Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Aplikasi Tiktok menjadi salah satu aplikasi yang memang sangat digemari anak jaman sekarang. Dimana melalui aplikasi ini seorang user atau pengguna bisa menikmati konten konten yang “positif” seperti berita yang viral, edukasi, tips dan trik, DIY dan lain sebagainya. Namun dibalik sisi positifnya ini, tiktok juga menyimpan segudang masalah yang dapat mempengaruhi akhlak anak pengguna aplikasi tiktok, seakan aplikasi ini menjadi sebuah aplikasi yang bermata dua, bisa menjadi teman jika dimanfaatkan dengan baik dan bisa menjadi lawan jika digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat lantas seberapa banyak aplikasi tiktok ini mempengaruhi akhlak anak?

Jika kita melihat dalam kacamata user, Tiktok lebih banyak menyimpan berbagai macam hal baik itu yang bersifat positif dan negatif.. Untuk persentasenya kita anggap itu 50:50, tergantung algoritma yang kita pakai dalam penggunaan sehari hari. Jika kita sering membuka konten DIY, Edukasi, Humor dan Film maka algoritma Tiktok adalah hal hal yang demikian, berbeda jika kita menggunakan Tiktok untuk membuka hal hal berbau vulgar, maka algoritma tiktok akan berisi orang orang yang tidak berakhlak baik. Tiktok ini memberikan sesuai dengan kebutuhan kita, sama seperti aplikasi media sosial lainnya yang algoritmanya adalah sesuai dengan apa yang sering kita buka.
Penyebaran konten konten yang tidak mendidik dapat mempengaruhi akhlak anak menjadi anak yang akhlakless atau gak punya akhlak. Ini yang harus orang tua garis bawahi dan perlu orang tua perhatikan dengan baik. Konten di tiktok tu beragam, kadang meskipun kita tidak membuka “konten berbau vulgar” tapi ada satu atau dua video yang “menyelip” ke beranda tiktok kita yang jika tidak sengaja dibuka dan ditonton hingga selesai akan membuka video video serupa ke dalam algoritma tiktok kita. Ini yang berbahaya karena dapat merusak mental anak dan dapat membuat anak menjadi paham apa yang memang seharusnya di umurnya mereka belum paham. Pengaruh aplikasi tiktok terhadap akhlak anak juga dapat tercermin dari attitude anak yang mulai nyeleneh, misalkan anak sudah mulai belajar joget joget sendiri, ada beberapa anak yang bahkan sampai tewas hanya karena membuat konten tiktok. Ingat seorang anak remaja yang meninggal karena tersetrum kabel tegangan tinggi ketika membuat konten tiktok bersama teman temannya di lantai 2 rumahnya?

Bahkan ditambah media massa yang sudah mulai “sakit” menayangkan para tiktok kreator sebagai salah satu bahan bercandaan dan dipuja puja bak dewa. Ingat kasus Slebew dan teman temannya yang viral karena tiktok? Apa Kabar hari ini? Media massa yang tidak bertanggung jawab menjadikan tiktok sebagai salah satu bahan pemberitaan yang memang mudah menarik perhatian orang lain, padahal apakah ada manfaatnya bagi kita seorang penonton? Ada, paling hanya sekedar informasi yang kurang bermanfaat saja. Sisanya hanya waktu yang terbuang secara percuma.Jadi seberapa besar pengaruh aplikasi tiktok terhadap akhlak anak? Sangat besar ! Maka penting bagi orang tua untuk mulai bisa membatasi aplikasi ini karena dapat merusak mental dan akhlak anak yang menggunakannya apalagi jika anda tipe orang tua yang asal anak diem, manfaatnya akan terasa di masa depan anak anda sendiri.
Ada sebuah perumpamaan, seorang pembuat atau CEO rokok dia tidak akan merokok, rokok yang mereka buat karena mereka paham akan bahaya dari rokok itu sendiri karena mereka paham betul komposisi dari rokok itu semengerikan apa. Jika ada seseorang CEO tiktok tidak ingin anaknya menggunakan aplikasi buatannya kenapa? Karena itu aplikasi berbahaya atau memang tidak memiliki faedah yang bagus untuk anaknya? Bisa jadi iya bisa jadi juga tidak.

Seperti dikutip dari laman Liputan6.com adapun alasan dari CEO Tiktok Shou Zi Chew tidak mengizinkan anaknya menggunakan aplikasi tiktok adalah karena anaknya masih dibawah 13 tahun, sedangkan tiktok secara “Global” membatasi usia minimal adalah 13 tahun dan dimana dalam algoritma tiktok juga ada pembatasan konten yang berbau pornografi, kekerasan dan konten berbau HOAX. Tapi meski begitu melihat konten konten yang dibuat anak anak hingga orang dewasa saat ini alangkah baiknya untuk membatasi aplikasi ini, termasuk aplikasi lainnya juga seperti Instagram dan Youtube kecuali jika anda seorang konten kreator yang menjadikan semua media sosial itu sebagai bahan penghasilan anda setiap hari.
Bagi umat muslim, daripada menghabiskan waktu untuk bermain tiktok lebih baik untuk bisa memanfaatkan waktu untuk hal yang lain seperti membaca quran, tadarus dan berbagai macam hal lainnya. Karena selain dapat menambah amal ibadah, membaca Al Qur’an juga merupakan kewajiban seorang umat muslim. Membaca Al Quran akan mendapatkan banyak manfaat baik itu manfaat didunia dan juga di akhirat dibandingkan dengan menonton konten di Tiktok. JIka tiktok dapat merusak akhlak anak, Al Quran akan memperbaiki akhlak dan keimanan anak.

Percayalah sekali anda mendalami tiktok anda akan mendapatkan hal yang membuat anda keterusan dan merasa ketergantungan untuk menggunakannya, karena itulah tipu daya setan dan kenikmatan duniawi, berbeda dengan Al Quran yang hanya membaca beberapa ayat saja sudah mulai lelah, lemas dan mata langsung buram, tapi manfaatnya hingga akhir hayat. Yuk mulai berhijrah dari tiktok ke Al Quran kembali.
Al Ma’soem tidak pernah membiarkan anak untuk bisa mengakses tiktok baik di pesantren dan disekolah, tapi jika untuk keperluan konten anak yang dipertanggungjawabkan oleh wali kelas, kami juga tidak menutup mata justru melek akan teknologi saat ini. Tapi ingat, kami memberikan batasan bagi siswa untuk tidak menggunakannya untuk melihat konten orang lain yang tidak bermanfaat, hanya sebagai bahan edukasi pembuatan video pendek, editing video dan cara membuat konten tidak lebih dan tidak kurang.