Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَ لَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَا زِهِمْ قَا لَ ائْتُوْنِيْ بِاَ خٍ لَّكُمْ مِّنْ اَبِيْكُمْ ۚ اَ لَا تَرَوْنَ اَنِّيْۤ اُوْفِی الْكَيْلَ وَاَ نَاۡ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ
“Dan ketika dia (Yusuf) menyiapkan bahan makanan untuk mereka, dia berkata, Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik?” (QS. Yusuf 12: Ayat 59)
Yusuf meminta saudara-saudaranya membawa saudara mereka yang seayah pada pertemuan berikutnya agar mendapat jatah makanan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menjelaskan bahwa Yusuf mengabulkan permintaan saudara-saudaranya untuk membeli barang-barang yang mereka bawa dan ditukar dengan bahan makanan. Dia kemudian memerintahkan supaya disiapkan untuk mereka 10 pikul bahan makanan dan keperluan-keperluan lain yang dibut uhkan dalam perjalanan, karena mereka berjumlah sepuluh orang, masing-masing berhak mendapat satu pikul. Tetapi mereka men-ceritakan bahwa di kampung mereka ada lagi 2 orang yang sangat memerlukan bahan makanan yaitu seorang saudara dan seorang anak yang ada ayah mereka sendiri.
Mereka memohon supaya mereka diberikan 12 pikulan sebab yang sepuluh pikulan itu hanya cukup untuk mereka saja, “Ayah kami tidak dapat datang kemari karena sudah tua dan lemah, sedangkan saudara kami sengaja kami tinggalkan untuk menjaganya dan menyenangkan hatinya.” Mendengar keterangan saudara-saudaranya itu, Yusuf berkata, “Kalau demikian bawalah saudara kalian itu kemari sebagai bukti bagi kami atas kebenaran kalian semua dan kami akan mengabulkan permintaan kalian itu.
Kami telah melihat sendiri bahan-bahan makanan yang disediakan untuk kalian semua berjumlah 10 pikulan, karena kami hanya sanggup menyerahkan satu pikulan untuk satu orang. Selain dari itu, selama di sini kalian semua sudah kami perlakukan dengan baik sebagai tamu kami karena begitulah biasanya kami memperlakukan tamu dengan sebaik-baiknya. Sekarang pulanglah kalian semua dan bawalah bahan makanan itu, kemudian datanglah kembali dengan membawa barang dagangan untuk ditukar dengan bahan makanan, tetapi dengan syarat kalian harus membawa saudara kalian sebagai bukti kebenaran dan kejujuran kalian.”
Tadabur Yusuf 59
QS. Yusuf 59 mengajarkan bahwa pelayanan terbaik kepada tamu dilakukan dengan takaran yang sempurna, sikap jujur, komunikasi yang jelas, dan niat ihsan karena Allah.
Saudara-saudara Yusuf tidak mengenali Yusuf pada pertemuan itu karena beberapa alasan kuat, baik sebab manusiawi maupun hikmah ilahi:
1. Perubahan fisik dan status yang sangat besar
Terakhir kali mereka melihat Yusuf, ia masih anak remaja. Saat bertemu kembali, Yusuf sudah menjadi orang dewasa, berpakaian kebesaran Mesir, dan memegang jabatan tinggi. Secara manusiawi, sulit membayangkan bahwa pejabat Mesir itu adalah saudara yang dulu mereka buang.
2. Perbedaan bahasa dan budaya
Yusuf berbicara dengan bahasa resmi Mesir dan berinteraksi sebagai pejabat negara. Ini menciptakan jarak psikologis yang membuat mereka tidak terpikir bahwa ia adalah Yusuf.
3. Prasangka dan rasa mustahil
Dalam pikiran mereka, Yusuf telah hilang atau meninggal sejak lama. Manusia cenderung tidak mengenali sesuatu yang dianggap mustahil terjadi.
4. Rasa takut dan fokus pada kebutuhan
Mereka datang sebagai orang yang membutuhkan makanan, penuh kecemasan dan ketundukan. Kondisi ini membuat mereka tidak memperhatikan kemungkinan lain di luar kebutuhan mendesak.
5. Hikmah dan pengaturan Allah
Al-Qur’an menegaskan bahwa Yusuf mengenali mereka, tetapi mereka tidak mengenali Yusuf. Ini menunjukkan kehendak Allah agar rangkaian peristiwa berjalan sesuai rencana-Nya, hingga tiba saat pengungkapan yang tepat.
Kesimpulan tadabur
Allah bisa menyembunyikan kebenaran yang ada di depan mata seseorang sampai waktu yang Dia kehendaki, dan hanya hati yang bersih serta waktu yang tepat yang mampu membuka pengenalan itu.
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang menyempurnakan takaran, menepati amanah, dan berbuat baik dalam setiap tanggung jawab.”