Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Setiap hari siswa sebenarnya membuat banyak pilihan. Mulai dari menentukan buku yang akan digunakan, memilih kegiatan setelah sekolah, menentukan pembagian tugas dalam kelompok, hingga memilih perlengkapan yang sesuai untuk sebuah kegiatan. Sebagian pilihan memang terlihat sederhana, tetapi semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin besar pula kemungkinan seseorang merasa bingung dalam menentukan pilihan yang paling sesuai.
Salah satu cara untuk membuat proses memilih menjadi lebih terarah adalah dengan menyusun kriteria terlebih dahulu. Kriteria merupakan hal-hal yang dianggap penting ketika seseorang ingin menentukan suatu pilihan. Dengan memiliki kriteria, siswa tidak hanya memilih berdasarkan apa yang terlihat menarik atau apa yang sedang dipilih oleh teman, tetapi dapat mempertimbangkan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai.
Ketika seseorang diminta memilih sesuatu, sering kali muncul anggapan bahwa pilihan terbaik adalah pilihan yang paling bagus secara umum. Padahal, sesuatu yang dianggap bagus oleh satu orang belum tentu menjadi pilihan yang paling sesuai bagi orang lain. Perbedaan kebutuhan, kondisi, kemampuan, dan tujuan dapat membuat pilihan yang tepat menjadi berbeda.
Misalnya, ketika siswa memilih alat tulis untuk mengerjakan tugas, ada yang lebih membutuhkan pensil dengan tingkat ketebalan tertentu, ada yang mengutamakan kenyamanan saat digunakan, dan ada pula yang mempertimbangkan harga. Tidak ada satu pilihan yang selalu paling tepat untuk semua siswa. Yang lebih penting adalah apakah pilihan tersebut memenuhi kebutuhan yang sudah ditentukan.
Cara berpikir seperti ini dapat membantu siswa memahami bahwa memilih bukan sekadar membandingkan mana yang paling menarik. Mereka perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang sebenarnya dibutuhkan. Setelah itu, berbagai pilihan dapat dibandingkan berdasarkan kriteria yang relevan.
Kriteria dapat dipahami sebagai standar atau pertimbangan yang digunakan untuk membandingkan beberapa pilihan. Kriteria membantu seseorang menentukan aspek mana yang perlu diperhatikan dan mana yang tidak terlalu penting.
Dalam kehidupan sekolah, kriteria dapat berupa:
Kriteria tersebut tidak harus selalu digunakan sekaligus. Siswa dapat menentukan beberapa hal yang paling penting sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi. Dengan begitu, proses memilih menjadi lebih sederhana dan tidak dipenuhi pertimbangan yang tidak relevan.
Menyusun kriteria juga mengajarkan siswa bahwa tidak semua pertimbangan memiliki tingkat kepentingan yang sama. Ada hal yang sifatnya wajib dipenuhi dan ada pula yang hanya menjadi nilai tambahan.
Contohnya, ketika memilih perlengkapan untuk sebuah proyek sekolah, keamanan mungkin menjadi syarat utama. Setelah itu, siswa dapat mempertimbangkan harga dan kemudahan penggunaan. Warna atau bentuk mungkin juga dapat dipertimbangkan, tetapi posisinya tidak harus lebih penting daripada keamanan.
Kemampuan menentukan prioritas seperti ini membuat siswa belajar melihat sebuah persoalan secara lebih rasional. Mereka tidak mudah mengubah pilihan hanya karena satu aspek terlihat menarik. Siswa dapat kembali melihat kriteria yang sudah dibuat dan menilai pilihan berdasarkan kebutuhan yang sebenarnya.
Pilihan spontan tidak selalu buruk. Dalam situasi sederhana, seseorang memang dapat memilih dengan cepat. Namun, ketika pilihan memiliki dampak lebih besar atau membutuhkan sumber daya tertentu, keputusan yang terlalu spontan dapat menimbulkan masalah.
Misalnya, sebuah kelompok siswa ingin membeli bahan untuk membuat karya. Jika mereka langsung membeli barang yang terlihat menarik tanpa menentukan kebutuhan, ada kemungkinan bahan yang dibeli ternyata tidak sesuai dengan rancangan. Akibatnya, waktu dan sumber daya dapat terbuang.
Jika sejak awal siswa membuat kriteria, prosesnya akan berbeda. Mereka dapat menentukan ukuran bahan, jumlah yang diperlukan, fungsi, keamanan, serta batas biaya. Setelah itu, pilihan yang tersedia dapat diperiksa satu per satu. Proses tersebut membuat siswa terbiasa mempertimbangkan sesuatu sebelum bertindak.
Kegiatan proyek merupakan salah satu cara yang menarik untuk melatih kemampuan menyusun kriteria. Guru dapat memberikan sebuah masalah yang memiliki beberapa alternatif penyelesaian. Siswa kemudian diminta menentukan kriteria sebelum memilih salah satu alternatif.
