Select Education Level
Please select an education level to begin registration.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
زُ يِّنَ لِلنَّا سِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَا لْبَـنِيْنَ وَا لْقَنَا طِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَا لْفِضَّةِ وَا لْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَا لْاَ نْعَا مِ وَا لْحَـرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَا عُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَا للّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰ بِ
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 14)
Perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan yang bagus dan terlatih, hewan ternak, dan sawah ladang, atau simbol-simbol kemewahan duniawi lainnya. Itulah kesenangan hidup di dunia yang bersifat sementara dan akan hilang cepat atau lambat, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik, yaitu surga dengan segala keindahan dan kenikmatannya. Hal-hal yang disebut di atas adalah baik dan sesuai dengan naluri manusia, tetapi ada yang lebih baik dari itu semua, akhirat jauh lebih baik.
وَا لْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ وَّ اَبْقٰى
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la 87: Ayat 17)
Jangan terlalu mencintai dunia atau menumpuk harta karena, siapapun yang suka menumpuk harta maka dia akan diuji dengan lima perkara
Pertama panjang angan-angan punya ini, ingin ini, dapat ini, mau ini…
yang kedua tamak, rakus
yang ketiga pelit, bakhil, kedekut tak mau berbagi pada orang lain
yang keempat lupa pada akhirat.
yang kelima tidak ada wara (sagala digabreus)
Wara adalah meninggalkan yang meragukan, mengambil yang lebih terpercaya, mengarahkan diri kepada yang lebih hati-hati. Singkatnya, wara adalah menjauhi yang syubhat.
Dalam ajaran Islam, sikap wara menempati tempat yang tinggi lagi mulia. Ia bagian dari ketakwaan yang mana takwa tidak akan tercapai kecuali diiringi sikap wara. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba tidak bisa mencapai derajat takwa sehingga ia meninggalkan yang tidak dilarang karena khawatir dari sesuatu yang dilarang.”
Sebagian ulama membagi wara kepada tiga tingkatan. Pertama, meninggalkan yang haram, dan ini umum untuk seluruh manusia. Kedua, menahan diri dari yang syubhat, ini dilakukan oleh sebagian kecil manusia. Ketiga, meninggalkan kebanyakan perkara yang mubah dengan mengambil yang benar-benar penting saja, ini dilakukan oleh para Nabi, orang-orang yang benar (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh.
Ketika seseorang telah sampai pada maqam wara, ia akan menjadi orang yang ahli ibadah. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara, maka engkau akan menjadi sebaik-baiknya ahli ibadah. Jadilah orang yang qanaah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah), maka engkau akan menjadi orang yang benar-benar bersyukur. Sukailah sesuatu pada manusia sebagaimana engkau suka jika ia ada pada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi seorang Mukmin yang baik. Berbuat baiklah pada tetanggamu, maka engkau akan menjadi Muslim sejati. Kurangilah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR Ibnu Majah).
Selain itu, terjaganya agama dan kehormatan. “Barang siapa yang selamat dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.” (Syarh Muslim, 11: 28).
Upaya yang dapat dilakukan agar meraih sifat wara adalah dengan meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna dan meragukan. Imam al-Bukhari mengutip perkataan Hasan bin Abu Sinan RA, “Tidak ada sesuatu yang lebih mudah daripada sifat wara, tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Begitu juga terhadap hal di mana hati mengingkarinya.” Ibnu ‘Asakir berkata, “Sesuatu yang diingkari hatimu, maka tinggalkanlah.”
Semoga kita menjadi umattan washatan, umat yang mengambil jalan tengah, mencintai dunia, tapi akhirat lebih baik, tidak kikir dan tidak boros, tidak berlebihan sekaligus tidak berkekurangan.