Ajal itu Akan Tiba Saatnya Apabila Waktu yang Telah Ditentukan; Tidak Dapat Dimajukan dan Tidak Ditunda

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قُلْ  لَّاۤ  اَمْلِكُ  لِنَفْسِيْ  ضَرًّا  وَّلَا  نَفْعًا  اِلَّا  مَا  شَآءَ  اللّٰهُ  ۗ لِكُلِّ  اُمَّةٍ  اَجَلٌ  ۗ اِذَا  جَآءَ  اَجَلُهُمْ  فَلَا  يَسْتَئ۟خِرُوْنَ  سَا عَةً  وَّلَا  يَسْتَقْدِمُوْنَ
“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak kuasa menolak mudarat ataupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Yunus 10:  49)
Ajal itu akan tiba saatnya apabila waktu yang telah ditentukan Allah telah tiba, tidak dapat dimajukan dan tidak ditunda
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah mengajarkan kepada Rasulullah saw jawaban yang harus dikatakan kepada mereka dengan memerintahkan kepada Rasulullah saw agar mengatakan kepada mereka bahwa Rasulullah tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak pula mendatangkan kemanfaatan kepada dirinya. Sebab Rasulullah hanya utusan Allah yang tidak berkuasa untuk mempercepat ataupun memperlambat datangnya siksaan yang dijanjikan Allah kepada mereka, sebagaimana ia juga tidak dapat memperlambat datangnya pertolongan Allah yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang Muslimin.
Akan tetapi datangnya manfaat dan mudarat yang ditimpakan kepada manusia, tiada lain hanyalah atas kehendak Allah semata. Itu berarti apabila Allah menghendaki terjadinya sesuatu, maka hal itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kehendak rasul-Nya, karena kehendak itu hanyalah semata-mata milik Allah yang memelihara alam semesta. Tugas Rasul hanyalah menyampaikan kehendak Alllah, bukan menciptakan kehendak. Apabila Rasulullah mengetahui akan hal-hal yang gaib, tidak lain hanya karena mengetahuinya dari wahyu Allah semata.
Firman Allah: Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (al-Araf/7: 188)
Sebagai penegasan Allah menjelaskan bahwa tiap-tiap umat mempunyai ajal yang telah ditentukan waktunya oleh Allah. Ajal itu akan tiba saatnya apabila waktu yang telah ditentukan Allah telah tiba. Waktu tibanya ajal itu termasuk pengetahuan Allah yang tidak dapat diketahui oleh siapapun juga selain-Nya. Maka apabila ajal mereka telah tiba mereka tidak mampu menundanya sesaat pun, dan mereka tidak pula mampu memajukan waktunya dari waktu yang telah ditentukan. Demikian pula Rasulullah saw tidak akan berkuasa untuk menentukan panjang pendeknya ajal yang telah ditentukan Allah.
Ajal  itu pasti datang tepat pada waktunya, beberapa tadabbur (perenungan) penting yang bisa diambil antara lain:
  1. Hidup ini sementara; Kita tidak tahu kapan ajal datang, maka jangan sia-siakan waktu. Setiap hari adalah kesempatan memperbaiki diri dan beramal.
  2. Tak ada yang bisa menolak atau menunda; Tidak ada kekuasaan, kekayaan, atau kekuatan yang mampu mengubah ketetapan Allah. Ini mengajarkan kerendahan hati di hadapan takdir.
  3. Pentingnya persiapan diri; Karena ajal datang tanpa kompromi, setiap detik perlu digunakan untuk menyiapkan bekal pulang: iman, amal saleh, dan taubat.
  4. Tidak boleh sombong terhadap dunia; Sebanyak apapun pencapaian duniawi, semuanya akan ditinggalkan. Yang menemani hanyalah amal kita.
  5. Hidup dengan kesadaran spiritual; Menjalani hidup dengan ingat kepada Allah, penuh rasa syukur dan hati-hati, karena setiap napas bisa jadi napas terakhir.
Dia agar kita wafat dalam keadaan sebagai seorang muslim:
اللهم توفني مسلمًا وألحقني بالصالحين
“Allahumma tawaffani musliman wa alhiqni bish-shalihin.
“Ya Allah, wafatkanlah aku dalam keadaan sebagai seorang muslim, dan gabungkanlah aku bersama orang-orang yang saleh.”