Kebohongan Terhadap Allah adalah Mengatasnamakan Allah Tanpa Kebenaran

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قُلْ  اِنَّ  الَّذِيْنَ  يَفْتَرُوْنَ  عَلَى  اللّٰهِ  الْـكَذِبَ  لَا  يُفْلِحُوْنَ
“Katakanlah, Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.” (QS. Yunus 10: Ayat 69)
Kebohongan terhadap Allah adalah mengatasnamakan Allah tanpa kebenaran
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada orang-orang yang mempersekutukan-Nya dengan tuhan-tuhan yang lain, atau orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak, bahwa orang-orang yang mengadakan kebodohan terhadap Allah seperti mereka itu, tidak akan beruntung karena apa yang mereka harapkan seperti keselamatan mereka dari siksaan api neraka, dan kehidupan bahagia berkat pertolongan dari patung-patung yang mereka pertuhankan, tidak akan menjadi kenyataan.
Beberapa  poin tadabbur yang dapat diambil dari ayat ini:
  1. Ancaman bagi Pemalsu Ajaran Agama; Ayat ini menegaskan bahwa siapa pun yang membuat kebohongan atas nama Allah—misalnya, menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal, atau membuat ajaran palsu seolah-olah itu dari Allah—tidak akan pernah memperoleh keberuntungan. Ini adalah peringatan keras bagi mereka yang menyebarkan ajaran agama tanpa ilmu atau dengan niat menyesatkan.
  2. Pentingnya Kejujuran dalam Menyampaikan Ajaran; Dalam konteks dakwah atau menyampaikan agama, penting sekali untuk berpegang pada kebenaran yang datang dari wahyu. Menambahkan atau mengurangi ajaran hanya demi kepentingan pribadi atau kelompok adalah bentuk kedustaan kepada Allah.
  3. Keberuntungan yang Hakiki Hanya Didapat dengan Kebenaran; Keberuntungan di dunia dan akhirat tidak akan didapat oleh orang-orang yang berdusta, apalagi berdusta atas nama Allah. Keberuntungan sejati adalah dengan mengikuti wahyu Allah dan menjauhi segala bentuk kebohongan.
  4. Relevansi Kontekstual: Kritik terhadap Musyrikin dan Orang Munafik; Ayat ini juga merupakan kritik langsung kepada kaum musyrikin Mekah yang sering kali membuat-buat aturan agama sendiri lalu mengklaim bahwa itu dari Allah. Hal ini juga bisa dikaitkan dengan praktik keagamaan masa kini yang serupa.
  5. Peringatan untuk Muhasabah Diri; Ayat ini juga bisa menjadi momen refleksi bagi setiap Muslim—apakah dalam ucapan, dakwah, atau tindakan kita, kita benar-benar merujuk pada ajaran Allah yang sahih? Ataukah kita kadang menyisipkan pendapat pribadi dan menyebutnya bagian dari agama?
Ayat ini adalah ajakan tegas untuk menjaga kemurnian ajaran agama dan menjauhi manipulasi atas nama Tuhan. Kebenaran adalah cahaya, dan kedustaan adalah kegelapan—dan Allah menegaskan, tidak ada keberuntungan bagi para pendusta.
Doa yang masyhur dan sering diamalkan untuk memohon kepada Allah agar diberikan kemampuan menyampaikan dan melihat yang hak sebagai hak, dan yang batil sebagai batil adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah.
“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya, dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.”