Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Dalam kehidupan sekolah, siswa tidak hanya belajar dari buku, penjelasan guru, atau tugas yang diberikan di kelas. Banyak hal justru dipahami melalui interaksi dengan orang lain. Ketika mengerjakan tugas kelompok, melakukan presentasi, mengikuti kegiatan organisasi, maupun berlatih dalam kegiatan ekstrakurikuler, siswa akan berhadapan dengan penilaian dan pendapat dari orang lain. Pada kondisi tersebut, kemampuan memberikan dan menerima masukan menjadi salah satu keterampilan yang penting untuk dikembangkan.
Masukan atau feedback sebenarnya tidak selalu berarti kritik terhadap kesalahan. Masukan dapat berupa saran untuk memperbaiki cara belajar, cara berkomunikasi, hasil pekerjaan, maupun sikap ketika bekerja bersama orang lain. Jika siswa terbiasa melihat masukan sebagai bagian dari proses belajar, mereka dapat menjadi lebih terbuka terhadap perkembangan dirinya. Sebaliknya, jika setiap masukan dianggap sebagai serangan pribadi, kesempatan untuk memperbaiki diri bisa terlewatkan.
Setiap siswa memiliki keterbatasan dalam melihat dirinya sendiri. Seseorang mungkin merasa sudah mengerjakan tugas dengan baik, tetapi belum menyadari bahwa penjelasannya kurang terstruktur. Siswa lain mungkin merasa sudah aktif dalam diskusi, padahal sebenarnya terlalu sering memotong pembicaraan teman. Masukan dari guru atau teman dapat membantu menunjukkan bagian yang sebelumnya tidak terlihat.
Hal ini bukan berarti siswa harus selalu menganggap pendapat orang lain benar. Masukan tetap perlu dipahami dan dipertimbangkan secara kritis. Siswa dapat melihat apakah saran tersebut memang relevan dengan pekerjaannya, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, dan dapat diterapkan. Dengan cara tersebut, menerima masukan tidak berarti kehilangan pendirian, melainkan belajar menggunakan informasi dari orang lain untuk melakukan evaluasi.
Memberikan masukan juga membutuhkan keterampilan. Siswa mungkin mengetahui adanya kesalahan dalam pekerjaan temannya, tetapi cara menyampaikannya dapat menentukan bagaimana masukan tersebut diterima. Kalimat yang terlalu keras atau bernada merendahkan dapat membuat seseorang merasa malu dan justru tidak mau memperbaiki kesalahannya.
Beberapa kebiasaan yang dapat dilatih siswa ketika memberikan masukan antara lain:
Misalnya, daripada mengatakan bahwa presentasi teman “jelek”, siswa dapat menjelaskan bahwa isi presentasinya sudah menarik tetapi urutan pembahasannya masih bisa dibuat lebih teratur. Masukan seperti ini lebih mudah digunakan karena orang yang menerimanya mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.
Menerima masukan terkadang lebih sulit daripada memberikan masukan. Ketika seseorang sudah berusaha keras mengerjakan sesuatu, kritik terhadap hasil pekerjaannya dapat terasa seperti kritik terhadap dirinya. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda. Hasil pekerjaan dapat diperbaiki tanpa berarti bahwa seseorang tersebut tidak memiliki kemampuan.
Siswa dapat membiasakan diri untuk tidak langsung memberikan respons ketika menerima kritik. Dengarkan terlebih dahulu, pahami maksudnya, kemudian pikirkan apakah ada bagian yang memang dapat digunakan sebagai bahan evaluasi. Jika ada hal yang belum jelas, siswa juga dapat bertanya dengan tenang. Sikap seperti ini membantu mengurangi reaksi spontan yang mungkin justru menimbulkan konflik.
Lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap cara siswa memandang masukan. Jika guru membiasakan evaluasi dengan bahasa yang membangun, siswa akan lebih mudah memahami bahwa kesalahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Evaluasi dapat menjadi bagian normal dari proses belajar.
Dalam tugas presentasi misalnya, guru tidak hanya memberikan nilai akhir, tetapi juga dapat menjelaskan kekuatan dan bagian yang masih perlu dikembangkan. Hal serupa dapat diterapkan pada tugas menulis, proyek kelompok, kegiatan praktik, maupun aktivitas organisasi. Dengan demikian, siswa belajar bahwa mendapatkan masukan merupakan bagian dari perjalanan untuk meningkatkan kemampuan.
