Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كَذٰلِكَ نَسْلُكُهٗ فِيْ قُلُوْبِ الْمُجْرِمِيْنَ
“Demikianlah, Kami memasukkannya (olok-olok itu) ke dalam hati orang yang berdosa,” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 12)
Kebiasaan memperolok kebenaran dapat menutup hati dari cahaya iman
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI bahwa ayat ini menerangkan tanggapan orang kafir terhadap Al-Qur’an. Mereka memperolok-olokkannya dan tidak menerimanya. Hal ini disebab-kan oleh sikap ingkar dan memperolok-olokkan itu telah tumbuh subur di dalam hati mereka, sehingga dalam diri mereka tidak ada lagi kesediaan menerima kebenaran.
Di dalam hati mereka, tidak ada lagi pelita yang memancarkan cahaya yang dapat menuntun dan menerangi jalan menuju kebenaran. Keadaan mereka itu sama dengan keadaan umat-umat yang dahulu menerima kitab Allah yang disampaikan oleh para rasul, namun tidak ada yang berbekas sedikit pun di dalam hati mereka.
Oleh karena itu, bagi umat yang telah diutus kepada mereka para rasul, namun mereka mengingkari seruan rasul itu, berlaku sunatullah, yaitu Allah akan membinasakan setiap orang yang mendurhakai rasul dan risalah yang disampaikannya, serta menolong dan memberi kemenangan kepada orang-orang yang menerima seruannya.
Pada suatu saat nanti, orang-orang kafir akan mengetahui kebenaran berita dan peringatan Al-Qur’an, sebagaimana yang ditegaskan dalam firman Allah SWT:
Dan sungguh, kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya (Al-Qur’an) setelah beberapa waktu lagi. (shad/38: 88)
Kebenaran berita-berita Al-Qur’an yang dimaksud ayat di atas ada yang terlaksana di dunia, seperti kebenaran janji Allah kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan menang dalam peperangan melawan kaum musyrikin, dan ada yang terlaksana di akhirat, seperti kebenaran janji Allah tentang balasan dan perhitungan yang akan dilakukan terhadap manusia di hari akhir nanti.
Tadabur yang dapat diambil dari Surah Al-Qur’an Al-Hijr ayat 12 di antaranya adalah:
1. Hati yang terbiasa menolak kebenaran akan semakin keras
Penolakan terhadap nasihat, ayat Allah, dan kebenaran yang terus diulang dapat membuat hati kehilangan kepekaan terhadap petunjuk.
2. Kebiasaan memperolok agama dapat mematikan cahaya iman
Ejekan terhadap syariat, orang saleh, atau ajaran agama bukan sekadar ucapan ringan, tetapi bisa menjadi tanda rusaknya hati dan jauhnya seseorang dari hidayah.
3. Hidayah adalah nikmat yang harus dijaga
Tidak semua orang yang mendengar kebenaran mampu menerimanya. Karena itu seorang mukmin harus selalu memohon hati yang lembut dan istiqamah di atas iman.
4. Kesombongan menjadi penghalang menerima petunjuk
Banyak orang kafir pada zaman para rasul sebenarnya memahami kebenaran, tetapi kesombongan dan hawa nafsu membuat mereka menolak.
5. Sejarah umat terdahulu adalah pelajaran
Umat-umat sebelum Nabi juga pernah mendustakan rasul, lalu datang azab Allah. Ini menjadi peringatan agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama.
6. Kebenaran Al-Qur’an pada akhirnya akan terbukti
Janji Allah pasti terjadi, baik kemenangan orang beriman di dunia maupun balasan di akhirat. Orang yang dahulu mengingkari akhirnya akan mengetahui kebenaran itu.
7. Menjaga hati lebih penting daripada sekadar banyak mengetahui
Ada orang yang mendengar ayat tetapi tidak tersentuh, karena hatinya sudah tertutup. Maka kebersihan hati sangat menentukan manfaat ilmu dan nasihat.
Jangan biarkan hati terbiasa meremehkan kebenaran, karena hati yang terus mengolok agama perlahan akan kehilangan cahaya petunjuk.
Surah Al-Qur’an Al-Hijr ayat 12 mengajarkan bahwa hidayah adalah nikmat yang harus dijaga dengan kerendahan hati, penghormatan terhadap syariat, dan kesiapan menerima nasihat. Sebab ketika hati dipenuhi kesombongan dan ejekan terhadap kebenaran, seseorang bukan hanya menjauh dari petunjuk, tetapi juga dapat kehilangan kemampuan untuk melihat mana yang hak dan mana yang batil.
Karena itu, jagalah lisan dari merendahkan agama, jagalah hati dari kesombongan, dan mohonlah kepada Allah agar tetap diberi hati yang lembut dan mudah menerima kebenaran.
“Ya Allah, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami. Lembutkan hati kami untuk menerima kebenaran, jauhkan kami dari sifat suka memperolok agama dan nasihat, serta terangilah hati kami dengan cahaya iman dan petunjuk-Mu hingga akhir hayat. Aamiin.”