Antara Mata yang Melihat dan Hati yang Buta: Refleksi QS. Ar-Ra’d Ayat 19

Allah subhanahu wata’aala berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 19 :
‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اَفَمَنْ  يَّعْلَمُ  اَنَّمَاۤ  اُنْزِلَ  اِلَيْكَ  مِنْ  رَّبِّكَ  الْحَـقُّ  كَمَنْ  هُوَ  اَعْمٰى  ۗ اِنَّمَا  يَتَذَكَّرُ  اُولُوا  الْاَ  لْبَا بِ

“Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal yang dapat mengambil pelajaran,” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 19).

Orang yang mengetahui kebenaran wahyu Allah tidaklah sama dengan orang yang buta terhadapnya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah swt menjelaskan bahwa tidak sama orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepada Muhammad adalah sesuatu yang nyata benarnya dan datang dari Allah dibandingkan dengan orang buta yang tidak memahami dan mempercayainya. Firman Allah: Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Quran) dengan benar dan adil. (al-Anam/6: 115)

Menurut Ibnu Abbas, ayat ini turun berkaitan dengan dua orang, yang seorang mukmin dan yang lainnya kafir, yaitu Hamzah dan Abu Jahal. Apakah (Hamzah) yang percaya dan mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw itu benar, tanpa keraguan lagi, sama dengan (Abu Jahal) yang buta hatinya, dan sama sekali tidak mendapat petunjuk kepada kebaikan? Tentu tidak sama. Hanya orang-orang yang sehat pikirannya saja yang dapat menyadari hal seperti ini, dan yang dapat mengambil manfaat dari perumpamaan-perumpamaan yang dikemukakan Allah swt dalam kitab suci-Nya.

Orang yang mengetahui kebenaran wahyu Allah tidaklah sama dengan orang yang buta terhadapnya. Perbedaannya tidak selalu tampak pada wajah, jabatan, atau kecerdasan, tetapi terlihat dalam cara ia merespon kehidupan.

Saat adzan berkumandang, keduanya sama-sama mendengar. Namun yang satu merasakan itu sebagai panggilan dari langit. Ia bergegas berwudhu, melangkah menuju shalat dengan kesadaran bahwa Rabb-nya sedang memanggil. Yang lain tetap duduk di tempatnya. Baginya itu hanya suara yang lewat. Bedanya bukan pada telinga, tetapi pada hati yang hidup oleh wahyu.

Saat kesempatan curang terbuka, keduanya sama-sama melihat peluang. Tetapi yang hidup dengan wahyu teringat akan hisab, teringat bahwa setiap rupiah akan dimintai pertanggungjawaban. Ia menahan diri walau tak ada yang melihat. Yang buta terhadap wahyu hanya melihat keuntungan dan kecerdikan. Bedanya bukan pada kecerdasan, tetapi pada kesadaran akhirat.

Ketika Ramadhan datang, bagi yang mengenal cahaya wahyu, itu bukan sekadar bulan biasa. Ia melihatnya sebagai seruan Allah, kesempatan memperbaiki diri, momen membersihkan dosa. Ia menambah ibadah dan memperbanyak taubat. Sementara yang lain hanya merasakan perubahan jadwal makan dan tidur. Bedanya bukan pada kalender, tetapi pada makna yang ditangkap jiwa.

Saat musibah menimpa, keduanya sama-sama merasakan sakit. Namun yang memahami wahyu berkata, “Ini ujian dari Allah, pasti ada hikmah di dalamnya.” Ia bersabar dan mencari pelajaran. Sedangkan yang buta terhadap wahyu melihatnya sebagai kesialan dan menyalahkan keadaan. Bedanya bukan pada peristiwa, tetapi pada cara memandangnya. Akhirnya jelaslah: Yang hidup dengan wahyu memiliki arah, sedangkan yang buta terhadapnya hanya berjalan mengikuti arus.

Kebenaran sejati bukanlah hasil suara terbanyak, bukan pula sekadar warisan kebiasaan atau logika manusia semata. Kebenaran yang hakiki bersumber dari Allah SWT Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi. Dialah yang menurunkan wahyu sebagai cahaya penuntun, pembeda antara yang haq dan yang batil, antara jalan keselamatan dan jalan kesesatan.

Tugas kita bukan menciptakan kebenaran, tetapi mencarinya dengan hati yang jujur, menerimanya dengan lapang dada, dan mengikutinya dengan penuh ketundukan. Karena seringkali yang berat bukan mengetahui mana yang benar, melainkan berani berpihak kepada kebenaran itu.

Maka kita memohon kepada Allah, agar diberikan hati yang jernih untuk melihat kebenaran sebagai kebenaran, dan kekuatan untuk mengikutinya. Serta ditunjukkan kebatilan sebagai kebatilan, dan dijauhkan dari terjerumus ke dalamnya.

Doa Memohon Keteguhan dalam Kebenaran

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah,
wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah.

“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan anugerahkanlah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan serta anugerahkanlah kami kemampuan untuk menjauhinya