أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
كَاَ نْ لَّمْ يَغْنَوْا فِيْهَا ۗ اَ لَاۤ اِنَّ ثَمُوْدَا۟ كَفَرُوْا رَبَّهُمْ ۗ اَ لَا بُعْدًا لِّـثَمُوْدَ
“seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, binasalah kaum Tsamud.” (QS. Hud 11: Ayat 68)
Kaum Tsamud mengingkari Allah SWT dan rassul sehingga dibinasakan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Sungguh dahsyat malapetaka yang ditimpakan kepada mereka, sehingga dalam sesaat saja mereka sudah musnah semuanya, seakan-akan mereka tidak pernah ada di muka bumi, seakan-akan kampung halaman mereka tidak pernah didiami oleh manusia, hilang lenyap dan musnah ditelan bencana. Semua ini akibat kedurhakaan mereka terhadap Allah dan keingkaran mereka terhadap mukjizat dan bukti-bukti yang diturunkan-Nya. Sepantasnyalah mereka mendapat kutukan dan siksaan yang dahsyat.
Kaum Tsamūd mengingkari Allah SWT itu bukan sekadar mereka tidak percaya Allah ada, tetapi:
- Menyekutukan Allah (syirik); Mereka menyembah berhala dan tidak mau mentauhidkan Allah.
- Mendustakan Rasul; Mereka menolak Nabi Ṣāliḥ ‘alaihis-salām, padahal beliau diutus langsung kepada mereka.
- Mengabaikan Tanda Kekuasaan Allah; Allah memberi mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu sebagai bukti kebenaran Nabi Ṣāliḥ. Tapi mereka tidak beriman, malah membunuh unta itu.
- Sombong dan Menentang; Mereka merasa kuat dengan peradaban dan rumah-rumah kokoh di bukit batu, lalu menolak peringatan.
Ketika azab Allah menimpa kaum Tsamūd, Nabi Ṣāliḥ `alaihis-salām dan para pengikut yang beriman telah diselamatkan oleh Allah SWT.
Allah jelaskan dalam QS. Hūd: 66: “Maka ketika datang perintah Kami, Kami selamatkan Ṣāliḥ beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami, dan (Kami selamatkan mereka) dari kehinaan di hari itu.”
– Kaum Tsamūd yang ingkar ditimpa suara dahsyat hingga mereka binasa, sehingga kampung mereka seakan tidak pernah dihuni.
– Nabi Ṣāliḥ dan pengikutnya keluar dari negeri itu dan diselamatkan Allah dengan rahmat-Nya.
Artinya, azab Allah hanya menimpa orang yang mendustakan, sementara orang beriman diberi jalan keselamatan.
Doa permohonan perlindungan dari azab Allah;
اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا خَاشِعَةً لَكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ الْمُعَانِدِينَ، وَنَجِّنَا مِنْ عَذَابِكَ كَمَا نَجَّيْتَ صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ
“Ya Allah, jadikanlah hati kami tunduk kepada-Mu, jangan Engkau masukkan kami ke dalam golongan orang yang lalai dan membangkang, dan selamatkanlah kami dari azab-Mu sebagaimana Engkau selamatkan Nabi Ṣāliḥ dan orang-orang yang beriman bersamanya.”