Ciri Musyrik; Lebih Taat Nenek Moyang daripada Petunjuk Allah SWT

Mushaf Al Qur'an

‎بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

‎ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

‎سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ ذَا  قِيْلَ  لَهُمُ  اتَّبِعُوْا  مَاۤ  اَنْزَلَ  اللّٰهُ  قَا لُوْا  بَلْ  نَـتَّبِعُ  مَاۤ  اَلْفَيْنَا  عَلَيْهِ  اٰبَآءَنَا   ۗ اَوَلَوْ  كَا نَ  اٰبَآ ؤُهُمْ  لَا  يَعْقِلُوْنَ  شَيْئًـا  وَّلَا  يَهْتَدُوْنَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab, (Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya). Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 170)
Lebih taat pada nenek moyang

Allah Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang musyrik. Jika mereka diperintah untuk mengikuti wahyu Allah dan sabda Rasul-nya, mereka malah tetap ingin mengikuti (taklid) pada nenek moyang mereka. Mereka tidak mau beriman kepada para nabi. Padahal nenek moyang mereka tidak berada di atas ilmu dan tidak berada di atas petunjuk. Intinya, mereka cuma beralasan saja tidak mau menerima kebenaran.

Kalau memang kebenaran yang mereka cari, tentu kebenaran yang akan jadi tujuan dan kebenaran itu akan ditampakkan lalu diikuti. Demikian yang dipaparkan oleh Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya.
Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa yang diajak untuk diikuti adalah untuk bertauhid dan menghalalkan yang thayyib (yang halal).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, ikutilah apa yang diwahyukan oleh Allah pada Rasul-Nya dan tinggalkanlah kesesatan dan kejahilan (tidak punya ilmu). Namun mereka menjawab bahwa mereka tetap mengikuti ajaran nenek moyang mereka untuk menyembah berhala. Allah pun membantah mereka bahwa nenek moyang yang mereka ikuti sebenarnya tidak berada di atas petunjuk.

Dua faedah penting disampaikan oleh Syaikh Abu Bakr Al-Jazairy dalam Aysar At-Tafasir,
1. Diharamkan untuk mengikuti orang yang tidak berada di atas ilmu dan tidak punya pandangan dalam agama.
2. Dibolehkan mengikuti (taklid pada) orang berilmu dan mengambil pendapat mereka yang bersumber dari wahyu ilahi yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah.

(QS 2:170) Allah Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang musyrik. Jika mereka diperintah untuk mengikuti wahyu Allah dan sabda Rasul-nya, mereka menolaknya, lebih mentaati nenek moyangnya, sebagai muslim sami’na wa a’thona, kami dengar kami laksanakan dan bersegera dalam kebaikan ;

اُولٰٓئِكَ  يُسَا رِعُوْنَ  فِيْ  الْخَيْـرٰتِ  وَهُمْ  لَهَا  سٰبِقُوْنَ
“mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 61)

Ya Allah jadikanlah kami diantara hamba-hamba-Mu yang menyegerakan diri dalam kebaikan…