Alam Taat, Mengapa Manusia Tidak?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَخَّرَ  لَـكُمُ  الشَّمْسَ  وَا لْقَمَرَ  دَآئِبَيْنِ  ۚ وَسَخَّرَ  لَـكُمُ  الَّيْلَ  وَا لنَّهَا رَ

“Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan malam dan siang bagimu.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 33)

Allah menundukkan (sakhkhara) matahari, bulan, malam, dan siang untuk kemaslahatan manusia, dan manusia memanfaatkannya sebagai nikmat dari-Nya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI dijelaskan bahwa demikian pula sebagai nikmat Allah SWT kepada manusia ialah Dia telah menaklukkan bagi manusia matahari dan bulan, yaitu menjadikan matahari dan bulan terus menerus berjalan mengelilingi garis edarnya, yang menimbulkan terang dan gelap yang berfaedah bagi hidup dan kehidupan makhluk. Dengan tetapnya matahari dan bulan, demikian juga planet-planet yang lain, berjalan mengelilingi garis edarnya, akan terhindarlah terjadinya benturan yang dahsyat antara planet-planet yang ada di cakrawala, sebagaimana firman Allah:

“Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin/36: 39-40)

Keberadaan garis edar yang terus menerus dilalui oleh setiap planet, telah memberi jalan kepada manusia sampai ke bulan, memberi kemungkinan yang besar bagi manusia untuk berusaha mencapai planet-planet yang lain. Dengan perantara garis edar itu pula, manusia dapat menempatkan satelit-satelit yang dapat digunakan untuk kepentingan umat manusia, seperti untuk mengetahui keadaan cuaca, untuk memperlancar hubungan telekomunikasi dan sebagainya, sehingga hubungan antar negara yang semula dirasakan jauh, maka sekarang dirasakan bertambah dekat.

Allah swt menundukkan pula bagi manusia siang dan malam. Siang dapat digunakan manusia sebagai tempat berusaha, beramal, dan bermasyarakat. Sedangkan malam dapat dijadikan sebagai waktu untuk beristirahat dari kelelahan setelah berusaha di siang hari. Allah berfirman: “Dan adalah karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (al-Qashash/28: 73)

Dalam ayat ini pula Allah menggunakan kata sakhkhara (menundukkan), yang mengisyaratkan kita untuk menggunakan akal dalam memanfaatkan baik matahari, bulan, maupun fenomena malam maupun siang. Dengan demikian sakhkhara ini mengandung perintah untuk mengembangkan teknologi, kalender berbasis matahari (solar calendar) atau bulan (lunar calendar), dan energi matahari (solar energy). Juga mengandung perintah untuk menggunakan baik matahari atau bulan untuk keperluan navigasi dalam pelayaran maupun penerbangan, dan sebagainya. Begitu juga menggunakan malam dan siang untuk mengetahui atau mengukur biological clock kita.

Demikian penjelasan dari sudut pandang saintis. Makna dari Surah Ibrahim ayat 33: Ungkapan Allah menundukkan (sakhkhara) menunjukkan bahwa matahari, bulan, malam, dan siang berjalan teratur, patuh, dan konsisten sesuai hukum Allah bukan terjadi kebetulan. Semua itu diatur agar manusia bisa hidup: ada waktu bekerja (siang), istirahat (malam), penentu musim, arah, hingga kebutuhan energi dan kehidupan. Artinya, alam ini adalah sistem yang disiapkan untuk melayani kehidupan manusia, bukan sesuatu yang berdiri sendiri.

Ketika manusia “memanfaatkannya”, itu bukan sekadar memakai, tapi seharusnya disertai kesadaran bahwa itu nikmat dari Allah, bukan hasil kekuatan manusia semata. Tadabur (pelajaran) dari ayat ini:

  1. Kesadaran tauhid. Segala keteraturan alam menunjukkan ada Pengatur tunggal. Tidak pantas manusia bergantung kepada selain Allah.
  2. Nikmat yang sering terlupakan. Matahari terbit, malam datang terlihat biasa, padahal itu nikmat besar yang jarang disyukuri.
  3. Kewajiban bersyukur dengan amal. Memanfaatkan waktu siang dan malam seharusnya untuk hal yang bernilai: ibadah, bekerja, dan kebaikan.
  4. Manusia bukan penguasa mutlak. Kita hanya pengguna, bukan pemilik. Alam tunduk kepada Allah, bukan kepada manusia.
  5. Dorongan untuk berpikir (tafakkur). Keteraturan kosmos mengajak manusia untuk merenung, bukan sekadar menikmati.

Ketika Allah telah menundukkan alam untuk manusia, maka seharusnya manusia menundukkan dirinya untuk taat kepada Allah

Doa meminta keimanan yang mendalam (melihat hikmah ciptaan Allah) sekaligus keselamatan akhirat dari siksa neraka

ۚ رَبَّنَا  مَا  خَلَقْتَ  هٰذَا  بَا طِلًا    ۚ سُبْحٰنَكَ  فَقِنَا  عَذَا بَ  النَّا رِ

Rabbanā mā khalaqta hāżā bāṭilā, subḥānaka faqinā ‘ażāban-nār.
“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)