Kesenangan Sesaat di Dunia Hanyalah Bersifat Sementara

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

مَتَا عٌ  فِى  الدُّنْيَا  ثُمَّ  اِلَيْنَا  مَرْجِعُهُمْ  ثُمَّ  نُذِيْقُهُمُ  الْعَذَا بَ  الشَّدِيْدَ  بِمَا  كَا نُوْا  يَكْفُرُوْنَ

“(Bagi mereka) kesenangan (sesaat) ketika di dunia, selanjutnya kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka azab yang berat karena kekafiran mereka.” (QS. Yunus 10: Ayat 70)

Kesenangan sesaat di dunia hanyalah sementara, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami timpakan azab karena kekafiran mereka

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah memberikan penjelasan bahwa mereka itu memperoleh kesenangan sementara di dunia, tertipu oleh kenikmatan dunia yang fana. Kenikmatan dunia apabila dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat tidak ada artinya sama sekali. Kemudian pada hari kebangkitan mereka akan dikembalikan kepada Allah. Pada masa itulah mereka akan dikumpulkan di Padang Mahsyar, dan dimintai tanggung jawabnya atas semua perbuatan yang mereka lakukan di dunia. Kemudian Allah akan memberikan siksaan yang setimpal dengan perbuatan mereka, yaitu siksaan yang pedih yang tidak terperikan, disebabkan oleh keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan kedustaan terhadap Nabi Muhammad saw.

Tadabbur (perenungan) dari Surah Yunus ayat 70 bisa mencakup beberapa pelajaran penting yang mendalam tentang kehidupan dunia dan akhirat. Berikut poin-poin tadabbur yang bisa diambil

  1. Dunia adalah kesenangan yang sementara: “Kesenangan (hidup) dunia ini hanyalah sementara…”
    Ini mengingatkan kita bahwa kenikmatan dunia tidak abadi. Harta, kekuasaan, kesehatan, bahkan usia—semuanya fana. Maka, jangan tertipu atau terlalu terpaut pada gemerlap dunia.
  2. Akhirat adalah tempat kembali yang pasti: ”…kemudian kepada Kami-lah tempat kembali mereka.”
    Ayat ini menegaskan bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan tempat ujian sebelum kembali ke akhirat.
  3. Akan ada pertanggungjawaban atas kekafiran dan perbuatan: “Kemudian Kami rasakan kepada mereka azab yang berat karena kekafiran mereka.” Ini menjadi peringatan bahwa orang yang mengingkari kebenaran dan hidup semaunya tanpa iman akan mendapat balasan. Allah Maha Adil dan setiap amal akan dibalas.
  4. Ujian berupa kenikmatan: Ayat ini juga bisa ditadaburi bahwa kenikmatan dunia kadang justru ujian: apakah manusia bersyukur dan menggunakan nikmat itu untuk kebaikan, atau malah lalai dan menjauh dari Allah.
  5. Mengajak muhasabah: Ayat ini mendorong kita untuk mengevaluasi diri: Apakah kita terlalu cinta dunia? Apakah kita mempersiapkan akhirat? Sudahkah kita menggunakan waktu dan nikmat dengan sebaik-baiknya?

Doa:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ غَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا، وَارْزُقْنَا بَصِيرَةً فِي الدِّينِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْ مَصِيرَنَا إِلَى رَحْمَتِكَ، لَا إِلَى عَذَابِكَ.

Allahumma lā taj‘alnā mina alladzīna gharrat-humu al-ḥayātu ad-dunyā, warzuqnā baṣīratan fī ad-dīn, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atik, waj‘al maṣīranā ilā raḥmatik, lā ilā ‘adzābik.

“Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang tertipu oleh kehidupan dunia. Anugerahkan kepada kami pemahaman dalam agama, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan akhir perjalanan kami menuju rahmat-Mu, bukan menuju azab-Mu.