Dipandang tidak Beragama, Jika tidak Menegakkan Ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur’an

 

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قُلْ  يٰۤـاَهْلَ  الْـكِتٰبِ  لَسْتُمْ  عَلٰى  شَيْءٍ  حَتّٰى  تُقِيْمُوا  التَّوْرٰٮةَ  وَا لْاِ نْجِيْلَ  وَمَاۤ  اُنْزِلَ  اِلَيْكُمْ  مِّنْ  رَّبِّكُمْ  ۗ وَلَيَزِ يْدَنَّ  كَثِيْرًا  مِّنْهُمْ  مَّاۤ  اُنْزِلَ  اِلَيْكَ  مِنْ  رَّبِّكَ  طُغْيَا نًا  وَّكُفْرًا  ۚ فَلَا  تَأْسَ  عَلَى  الْقَوْمِ  الْكٰفِرِ يْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Wahai Ahli Kitab! Kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan (Al-Qur’an) yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Dan apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu pasti akan membuat banyak di antara mereka lebih durhaka dan lebih ingkar, maka janganlah engkau berputus asa terhadap orang-orang kafir itu.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 68)

Dipandang tidak beragama, jika tidak menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan (Al-Qur’an)

Dalam tafsir Muhammad Quraish Shihab menjelaskan bahwa : Wahai Rasulullah, katakan kepada Ahl Al-Kitâb, “Sesungguhnya kalian tidak beragama dengan benar kecuali jika kalian menegakkan dan mengerjakan semua hukum-hukum Tawrât dan Injîl, serta beriman kepada al-Qur’ân yang telah diwahyukan kepada Rasul-Nya agar dapat menjadi petunjuk bagi manusia. Yakinlah, wahai Muhammad, bahwa kebanyakan Ahl al-Kitâb akan terus bertambah zalim, ingkar dan keras kepala terhadap al-Qur’ân disebabkan rasa iri dan dengki mereka. Maka janganlah bersedih hati terhadap mereka yang dijadikan selalu ingkar.

Asbabun Nuzul
Surat Al-Ma’idah Ayat 68

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa Rafi, Salam bin Musykam, dan Malik bin ash-Shaif (dari kaum Yahudi) berkata: “Hai Muhammad, bukankah engkau mengaku bahwa engkau mengikuti agama Ibrahim dan beriman kepada kitab yang ada pada kami (Taurat).” Rasulullah menjawab: “Benar. Akan tetapi kalian telah menyelewengkannya, kafir kepada isinya, dan kalianpun menyembunyikan apa yang diperintahkan untuk diterangkan kepada semua manusia.” Mereka berkata: “Sesungguhnya kami melaksanakan apa yang ada pada kami, serta mengikuti petunjuk dan kebenaran.” Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 68) sebagai penegasan bahwa mereka itu tidak mengikuti ajaran sebenarnya.

Dianggap tidak beragama dan dianggap sebagai milah, millah atau syarie’ah itu maknanya lebih mengarah kepada implementasi dari suatu cita-cita/tujuan perjuangan (ideologi), semacam visi dan bukan agama

وَلَنْ  تَرْضٰى  عَنْكَ  الْيَهُوْدُ  وَلَا  النَّصٰرٰ ى  حَتّٰى  تَتَّبِعَ  مِلَّتَهُمْ  ۗ قُلْ  اِنَّ  هُدَى  اللّٰهِ  هُوَ  الْهُدٰى  ۗ وَلَئِنِ  اتَّبَعْتَ  اَهْوَآءَهُمْ  بَعْدَ  الَّذِيْ  جَآءَكَ  مِنَ  الْعِلْمِ  ۙ مَا  لَـكَ  مِنَ  اللّٰهِ  مِنْ  وَّلِيٍّ  وَّلَا  نَصِيْرٍ

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti millah mereka. Katakanlah, Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 120)

Doa perlindungan menghadapi orang orang kafir ;

ۗ رَبَّنَا  لَا  تُؤَاخِذْنَاۤ  اِنْ  نَّسِيْنَاۤ  اَوْ  اَخْطَأْنَا  ۚ رَبَّنَا  وَلَا  تَحْمِلْ  عَلَيْنَاۤ  اِصْرًا  كَمَا  حَمَلْتَهٗ  عَلَى  الَّذِيْنَ  مِنْ  قَبْلِنَا  ۚ رَبَّنَا  وَلَا  تُحَمِّلْنَا  مَا  لَا  طَا قَةَ  لَنَا  بِهٖ  ۚ وَا عْفُ  عَنَّا  ۗ وَا غْفِرْ  لَنَا  ۗ وَا رْحَمْنَا  ۗ اَنْتَ  مَوْلٰٮنَا  فَا نْصُرْنَا  عَلَى  الْقَوْمِ  الْكٰفِرِ يْنَ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)