para ulama, termasuk tafsir Kemenag, sujud pada ayat ini bukan sujud ibadah, melainkan sujud penghormatan (takrim) dan pemuliaan kepada Adam atas perintah Allah.

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”(Al Hijr 29)

1. Sujud ibadah hanya untuk Allah

  • Malaikat tidak menyembah Adam.
  • Mereka tetap beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya.

2. Sujud penghormatan pernah dibolehkan pada syariat terdahulu

  • Contohnya keluarga Nabi Yusuf yang bersujud kepada beliau sebagaimana diceritakan dalam Surah Yusuf.
  • Sujud tersebut bukan penyembahan, tetapi penghormatan.

3. Dalam syariat Nabi Muhammad ﷺ hal itu sudah dilarang

  • Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa seandainya beliau boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, tentu istri akan diperintahkan bersujud kepada suaminya. Namun beliau tidak membolehkannya.
  • Ini menunjukkan bahwa sekarang segala bentuk sujud kepada selain Allah tidak diperbolehkan.

Mengapa Adam dimuliakan? Karena Allah telah:

  • Menciptakannya dengan sempurna.
  • Meniupkan ruh ciptaan-Nya ke dalam dirinya.
  • Memberinya ilmu yang tidak diketahui para malaikat.
  • Menjadikannya khalifah di bumi.

Jadi, pesan utama Al-Hijr ayat 29 bukanlah bahwa manusia boleh disujudi, tetapi bahwa Allah memuliakan manusia dan memerintahkan malaikat menghormati Adam sebagai makhluk yang diberi amanah dan ilmu. Bahkan, yang sebenarnya sedang ditaati para malaikat adalah perintah Allah, bukan Adam itu sendiri.

Manusia berasal dari tanah, tetapi Allah memuliakannya dengan ruh, ilmu, dan amanah. Karena itu manusia tidak boleh sombong karena asalnya rendah, dan tidak boleh merendahkan dirinya karena Allah telah memuliakannya

“Ya Allah, Engkau menciptakanku dari tanah dan memuliakanku dengan ruh, ilmu, dan petunjuk. Jadikanlah aku hamba yang bersyukur, rendah hati, dan mampu menjalankan amanah yang Engkau berikan.”