Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّلْمِزُكَ فِى الصَّدَقٰتِ ۚ فَاِ نْ اُعْطُوْا مِنْهَا رَضُوْا وَاِ نْ لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَاۤ اِذَا هُمْ يَسْخَطُوْنَ
“Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah (zakat); jika mereka diberi bagian, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 58)
Lebih mementingkan diri sendiri dan lebih senang menerima bagian
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Sabab Nuzul: Abu Said al-Khudri meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah saw membagi sedekah, datang Ibnu Zi al-Khawaisirah at-Tamimi, dia berkata, “Berbuat adillah wahai Rasulullah.” Nabi menjawab, “Celaka kamu! Siapa lagi yang akan berbuat adil kalau saya tidak adil?” Umar berkata, “Izinkan aku penggal lehernya!” Nabi menjawab, “Biarkan, dia banyak teman. Sebagian kamu menghina salatnya dengan salat kamu, puasanya dengan puasa mereka. Meninggalkan agama seperti anak panah menginggalkan busurnya.” Maka turunlah ayat ini. (Riwayat al-Bukhari).
Ayat ini menerangkan adanya beberapa orang munafik yang mencela Nabi Muhammad mengenai kebijaksanaan beliau membagi-bagi zakat kepada orang-orang yang patut menerimanya. Dalam usaha untuk menghambat perkembangan Islam, mereka mengada-adakan tuduhan palsu yang mereka tujukan kepada Nabi Muhammad dengan maksud mempengaruhi orang-orang Islam yang masih lemah imannya. Mereka menuduh bahwa Nabi Muhammad tidak berlaku adil, berat sebelah, pilih kasih dalam membagikan zakat.
Orang-orang munafik itu jika mereka diberi zakat oleh Nabi, mereka menerimanya dan diam seribu bahasa meskipun mereka tidak termasuk golongan yang patut menerimanya disebabkan mereka hanya berpura-pura miskin dan manakala tidak diberi oleh Nabi karena tidak termasuk golongan yang berhak menerima zakat, mereka segera menjadi marah dan membuat tuduhan terhadap Nabi. Sikap demikian menunjukkan bahwa mereka hanyalah memikirkan kepentingan diri sendiri.
Lebih mementingkan diri sendiri dan lebih senang menerima bagian, ini sifat munafik berbeda dengan sifat orang mukmin, tangan di atas lebih baik, memberi lebih baik dibandingkan mendapatkan bagian.
Dalam Islam, sifat memberi lebih diutamakan dibandingkan menerima, karena menunjukkan keikhlasan, kepedulian, dan sifat rendah hati. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, orang yang memberi (tangan di atas) lebih baik daripada orang yang meminta atau hanya menerima (tangan di bawah). Hal ini menunjukkan pentingnya sifat kedermawanan, keikhlasan dalam berbagi, dan semangat untuk membantu sesama.
Sebaliknya, sifat lebih mementingkan diri sendiri dan merasa senang hanya menerima bagian tanpa usaha untuk berbagi adalah tanda kurangnya iman yang sempurna. Orang mukmin sejati akan selalu berusaha memberi manfaat kepada orang lain, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad)
Memberi juga menjadi sarana untuk memperkuat iman, mempererat ukhuwah, dan memperoleh keberkahan rezeki, karena Allah menjanjikan balasan berlipat ganda bagi mereka yang bersedekah dengan hati yang ikhlas.
Doa Supaya Bermanfaat untuk Orang Lain:
اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ يَنْفَعُ النَّاسَ بِعِلْمِهِ وَعَمَلِهِ وَرِزْقِهِ
Allahumma aj‘alnī mimman yanfa‘u an-nāsa bi ‘ilmihi wa ‘amalihi wa rizqihi.
Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang memberi manfaat kepada manusia dengan ilmuku, amalanku, dan rezekiku.”