أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قَا لُوْا يٰلُوْطُ اِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَّصِلُوْۤا اِلَيْكَ فَاَ سْرِ بِاَ هْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ الَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ اَحَدٌ اِلَّا امْرَاَ تَكَ ۗ اِنَّهٗ مُصِيْبُهَا مَاۤ اَصَا بَهُمْ ۗ اِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۗ اَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِ يْبٍ
“Mereka (para malaikat) berkata, Wahai Luth! Sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah bersama keluargamu pada akhir malam dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia (juga) akan ditimpa (siksaan) yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat terjadinya siksaan bagi mereka itu pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?” (QS. Hud 11: Ayat 81)
Allah menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya kecuali istrinya yang binasa bersama kaumnya, serta menetapkan azab bagi kaum Luth
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Setelah dijelaskan tentang tingkah laku kaum Nabi Luth yang melampaui batas, kemudian ayat berikut ini memberitakan bahwa Allah akan menurunkan azab kepada mereka. Mereka para malaikat berkata, Wahai Nabi Luth, jangan takut! sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu untuk menyampaikan berita bahwa mereka akan diazab Allah, sehingga mereka tidak akan dapat mengganggu kamu karena mereka akan binasa, sebab itu pergilah beserta keluargamu pada akhir malam dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, yakni teruslah berjalan jangan kembali lagi kecuali istrimu yang tidak ikut bersamamu meninggalkan kota tempt tinggalmu, karena dia berkhianat. Sesungguhnya dia istrimu juga akan ditimpa azab sebagaimana yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat terjadinya siksaan bagi mereka itu adalah pada waktu subuh, saat orang-orang masih tidur terlelap. Bukankah waktu subuh itu sudah dekat, karena itu segeralah bergegas meninggalkan kota ini.”
Dalam ayat tersebut, jelas bahwa istri Nabi Luth tidak termasuk orang yang selamat.
- Tafsir Al-Muyassar menjelaskan: “Istrinya akan tertimpa azab karena ia kafir, berpihak kepada kaumnya, dan membocorkan rahasia Nabi Luth.”
- Tafsir Ibn Katsir juga menegaskan: ia tidak melakukan perbuatan homoseksual seperti kaumnya, tetapi ia berkhianat dengan mendukung, menyetujui, dan memihak kaumnya, sehingga digolongkan bersama mereka.
- Jadi, kemaksiatan istri Nabi Luth adalah kekafiran, pengkhianatan, dan simpati kepada kejahatan kaumnya, bukan zina atau homoseksualitas secara langsung.
- Al-Qur’an dan hadits Nabi ﷺ tidak menyebutkan secara eksplisit adanya praktik lesbian pada zaman Nabi Luth.
- Yang secara tegas diabadikan adalah perbuatan homoseksual kaum pria (liwâth), yaitu laki-laki mendatangi sesama laki-laki dengan syahwat.
- Namun, sebagian ulama menyatakan bahwa penyimpangan seksual pada wanita (musahaqah/lesbian) bisa jadi ada, tetapi tidak menjadi ciri dominan kaum Luth.
- Yang Allah abadikan dalam al-Qur’an adalah perbuatan homoseksual laki-laki, karena itu memang menjadi puncak kerusakan moral kaum Luth.
Hadits-hadits tentang musahaqah tidak sebanyak tentang liwath (homoseksual laki-laki), tetapi ada beberapa riwayat yang disebut ulama ;
Rasulullah ﷺ bersabda:
“إِذَا أَتَتِ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ فَهُمَا زَانِيَتَانِ”
“Apabila seorang wanita mendatangi wanita (untuk berhubungan seksual), maka keduanya adalah pezina.”
— (HR. al-Tabarani dalam al-Mu‘jam al-Kabir 22/408, al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman 7/200 – sebagian ulama menilai sanadnya dha‘if, tetapi digunakan sebagai peringatan).
Kondisi zaman sekarang sama seperti pelajaran dari istri Nabi Luth: yang menentukan bukan hanya amal perbuatan, tetapi keberpihakan — apakah kita berdiri di pihak kebenaran atau di pihak kebatilan
Dia supaya prinsip keberpihakan terhadap kebenaran:
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang selalu berdiri di pihak kebenaran, jangan Engkau golongkan kami bersama ahli kebatilan. Janganlah Engkau menghukum kami karena diam dari kemungkaran. Karuniakan kepada kami ilmu dan keberanian untuk menolak kebatilan, serta teguhkan hati kami di atas agama-Mu hingga kami berjumpa dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.”