Guru juga dapat memberikan contoh bagaimana menerima masukan. Ketika siswa menyampaikan pendapat atau pertanyaan, guru dapat merespons dengan terbuka. Contoh sederhana tersebut memperlihatkan kepada siswa bahwa komunikasi dua arah membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan, bukan hanya kemampuan berbicara.
Tugas kelompok menjadi salah satu tempat yang baik untuk melatih kemampuan memberikan dan menerima masukan. Setiap anggota biasanya memiliki cara kerja, tingkat kecepatan, dan kemampuan yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat menjadi tantangan jika tidak disertai komunikasi yang baik.
Seorang siswa mungkin merasa tugas temannya kurang maksimal, sementara temannya merasa sudah berusaha sesuai kemampuan. Dalam kondisi seperti ini, masukan sebaiknya digunakan untuk mencari solusi, bukan menentukan siapa yang paling salah. Kelompok dapat membicarakan bagian pekerjaan yang belum selesai, membagi ulang tugas jika diperlukan, dan menyepakati langkah berikutnya.
Dari proses tersebut, siswa belajar bahwa bekerja bersama orang lain tidak selalu berarti semua orang memiliki pendapat yang sama. Justru perbedaan dapat membantu kelompok menemukan cara kerja yang lebih baik. Kemampuan menyampaikan ketidaksetujuan dengan sopan akan menjadi keterampilan yang berguna dalam berbagai situasi.
Sikap terbuka bukan berarti siswa harus menerima semua komentar tanpa pertimbangan. Ada kalanya seseorang memberikan masukan berdasarkan informasi yang tidak lengkap atau hanya berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Karena itu, siswa tetap perlu menggunakan kemampuan berpikir kritis.
Sebelum menerapkan sebuah masukan, siswa dapat mempertanyakan beberapa hal:
Kebiasaan tersebut membuat siswa tidak sekadar menjadi penerima komentar, tetapi mampu mengolah informasi secara mandiri. Mereka belajar membedakan antara masukan yang membangun dan komentar yang tidak memiliki dasar yang jelas.
Siswa juga tidak harus menunggu sampai guru atau teman memberikan komentar. Mereka dapat belajar meminta masukan secara aktif. Setelah menyelesaikan presentasi, misalnya, siswa dapat bertanya kepada guru bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Setelah mengerjakan tugas kelompok, mereka dapat meminta pendapat anggota lain mengenai cara kerja yang sudah dilakukan.
Kebiasaan meminta feedback dapat membantu siswa lebih cepat mengetahui kekurangan. Selain itu, tindakan tersebut menunjukkan bahwa siswa memiliki kemauan untuk berkembang. Mereka tidak hanya berorientasi pada nilai akhir, tetapi juga memperhatikan proses yang dapat membuat kemampuan mereka meningkat.
Feedback akan menjadi kurang berarti jika hanya didengar tanpa ada perubahan. Setelah mendapatkan masukan, siswa dapat memilih satu atau dua hal yang paling penting untuk diperbaiki terlebih dahulu. Tidak perlu mencoba mengubah semuanya sekaligus karena terlalu banyak target dapat membuat proses perbaikan terasa berat.
Misalnya, seorang siswa mendapat masukan bahwa cara presentasinya sudah cukup baik, tetapi kontak mata dengan audiens masih kurang. Pada presentasi berikutnya, ia dapat menjadikan kontak mata sebagai fokus latihan. Setelah beberapa kali mencoba, siswa dapat mengevaluasi kembali perkembangannya dan meminta masukan tambahan.
Keterampilan menerima dan memberikan masukan tidak hanya dibutuhkan selama menjadi siswa. Dalam berbagai lingkungan setelah sekolah, seseorang akan terus menerima evaluasi dari orang lain. Di dunia perkuliahan, organisasi, pekerjaan, maupun kehidupan sosial, kemampuan memperbaiki diri berdasarkan feedback dapat membantu seseorang berkembang.
Yang terpenting adalah memahami bahwa masukan tidak selalu menunjukkan kegagalan. Terkadang justru melalui masukan, seseorang dapat mengetahui kemampuan yang belum maksimal dan menemukan cara baru untuk mengembangkannya. Sekolah dapat menjadi tempat yang tepat bagi siswa untuk melatih kebiasaan tersebut secara bertahap, melalui tugas, diskusi, proyek, kegiatan organisasi, dan berbagai interaksi sehari-hari.