Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اَ لَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْـكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَآءَهُمُ ۘ اَ لَّذِيْنَ خَسِرُوْۤا اَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ
“Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).”(QS. Al-An’am 6: Ayat 20)
Ahli kitab mengenal nabi Muhammad SAW, seperti mengenal anak anaknya sendiri
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI, bahwa ayat ini menambah keterangan tentang kebenaran kerasulan Nabi Muhammad, yaitu keterangan bahwa Ahli Kitab dari Yahudi dan Nasrani, sebenarnya mereka mengetahui bahwa nabi yang terakhir yang diutus Allah adalah Nabi Muhammad karena tanda-tanda kenabian beliau sangat jelas tercantum dalam kitab-kitab suci mereka.
Diriwayatkan bahwa orang-orang kafir Mekah pergi ke Medinah menanyakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani tentang sifat Muhammad. Tetapi mereka memungkiri bahwa dalam Taurat dan Injil terdapat berita tentang kenabian Muhammad. Berita tersebut sangat jelas sehingga mereka mengetahuinya dengan jelas pula sebagaimana mereka mengetahui anak-anak mereka sendiri.
Allah menyatakan bahwa mereka telah merugikan diri mereka sendiri karena mereka tidak mempercayai kerasulan Muhammad, bahkan mengingkarinya dengan permusuhan. Oleh karena itu, mereka mengingkari apa yang mereka ketahui. Keingkaran pendeta-pendeta Yahudi itu sama alasannya dengan keingkaran orang-orang musyrik Mekah.
Pendeta-pendeta Yahudi tidak mau beriman kepada Muhammad karena takut kehilangan martabat dan kedudukan di kalangan penganut agama mereka. Dalam pandangan Islam, semua orang sama kedudukannya. Tidak ada perbedaan antara pendeta dengan rakyat. Bila melakukan kesalahan yang sama, hukumnya akan serupa pula, tidak ada perbedaan antara ulama dengan rakyat umum.
Demikian pula pemimpin-pemimpin Quraisy, mereka tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad karena takut kehilangan martabat dan kedudukan. Bila mereka menganut agama Islam, mereka akan duduk sejajar dengan rakyat jelata dan orang-orang miskin, seperti Bilal dari Ethiopia (Habasyah) dan lain-lainnya. Mereka sendirilah yang merugikan diri sendiri. Kerugian mereka itu disebabkan kelemahan cita-cita dan kemauan mereka dan kehilangan pertimbangan akal sehat sehingga mereka mengingkari ilmu pengetahuan yang mereka miliki.
“Ahli Kitab” seperti Yahudi dan Nasrani mengenal Nabi Muhammad SAW dalam tulisan-tulisan kitab suci mereka. Namun, meskipun mereka memiliki pengetahuan tentang Nabi Muhammad SAW, mereka tidak menerima atau beriman kepadanya sebagai nabi terakhir.
Hanya saja karena kedengkian hati dan gengsi, mereka tak mau beriman kepada Rasulullah.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani sangatlah jelas mengenal Rasulullah, megenal ciri, karakter dan sifar dari nabi akhir zaman yang dijanjikan sesuai dalam kitab Taurat dan Injil.
ٱلَّذِينَ ءَاتَيْنَٰهُمُ ٱلْكِتَٰبَ يَعْرِفُونَهُۥ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَآءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ ٱلْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri Al Kitan (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui,” (Al Quran surat Al Baqarah ayat 146).
Meski begitu kita mengetahui ada sejumlah para ahli kitab yang lurus yang mengakui risalah Rasulullah dan bersaksi atas kenabian dan kerasulan beliau. Sebut saja seperti Waraqah bin Naufal dan Abdullah bin Salam. Bahkan Abdullah bin Salam yang kemudian masuk Islam, tak bisa memungkiri bahwa dirinya sangat mengenal Rasulullah.
Suatu ketika sahabat Umar bin Khathab bertanya kepada Abdullah bin Salam tentang apakah dirinya mengenal Nabi Muhammad seperti mengenal analnya. Jawaban Abdullah Salam yang dapat dijumpai dalam Ad Durr Al Mantsur karya Imam As Suyuthi 1/357 atau dalan Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir 1/140 cukup mengejutkan.
“Ya, bahkan aku jauh lebih mengenal beliau. Sang Terpercaya turun dari langit menemui sang Terpercaya di bumi dengan penjelasan tentang sifat beliau sehingga aku pun mengenal beliau. Sedangkan anakku, aku tak tahu apakah ia benar-benar dari ibunya,”.
Kecemburuan dan rasa dengki telah menjadi dinding pemisah yang menghalangi orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk beriman kepada Rasulullah.
وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا۟ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا۟ كَفَرُوا۟ بِهِۦ ۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ
Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (Al Baqarah ayat 89).
Penyebab dari orang-orang Yahudi tidak mau beriman kepada Rasulullah karena Nabi penutup yang dijanjikan bukanlah dari kalangan mereka. Nasabnya tidak ke nabi Isa atau Musa, melainkan nasabnya melalui jalur nabi Ismail ke nabi Ibrahim.
Sampaikanlah kisah kisah untuk dijadikan ibrah (pelajaran)
فَا قْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
“Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 176)
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah kisah terdahulu.