Ibrah dari QS At Taubah Tentang Perilaku Fasik

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يَحْلِفُوْنَ  لَـكُمْ  لِتَرْضَوْا  عَنْهُمْ  ۚ فَاِ نْ  تَرْضَوْا  عَنْهُمْ  فَاِ نَّ  اللّٰهَ  لَا  يَرْضٰى  عَنِ  الْقَوْمِ  الْفٰسِقِيْنَ
“Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu bersedia menerima mereka. Tetapi sekalipun kamu menerima mereka, Allah tidak akan rida kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 96)
Allah tidak akan rida kepada orang-orang yang fasik
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menegaskan sekali lagi bahwa kaum munafik itu akan bersumpah dengan nama Allah untuk meminta maaf kepada Rasulullah dan kaum Muslimin agar beliau dan kaum Muslimin rida (senang) kepada mereka serta memaafkan segala kesalahan mereka. Sesudah itu Allah menegaskan, bahwa tidak sepatutnya Rasulullah dan kaum Muslimin senang dan rida kepada kaum munafik, karena Allah sendiri tidak senang kepada kaum yang fasik.
Kemurkaan Allah kepada kaum munafik adalah disebabkan karena keingkaran dan sifat-sifat jelek mereka. Andaikata ada di antara orang-orang mukmin itu orang yang bersimpati, kepada kaum munafik maka orang itu pun akan ditimpa kemurkaan Allah.
Akan tetapi, bila kaum munafik itu bertobat dan memohon ampun kepada Allah serta meninggalkan kemunafikan dan sifat-sifat jelek mereka sebelum ajal mereka tiba, maka Allah akan menerima tobat mereka dan memberikan ampunan atas dosa-dosa yang telah mereka perbuat.
Makna “Fasik” dalam Ayat Ini
Kata “fasik” berasal dari kata “fasaqa”, yang berarti keluar dari ketaatan kepada Allah. Dalam konteks ayat ini, orang-orang fasik yang dimaksud adalah orang-orang munafik yang berpura-pura beriman, tetapi hati mereka penuh dengan kebohongan dan tipu daya.
Mereka bersumpah palsu untuk mendapatkan keridaan manusia, tetapi Allah tidak akan rida kepada mereka karena mereka telah keluar dari ketaatan dengan kemunafikan dan kedurhakaan mereka.
Pelajaran dari Ayat Ini
  1. Keridaan manusia tidak berarti keridaan Allah. Orang-orang munafik berusaha mencari keridaan manusia dengan cara yang tidak jujur, tetapi Allah tetap tidak meridai mereka.
  2. Fasik adalah sifat berbahaya. Sifat fasik mencakup kedurhakaan, kebohongan, dan pengkhianatan, yang dapat menjauhkan seseorang dari rahmat Allah.
  3. Keimanan harus tulus. Orang beriman tidak hanya harus beriman secara lisan, tetapi juga dalam hati dan perbuatan mereka.
Jadi, “fasik” dalam ayat ini merujuk kepada orang-orang yang telah menyimpang dari ketaatan kepada Allah, khususnya kaum munafik yang suka bersumpah palsu untuk menutupi niat buruk mereka.
Doa yang bisa dibaca untuk memohon keridhaan Allah SWT:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ
Allāhumma innī as’aluka riḍāka wal-jannata, wa a‘ūdhu bika min sakhaṭika wan-nār.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon keridhaan-Mu dan surga, serta aku berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan neraka.”