أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَوْ اَنَّهُمْ رَضُوْا مَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ ۙ وَقَا لُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ سَيُؤْتِيْنَا اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ وَ رَسُوْلُهٗ ۙ اِنَّاۤ اِلَى اللّٰهِ رٰغِبُوْنَ
“Dan sekiranya mereka benar-benar rida dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Allah dan Rasul-Nya, dan berkata Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya kami orang-orang yang berharap kepada Allah.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 59)
Rida dan bersyukur terhadap ketentuan Allah SWT
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Jika mereka beriman kepada Allah dengan sebenarnya tentulah mereka tidak akan mencela atau membuat tuduhan terhadap Rasul. Seharusnya mereka rida dan bersyukur kepada Allah terhadap pembagian harta itu, baik mengenai pembagian harta rampasan maupun zakat. Mereka meyakini bahwa Allah merupakan tempat memohon dan yang akan memberikan rahmat dan rezeki kepada makhluk-Nya.
Ayat ini memberikan pelajaran penting tentang sikap rida dan bersyukur terhadap ketentuan Allah SWT.
1. Rida (رضى), berarti menerima dengan sepenuh hati atas apa pun yang Allah tetapkan, baik itu nikmat ataupun ujian. Adapun ciri-ciri ridha sebagai berikut:
- Tidak ada keluhan atau keberatan dalam hati.
- Memahami bahwa segala sesuatu adalah bagian dari hikmah dan kasih sayang Allah.
- Dinyatakan dalam ayat ini dengan sikap mereka yang seharusnya “rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya.”
- Contoh dalam konteks ayat: Orang-orang munafik dalam ayat ini seharusnya merasa rida terhadap pembagian harta ghanimah oleh Rasulullah SAW, karena itu adalah ketentuan Allah melalui Rasul-Nya.
2. Syukur (شكر), Bersyukur adalah mengakui nikmat Allah, merasakan kebahagiaan atas pemberian tersebut, dan menggunakannya di jalan yang diridai-Nya. Adapun ciri-cirinya :
- Ungkapan terima kasih kepada Allah, baik melalui lisan, hati, maupun perbuatan.
- Menyadari bahwa apa yang kita miliki adalah karunia-Nya.
- Dalam ayat ini, sikap syukur ditunjukkan dengan berkata, “Cukuplah Allah bagi kami. Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya.”
- Contoh dalam konteks ayat: Mereka yang bersyukur akan merasa cukup (qana’ah) dengan apa yang Allah berikan, tanpa tamak atau iri hati kepada orang lain.
Perbedaan:
– Rida lebih kepada penerimaan batin tanpa protes terhadap takdir Allah, baik nikmat maupun ujian.
– Syukur adalah tindakan aktif untuk mengungkapkan rasa terima kasih atas nikmat yang diterima, dengan menggunakannya di jalan yang benar.
Kedua sikap ini saling melengkapi. Dalam ayat ini, Allah mengajarkan bahwa dengan rida dan syukur, seseorang akan mencapai kebahagiaan dan keimanan yang lebih tinggi.
Doa supaya mempunyai sifat Rida dan Syukur:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الرَّاضِينَ بِقَضَائِكَ، وَالشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، وَالصَّابِرِينَ عَلَى بَلَائِكَ
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang rida terhadap ketetapan-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu, dan sabar menghadapi ujian-Mu.”