Jangan Tertipu oleh “Kemudahan” Dunia; Ukuran Keberhasilan di Sisi Allah, Bukan Sekadar Hasil Materi yang Fana

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
مَنْ كَا نَ  يُرِ يْدُ  الْحَيٰوةَ  الدُّنْيَا  وَ  زِ يْنَتَهَا  نُوَفِّ  اِلَيْهِمْ  اَعْمَا لَهُمْ  فِيْهَا  وَهُمْ  فِيْهَا  لَا  يُبْخَسُوْنَ
“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan.” (QS. Hud 11: Ayat 15)
Orang-orang yang hanya mengejar kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Allah akan berikan balasannya di dunia ini, tetapi mereka tidak mendapat bagian di akhirat
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Setelah menjelaskan tentang bukti-bukti kebenaran ajaran Islam dan kebenaran Al-Qur’an, maka ayat berikut ini menerangkan bahwa penyebab orang musyrik mendustakan Al-Qur’an adalah karena dorongan hawa nafsu yang cenderung mengutamakan urusan duniawi. Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dengan pangkat, kemewahan, serta kenikmatan hidup, dan menginginkan pula perhiasannya seperti harta kekayaan yang melimpah, fasilitas hidup yang lengkap dan mewah, pasti Kami akan berikan balasan penuh atas pekerjaan dan jerih payah mereka selama di dunia dengan sempurna. Itulah ketetapan Allah yang berlaku bagi siapa saja yang bekerja akan mendapatkan hasil dari jerih payahnya, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan oleh hasil usaha mereka sendiri.
Allah mengabulkan apa yang mereka upayakan—rezeki, pangkat, popularitas, atau bentuk “perhiasan” dunia lainnya. Tidak dikurangi sedikit pun: upaya duniawi mereka benar-benar dibayar tunai di sini.  Allah dapat mempermudah orang yang hanya mengejar dunia. Namun, kemudahan itu bukan tanda keridhaan ukhrawi; justru peringatan agar kita mengarahkan niat dan amal kepada Allah sehingga memperoleh bagian di dunia dan di akhirat.
Pesan utamanya: jangan tertipu oleh “kemudahan” dunia; ukur keberhasilan di sisi Allah, bukan sekadar hasil materi yang fana.
Doa agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, dan agar amal kita tidak sia-sia di akhirat:
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا إِلَى النَّارِ مَصِيرَنَا
Allāhumma lā taj‘alid-dunyā akbara hammīnā, wa lā mablagha ‘ilmīnā, wa lā ilā an-nāri maṣīranā.
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, atau batas akhir dari ilmu kami, dan jangan jadikan neraka tempat kembali kami.”