Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِلَّا عِبَا دَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ
قَا لَ هٰذَا صِرَا طٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيْمٌ
“kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.”
“Dia (Allah) berfirman, Ini adalah jalan yang lurus (menuju) kepada-Ku.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 50 dan 41)
Hamba yang Terpilih dan Jalan yang Lurus: Kunci Selamat dari Tipu Daya Iblis
Setelah Iblis bersumpah akan menyesatkan manusia dengan menghias kebatilan agar tampak indah, ia menyadari bahwa tidak semua manusia dapat ia kuasai. Karena itu ia berkata: “Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (QS. Al-Hijr: 40)
Ayat ini menunjukkan adanya golongan manusia yang mendapat perlindungan khusus dari Allah. Mereka disebut al-mukhlashin, yaitu hamba-hamba yang mengikhlaskan diri untuk Allah dan dipilih serta dijaga oleh-Nya.
Iblis dapat menggoda, membisikkan, dan menghias kemaksiatan, tetapi ia tidak memiliki kekuasaan untuk menyesatkan hamba yang benar-benar bergantung kepada Allah. Hati mereka dipenuhi keikhlasan, ketakwaan, dan kesadaran bahwa hidup ini hanya untuk mencari ridha-Nya.
Kemudian Allah menjawab: “Ini adalah jalan yang lurus (menuju) kepada-Ku.” (QS. Al-Hijr: 41)
Ayat ini menjelaskan mengapa hamba-hamba pilihan itu selamat. Mereka berada di atas jalan yang lurus, yaitu jalan iman, tauhid, ketaatan, dan keikhlasan yang mengantarkan seorang hamba kepada Allah.
Jalan yang lurus bukan sekadar mengetahui kebenaran, tetapi juga istiqamah menjalaninya. Di jalan inilah seorang hamba memperoleh petunjuk, perlindungan, dan pertolongan Allah.
Dari dua ayat ini kita belajar bahwa keselamatan dari tipu daya Iblis tidak diperoleh dengan kekuatan diri sendiri. Keselamatan diperoleh dengan menjadi hamba yang ikhlas dan tetap berada di atas jalan Allah. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin lemah pengaruh Iblis terhadap dirinya.
Karena itu, ketika menghadapi godaan dunia, syahwat, dan bisikan setan, jangan hanya berusaha menjauhi keburukan. Yang lebih penting adalah mendekat kepada Allah, memperbaiki keikhlasan, memperbanyak ibadah, serta memohon agar diteguhkan di atas jalan yang lurus.
Pelajaran utama QS. Al-Hijr: 40–41 adalah bahwa hamba yang ikhlas dan menempuh jalan Allah akan mendapatkan perlindungan yang tidak dapat ditembus oleh tipu daya Iblis.
Sering membaca ta’awudz (A’ūdzu billāhi minas-syaithānir-rajīm) dan doa dalam Al-Fatihah ayat 6 (Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm), ini upaya untuk mendapatkan perlindungan dari godaan setan dan diteguhkan dalam jalan yang lurus ;
Keduanya sejalan dengan makna QS. Al-Hijr: 40–41: selamat dari tipu daya Iblis dan tetap berada di jalan Allah.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَمِنْ شُرُورِهِمْ، وَاهْدِنِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلَصِينَ الَّذِينَ لَا سُلْطَانَ لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِمْ.
Allahumma inni a’ūdzu bika min hamazātisy-syayāṭīn wa min syurūrihim, wahdinī ilāṣ-ṣirāṭil-mustaqīm, waj’alnī min ’ibādikal-mukhlaṣīn alladzīna lā sulṭāna lisy-syaithāni ’alaihim.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan dan kejahatan setan-setan. Tunjukilah aku jalan yang lurus, dan jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang terpilih dan ikhlas, yang tidak dapat dikuasai oleh setan.”