Karena Sifat Kemunafikannya; Karunia Allah di Depan Mata pun Lenyap

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

فَاِ نْ  رَّجَعَكَ  اللّٰهُ  اِلٰى  طَآئِفَةٍ  مِّنْهُمْ  فَا سْتَـأْذَنُوْكَ  لِلْخُرُوْجِ  فَقُلْ  لَّنْ  تَخْرُجُوْا  مَعِيَ  اَبَدًا  وَّلَنْ  تُقَا تِلُوْا  مَعِيَ  عَدُوًّا  ۗ اِنَّكُمْ  رَضِيْتُمْ  بِا لْقُعُوْدِ  اَوَّلَ  مَرَّةٍ    ۗ فَا قْعُدُوْا  مَعَ  الْخٰلـِفِيْنَ

“Maka, jika Allah mengembalikanmu (Muhammad) kepada suatu golongan dari mereka (orang-orang munafik), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi (berperang) sejak semula. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut (berperang).” (QS. At-Taubah 9: Ayat 83)

Munafikun tidak memanfaatkan karunia besar berperang dan berjihad bersama rassululoh SAW

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini Allah SWT memberikan peringatan kepada Rasulullah agar berhati-hati terhadap orang munafik bila telah kembali dari Perang Tabuk. Orang-orang munafik itu akan merencanakan minta maaf kepada Rasulullah SAW dan menyatakan penyesalan mereka karena tidak dapat turut berperang bersama Nabi ke Tabuk. Padahal mereka merasa beruntung tidak ikut perang ke Tabuk itu dan terhindar dari bahaya. Tetapi setelah Rasulullah saw bersama kaum Muslimin kembali dari medan perang dengan selamat, mereka merasa malu dan terhina, dan berjanji dalam hati mereka akan turut berperang bersama Rasulullah. Maka Allah swt mengingatkan Nabi agar orang-orang munafik itu jangan diberi izin turut serta berperang karena mereka tetap tidak akan jujur dalam peperangan. Mereka pasti akan melakukan berbagai tindakan untuk merongrong Rasulullah dan kaum Muslimin.

Oleh karena itu Rasulullah saw diperintahkan untuk menyatakan dengan tegas bahwa mereka tidak dibenarkan turut berperang bersama Rasulullah SAW untuk selama-lamanya. Mereka tidak akan sanggup memerangi musuh bersama Rasulullah seperti halnya kaum Muslimin yang dengan rela mengorbankan harta dan jiwanya untuk berperang fisabilillah. Sikap mereka sewaktu menghadapi Perang Tabuk menunjukkan bahwa mereka lebih senang tidak turut berperang dan tetap tinggal di Madinah bersama orang-orang yang uzur, seperti anak-anak, wanita-wanita, dan orang-orang tua yang sudah lemah.

Ayat tersebut berbicara tentang kaum munafik yang tidak diberikan kesempatan lagi untuk ikut berjihad bersama Rasulullah ﷺ karena sebelumnya mereka telah menyia-nyiakan kesempatan dengan berbagai alasan dan sikap munafik mereka.

Berperang bersama Rasulullah ﷺ adalah karunia besar yang hanya diberikan kepada para sahabat yang beriman. Namun, kaum munafik menyia-nyiakan karunia tersebut dan tidak memanfaatkannya dengan baik.”

Kaum munafik yang sebelumnya enggan ikut berjihad tidak akan diberi kesempatan lagi untuk bergabung dalam peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Ini merupakan bentuk hukuman atas sikap mereka yang telah menyia-nyiakan kesempatan besar tersebut.

Makna yang bisa diambil adalah bahwa kesempatan untuk mendapatkan karunia dari Allah ﷻ, seperti berjihad bersama Rasulullah ﷺ, adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak diberikan kepada semua orang. Hanya mereka yang memiliki keimanan dan ketulusan yang dapat meraihnya, sementara orang-orang munafik kehilangan kesempatan tersebut karena sikap mereka sendiri.

Ketika ada kesempatan besar, sebaiknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena belum tentu kesempatan serupa akan datang lagi di masa mendatang.”

Mengenai kondisi yang disebutkan, memang benar dalam kehidupan sering kali peluang besar tidak selalu datang dua kali. Oleh karena itu, memanfaatkannya dengan baik adalah langkah bijak.

Doa yang bisa diamalkan agar selalu berbuat baik setiap ada kesempatan:

اللهم اجعلني من الذين يسارعون في الخيرات، ووفقني لفعل الخير في كل وقت وحين، وبارك لي في عمري وعملي واجعلني من عبادك الصالحين.

“Allahumma aj‘alni mina alladhina yusari‘una fil khairat, wa waffiqni lifa‘li al-khayr fi kulli waqtin wa heen, wa barik li fi ‘umri wa ‘amali, waj‘alni min ‘ibadik as-salihin.”

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersegera dalam kebaikan. Berilah aku taufik untuk melakukan kebaikan di setiap waktu dan kesempatan. Berkahilah umur dan amalanku, dan jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.”