Balasan untuk Orang yang Bersyukur (2)

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَكَاَ يِّنْ  مِّنْ  نَّبِيٍّ  قٰتَلَ   ۙ مَعَهٗ  رِبِّيُّوْنَ  كَثِيْرٌ   ۚ فَمَا  وَهَنُوْا  لِمَاۤ  اَصَا بَهُمْ  فِيْ  سَبِيْلِ  اللّٰهِ  وَمَا  ضَعُفُوْا  وَمَا  اسْتَكَا نُوْا   ۗ وَا للّٰهُ  يُحِبُّ  الصّٰبِرِ يْنَ
“Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 146)

(QS Ali Imran 144 & 145; Allah memberi balasan bagi orang orang yang bersyukur).
(QS Ali Imran 146 Allah mencintai orang sabar).

syukur dan sabar

Syukur dan sabar, dua kata yang sangat mudah diucapkan namun terasa teramat sulit ketika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun bila semua itu dikembalikan kepada bagaimana kita harus bersikap sebagai seorang muslim, tentu saja ini akan terasa mudah dan indah pada saatnya.

Sebab ini semua ternyata memiliki implementasi yang sangat erat dengan kehidupan sehari-hari seorang muslim.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”.

Bila kita telaah lebih mendalam, hadis yang agung ini, menunjukkan betapa sangat luar biasanya bila seseorang bersyukur di saat senang, sebaliknya mampu pula bersabar di kala mendapat kesusahan atau musibah.

Harus diakui, kedua sifat ini sejatinya merupakan penyempurna keimanan seorang hamba, atau dengan kata lain sebagai salah satu wujud penghambaan kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Tak heran jika penerapannya di kehidupan sehari-hari, syukur dan sabar ini kerap berjalan beriringan seia sekata. Ibarat dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan satu dengan lainnya.

Sehingga pada saat seseorang mengalami kesulitan atau kesusahan, sejatinya di situ terdapat hikmah yang harus diambil oleh orang yang bersangkutan.

Seseugguhnya syukur dan sabar mampu menata manajemen kalbu seorang muslim, agar dia semakin bertakwa dan bertawakal kepada Allah SWT.

Dalam Al-Quran, Allah memuji secara khusus hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan tanda-tanda kemahakuasaan Allah.

Sebagaimana firman-Nya dalam QS Luqmaan: 31 yang artinya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemehakuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur”.

Terlepas dari berbagai kondisi tersebut, sesungguhnya kehidupan seorang mukmin seluruhnya bernilai kebaikan dan pahala di sisi Allah, baik dalam kondisi yang terlihat membuatnya senang atau pun ketika dirinya sedang dalam keadaan susah sekalipun.

Seorang hamba yang sempurna imannya akan selalu bersyukur kepada Allah ketika senang dan bersabar ketika susah, maka dalam semua keadaan dia senantiasa rida kepada Allah dalam segala ketentuan takdir-Nya, sehingga kesusahan dan musibah yang menimpanya berubah menjadi nikmat dan anugerah baginya.*

Semoga kita termasuk orang yang bersyukur pada saat mendapatkan kesenangan dan bersabar ketika mendapatkan masalah/kesedihan.