Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman
فَاَ صَا بَهُمْ سَيِّاٰتُ مَا عَمِلُوْا وَحَا قَ بِهِمْ مَّا كَا نُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ
“Maka mereka ditimpa azab (akibat) perbuatan mereka dan diliputi oleh azab yang dulu selalu mereka perolok-olokkan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 34)
Akibat Buruk dari Apa yang Kita Kerjakan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI dijelaskan bahwa mereka ditimpa oleh bencana yang mengerikan karena kejahatan yang mereka lakukan. Tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat melepaskan diri dari bencana yang mengerikan itu karena semuanya berjalan menurut ketentuan dan sunnah Allah.
Mereka telah diberikan peringatan berulang kali bahwa pada suatu saat akan datang azab Allah. Akan tetapi, mereka bukan menerima dengan kesadaran, justru malah mendustakan dan memperolok-olok rasul yang membawa berita tentang kehancuran yang akan mereka alami akibat perbuatan itu.
Di akhirat, mereka pun akan merasakan sesuatu yang lebih mengerikan lagi yaitu pada saat mereka telah diputuskan untuk memasuki pintu-pintu Jahanam yang tidak dapat mereka hindari.
Allah SWT berfirman:
هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ
“Inilah hari keputusan yang dahulu kamu dustakan.” (QS. As-Saffat 37: Ayat 21)
Orang yang menolak kebenaran sering kali berproses: awalnya mendustakan, kemudian memperolok-olok, bahkan bisa mengajak orang lain menjauh dari kebenaran. Quran Surat An Nahl 34 menunjukkan bahwa semua itu akhirnya memiliki konsekuensi;
1. Dosa sering kali tidak berdiri sendiri
Ketika seseorang sudah mendustakan kebenaran, ia bisa mencari pembenaran dengan memperolok-olok, meremehkan orang yang taat, bahkan memengaruhi orang lain agar ikut menolak.
2. Jangan meremehkan dosa yang dilakukan berulang-ulang
Mendustakan, mengejek, menghalangi orang dari kebenaran mungkin terasa ringan pada awalnya. Tetapi ketika menjadi kebiasaan, hati semakin jauh dari kebenaran.
3. Jangan menjadi orang yang hanya tersesat, tetapi juga jangan menyesatkan
Ada perbedaan besar antara seseorang yang salah untuk dirinya sendiri dengan orang yang mengajak orang lain mengikuti kesalahannya. Karena pengaruhnya menjadi lebih luas.
4. Nikmat Allah jangan dibalas dengan kemaksiatan
Surah An-Nahl banyak mengingatkan tentang nikmat Allah. Maka sangat ironis apabila manusia menikmati nikmat-Nya, tetapi justru menggunakan nikmat tersebut untuk mengingkari, mencemooh, dan melawan petunjuk-Nya.
5. Allah tidak menzalimi; perbuatan manusia kembali kepada dirinya sendiri
Ini sangat nyambung dengan ayat 33. Allah memberi kesempatan, petunjuk, dan peringatan. Ketika manusia memilih jalan yang salah, konsekuensi dari pilihan itu akhirnya kembali kepada dirinya.
6. Ada saatnya kesempatan berakhir
Ayat ini mengingatkan agar jangan menunggu sampai akibat buruk datang baru menyadari kesalahan. Selama masih hidup, pintu taubat dan perbaikan masih terbuka.
Jangan hanya takut ketika berbuat dosa; takutlah ketika dosa itu perlahan mengubah hati kita—dari sekadar berbuat salah menjadi mendustakan kebenaran, memperolok-oloknya, meremehkan orang yang mengingatkan, bahkan mengajak orang lain meninggalkan kebenaran.
Sebab ketika manusia terus memilih jalan itu, menolak peringatan dan tidak mau kembali kepada Allah, sampailah ia pada akibat dari apa yang telah diperbuatnya. Azab itu bukan karena Allah menzalimi manusia, tetapi karena manusia sendiri telah memilih jalan yang menjauhkannya dari rahmat Allah.
Maka selama Allah masih memberi kita umur, jangan tunggu akibat itu datang. Kembalilah kepada kebenaran sebelum hati menjadi keras, bertaubatlah sebelum kesempatan berakhir, dan jangan sampai kita hanya tersesat, tetapi juga menjadi sebab orang lain tersesat.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ ذُنُوبَنَا سَبَبًا لِقَسْوَةِ قُلُوبِنَا، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَرُدُّونَ الْحَقَّ وَيَسْتَهْزِئُونَ بِهِ، وَاحْفَظْنَا أَنْ نَكُونَ سَبَبًا فِي إِضْلَالِ غَيْرِنَا.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا يَقْبَلُ الْحَقَّ، وَنَفْسًا تُسَارِعُ إِلَى التَّوْبَةِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْهُدَى حَتَّى نَلْقَاكَ.
Allahumma la taj‘al dzunubana sababan liqaswat qulubina, wa la taj‘alna mimman yaruddunal-haqqa wa yastahzi’u bihi, wahfazna an nakuna sababan fi idhlali ghairina.
Allahumma-rzuqna qalban yaqbalu al-haqqa, wa nafsan tusari‘u ilat-taubah, wa tsabbitna ‘alal-huda hatta nalqak.
Ya Allah, jangan jadikan dosa-dosa kami sebagai sebab kerasnya hati kami. Jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang menolak kebenaran dan memperolok-olokkannya. Jauhkan kami agar tidak menjadi sebab tersesatnya orang lain.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami hati yang menerima kebenaran, jiwa yang segera bertaubat, dan teguhkan kami di atas petunjuk-Mu sampai kami bertemu dengan-Mu.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.