Misalnya, siswa diminta membuat alat sederhana yang dapat bergerak menggunakan bahan yang tersedia. Sebelum menentukan desain, mereka dapat menyusun kriteria seperti mudah dibuat, dapat bergerak dengan baik, menggunakan bahan secukupnya, aman digunakan, dan dapat diperbaiki apabila terjadi kesalahan.
Setelah kriteria ditentukan, siswa dapat membuat beberapa rancangan dan membandingkannya. Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya belajar menghasilkan sebuah karya, tetapi juga belajar menjelaskan alasan di balik pilihan desain yang mereka buat.
Tanpa kriteria, siswa mungkin membandingkan dua pilihan berdasarkan kesan pertama. Salah satunya terlihat lebih menarik, lebih besar, atau lebih populer. Padahal, kesan tersebut belum tentu berkaitan dengan kebutuhan yang sebenarnya.
Kriteria memberikan dasar yang lebih jelas untuk melakukan perbandingan. Siswa dapat membuat tabel sederhana berisi beberapa pilihan dan aspek yang ingin dibandingkan. Setiap pilihan kemudian dinilai berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
Cara ini dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Ketika memilih metode untuk sebuah percobaan, siswa dapat membandingkan tingkat keamanan, kemudahan, waktu, dan kebutuhan alat. Ketika memilih tema presentasi, siswa dapat mempertimbangkan ketersediaan sumber informasi, kesesuaian dengan materi, dan kemampuan kelompok untuk menjelaskannya.
Kegiatan seperti ini juga melatih siswa untuk menjelaskan alasan. Mereka tidak hanya mengatakan, “Saya memilih ini karena lebih bagus,” tetapi dapat menyampaikan alasan yang lebih spesifik berdasarkan beberapa pertimbangan.
Pilihan yang dibuat berdasarkan kriteria membuat siswa lebih mudah mempertanggungjawabkan keputusan. Ketika ditanya mengapa memilih suatu alternatif, siswa dapat menjelaskan proses berpikir yang digunakan.
Hal tersebut penting dalam kerja kelompok. Perbedaan pendapat sangat mungkin terjadi ketika beberapa siswa memiliki pilihan masing-masing. Jika setiap orang hanya mempertahankan pilihannya karena menyukai pilihan tersebut, diskusi dapat berubah menjadi perdebatan tanpa arah. Sebaliknya, jika kelompok memiliki kriteria yang disepakati, setiap pilihan dapat dibahas berdasarkan standar yang sama.
Dengan demikian, kriteria tidak hanya membantu memilih barang atau metode. Kriteria juga dapat menjadi alat untuk membangun diskusi yang lebih sehat. Siswa belajar bahwa perbedaan pilihan dapat dibicarakan dengan alasan yang jelas tanpa harus menjadikan pendapat pribadi sebagai satu-satunya dasar.
Siswa juga perlu memahami bahwa kriteria bukan aturan yang selalu sama untuk setiap situasi. Kriteria dapat berubah apabila kebutuhan dan kondisi berubah. Sesuatu yang menjadi prioritas dalam satu kegiatan belum tentu menjadi prioritas dalam kegiatan lainnya.
Misalnya, ketika memilih bahan untuk proyek yang harus selesai dalam satu hari, kemudahan mendapatkan bahan mungkin menjadi hal yang penting. Namun, jika proyek tersebut akan digunakan dalam waktu lama, daya tahan bisa menjadi pertimbangan yang lebih besar.
Pemahaman ini membuat siswa tidak sekadar menghafal daftar kriteria. Mereka belajar menentukan sendiri pertimbangan yang paling relevan berdasarkan tujuan. Inilah yang membuat kemampuan tersebut berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar menyusun kriteria mungkin terlihat seperti keterampilan kecil. Namun, kemampuan menentukan standar sebelum memilih dapat digunakan dalam banyak situasi ketika siswa semakin dewasa. Mereka akan berhadapan dengan pilihan pendidikan, kegiatan, pekerjaan, barang yang ingin dibeli, maupun berbagai keputusan lain yang membutuhkan pertimbangan.
Sekolah dapat menjadi tempat yang tepat untuk mengenalkan kebiasaan tersebut melalui aktivitas sederhana. Guru tidak selalu harus memberikan satu jawaban yang benar. Siswa justru dapat diajak menjelaskan kriteria yang mereka gunakan, membandingkan beberapa pilihan, dan memahami bahwa pilihan yang berbeda dapat tetap masuk akal selama memiliki dasar yang jelas.
Dengan terbiasa menentukan apa yang penting sebelum memilih, siswa perlahan belajar bahwa keputusan yang baik tidak selalu ditentukan oleh pilihan yang paling populer atau paling menarik. Pilihan yang baik adalah pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan, tujuan, kondisi, dan kriteria yang telah dipertimbangkan dengan matang.