Allah SWT Menyukai Umat yang Suka Berataubat

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَّا سْتَغْفِرِ  اللّٰهَ   ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  كَا نَ  غَفُوْرًا  رَّحِيْمًا

“Dan mohonkanlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 106)

‎ ۗ غَفُوْرٌ  رَّحِيْمٌ = Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Puluhan ayat yang ujungnya menyebutkan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Manusia menyerahkan dirinya dengan taubat nasuha dan terus memperbaiki diri, maka setelah itu ia pasti merasakan bahwasannya Allah-lah Maha Penyayang.

Syarat taubat di antaranya adalah bertekad tidak mau mengulangi dosa itu lagi. Taubat yang sungguh-sungguh adalah bertekad tidak ingin mengulangi perbuatan dosa lagi. Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan taubat yang tulus,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Ketika Allah menciptakan makhluk, maka Dia menuliskan dalam kitab-Nya (Lauhul Mahfudz) di sisi-Nya yang berada di atas Arsy dan ia berfirman, ‘Sesunggunya, rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku,” (HR Bukhari dan Muslim)

Menurut Abu Usamah Salim bin Idul Hilali dalam Bahjatun Nazirina Syaru Riyadis Shalihina, hadits tersebut memiliki beberapa faidah, di antaranya pertama, sebagai bukti bahwa Allah Maha Tinggi di atas makhluk-Nya. Dia berada di atas Arsy terpisah dari makhluknya. Kedua, menetapkan bahwa Allah memiliki sifat rahmat (kasih sayang) dan murka.

Dua sifat ini tidak boleh ditakwilkan dengan kehendak memberikan pahala dan hukuman. Menerangkan bahwa rahmat Allah sangat luas meliputi semua hamba-Nya, tanpa pilih kasih dan rahmat Allah mengalahkan murka-Nya.

Kesalahan dan dosa memang tempatnya manusia, tapi selalu ada Allah Yang Maha Pengampun dosa yang senantiasa menanti pertaubatan semua hamba-Nya. Tetaplah berkhusnudzan akan kebaikan-Nya; sebab rahmat Allah, mengalahkan murka-Nya.

Allah sangat suka pada hamba-Nya yang bertaubat. Sampai-sampai Allah lebih bergembira dibanding seseorang yang kehilangan hewan tunggangannya yang membawa bekalnya, lalu hewan tersebut tiba-tiba datang lagi kembali.
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshori, pembatu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ
“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747).

Doa Memohon Ampun dan Istiqamah

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Ali-Imran [3]: 147)