Alasan Iblis Menolak Perintah Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ  يٰۤاِ بْلِيْسُ  مَا  لَـكَ  اَ  لَّا  تَكُوْنَ  مَعَ  السّٰجِدِيْنَ

قَا لَ  لَمْ  اَكُنْ  لِّاَسْجُدَ  لِبَشَرٍ  خَلَقْتَهٗ  مِنْ  صَلْصَا لٍ  مِّنْ  حَمَاٍ  مَّسْنُوْنٍ

“Dia (Allah) berfirman, Wahai Iblis! Apa sebabnya kamu (tidak ikut) sujud bersama mereka?”

“Ia (Iblis) berkata, Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”

(QS. Al-Hijr 15: Ayat 32 dan 33)

Alasan Iblis Menolak Perintah Allah

Setelah seluruh malaikat taat kepada perintah Allah untuk bersujud sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Adam, Iblis justru menolak. Ketika Allah bertanya alasan penolakannya, Iblis menjawab bahwa ia tidak mau bersujud kepada Adam yang diciptakan dari tanah.

Dari jawaban ini terlihat bahwa masalah utama Iblis bukan karena ia tidak memahami perintah Allah, melainkan karena kesombongan. Ia memandang asal penciptaannya lebih mulia daripada Adam. Dalam pandangannya, api lebih tinggi daripada tanah, sehingga ia merasa tidak pantas menghormati Adam.

Kesalahan Besar Iblis

Iblis melakukan kesalahan yang sangat fatal:

1. Membangkang perintah Allah.
Ketika Allah memerintahkan sesuatu, seorang hamba tidak diberi pilihan untuk menolak berdasarkan logikanya sendiri.

2. Merasa lebih baik daripada orang lain.
Iblis menilai kemuliaan berdasarkan asal penciptaan, bukan berdasarkan ketetapan Allah.

3. Mengutamakan pendapat pribadi di atas perintah Allah.
Kesombongan membuatnya tidak tunduk kepada kebenaran yang datang dari Allah.

Pelajaran untuk Kehidupan

Sikap Iblis dapat menjadi peringatan bagi setiap manusia. Kesombongan tidak selalu terlihat dalam bentuk ucapan yang kasar. Terkadang ia muncul dalam bentuk merasa paling benar, meremehkan orang lain, enggan menerima nasihat, atau menolak kebenaran karena datang dari orang yang dianggap lebih rendah.

Seseorang bisa rajin beribadah, memiliki ilmu, jabatan, atau kedudukan tertentu, tetapi jika kesombongan tumbuh di dalam hatinya, ia dapat terjerumus pada sikap yang menyerupai Iblis:
*Menolak kebenaran karena merasa dirinya lebih baik*

Renungan

Allah tidak menilai manusia dari asal-usul, harta, kedudukan, atau penampilan. Kemuliaan di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaan dan ketaatan kepada-Nya.

اِنَّ  اَكْرَمَكُمْ  عِنْدَ  اللّٰهِ  اَ  تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  عَلِيْمٌ  خَبِيْرٌ

“…Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)

Kisah Iblis mengajarkan bahwa kesombongan dapat menghapus kemuliaan yang pernah dimiliki seseorang. Sebaliknya, kerendahan hati akan mengantarkan seorang hamba kepada ketaatan dan kedekatan dengan Allah.

Alasan Iblis menolak perintah Allah bukan karena ia tidak mengetahui perintah tersebut, melainkan karena kesombongan yang ada di dalam hatinya. Ia merasa lebih mulia daripada Adam sehingga enggan tunduk kepada perintah Allah. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya menjaga hati dari sifat sombong, menerima kebenaran dengan lapang dada, dan senantiasa mendahulukan perintah Allah di atas pendapat serta keinginan dirinya sendiri.

“Ketaatan lahir dari kerendahan hati, sedangkan pembangkangan sering berawal dari kesombongan.”

Kisah Iblis dalam Surah Al-Hijr ayat 32–33 mengajarkan bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Kesombongan membuat seseorang menolak kebenaran, meremehkan orang lain, dan akhirnya membangkang kepada Allah. Sebaliknya, kerendahan hati akan melahirkan ketaatan, ketundukan, dan kesediaan untuk menerima kebenaran dari mana pun datangnya.

Karena itu, marilah kita senantiasa menjaga hati dari sifat merasa lebih baik daripada orang lain. Apa pun kelebihan yang kita miliki hanyalah karunia Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang rendah hati, mudah menerima nasihat, dan selalu mendahulukan perintah Allah di atas keinginan serta pendapat pribadi.
Ketaatan lahir dari kerendahan hati, sedangkan pembangkangan sering berawal dari kesombongan.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُرُورِ، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا مُتَوَاضِعًا وَنَفْسًا مُطْمَئِنَّةً وَطَاعَةً دَائِمَةً لَكَ.

“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesombongan dan tipu daya diri. Anugerahkanlah kepada kami hati yang rendah hati, jiwa yang tenang, serta kemampuan untuk senantiasa taat kepada-Mu. Janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang menolak kebenaran karena kesombongan, tetapi jadikanlah kami hamba-hamba yang tunduk kepada perintah-Mu dan mengikuti jalan orang-orang yang Engkau beri petunjuk. Aamiin.