Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Ada tugas yang sebenarnya sudah diketahui harus dikerjakan. Tenggat waktunya juga jelas. Bahkan, siswa mungkin sudah membayangkan akibat jika tugas tersebut terlambat dikumpulkan. Namun anehnya, tangan justru lebih mudah mengambil ponsel, membuka video, merapikan meja, atau mengerjakan hal lain yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Situasi seperti ini cukup dekat dengan kehidupan siswa. Menunda tugas bukan selalu berarti seseorang malas atau tidak peduli terhadap sekolah. Ada kondisi ketika tugas terasa terlalu besar, membingungkan, membosankan, atau membuat seseorang khawatir hasilnya tidak sesuai harapan. Akibatnya, otak memilih aktivitas yang terasa lebih mudah untuk dilakukan saat itu.
Dalam psikologi, kecenderungan menunda pekerjaan yang sebenarnya ingin atau perlu diselesaikan dikenal sebagai prokrastinasi. Memahami penyebabnya penting karena solusi untuk mengurangi kebiasaan menunda bukan sekadar mengatakan, “Harus lebih rajin.”
Bayangkan seorang siswa mendapatkan tugas membuat laporan yang harus dikumpulkan minggu depan. Tugas tersebut sebenarnya masih memiliki waktu yang cukup panjang. Namun karena harus mencari informasi, menyusun tulisan, membuat struktur laporan, dan memeriksa kembali hasilnya, tugas itu terasa seperti satu pekerjaan besar.
Ketika sebuah pekerjaan terlihat terlalu besar, seseorang bisa kesulitan menentukan langkah pertama. Akhirnya, tugas ditunda dengan alasan masih ada banyak waktu. Padahal, semakin lama tidak dimulai, semakin dekat pula tenggat waktunya.
Salah satu cara mengatasinya adalah memecah pekerjaan menjadi bagian yang lebih kecil. Daripada berpikir “harus menyelesaikan laporan”, siswa dapat memulai dengan “mencari tiga sumber informasi”, kemudian membuat kerangka, menulis bagian pertama, dan seterusnya. Pekerjaan yang sama dapat terasa lebih mudah ketika memiliki langkah yang jelas.
Salah satu alasan tugas sekolah sering kalah menarik dibandingkan ponsel adalah karena keduanya memberikan pengalaman yang berbeda. Tugas membutuhkan perhatian dan usaha sebelum menghasilkan sesuatu, sedangkan aplikasi hiburan biasanya memberikan rangsangan secara cepat.
Satu video pendek selesai dalam hitungan detik, lalu muncul video berikutnya. Sebuah pesan dapat langsung memberikan notifikasi. Permainan juga memberikan target dan penghargaan secara cepat. Sementara itu, mengerjakan soal matematika atau menulis esai mungkin membutuhkan waktu cukup lama sebelum siswa merasa mendapatkan hasil.
Perbedaan ini tidak berarti teknologi selalu buruk. Masalahnya muncul ketika siswa tidak menyadari bahwa perhatian mereka terus berpindah. Sekali tugas ditinggalkan untuk memeriksa ponsel, dibutuhkan waktu dan usaha lagi untuk kembali berkonsentrasi.
Ada alasan psikologis mengapa menunda bisa terasa menyenangkan. Ketika siswa melihat tugas yang membuat tidak nyaman, memilih melakukan aktivitas lain dapat mengurangi rasa tidak nyaman tersebut untuk sementara.
Misalnya, seseorang merasa cemas karena belum memahami tugas matematika. Ketika ia memilih menonton video selama beberapa menit, rasa cemas itu mungkin berkurang karena untuk sementara ia tidak perlu memikirkan tugas tersebut.
Masalahnya, tugas belum hilang. Ketika waktu semakin dekat dengan tenggat, rasa tertekan dapat muncul kembali, bahkan menjadi lebih besar. Inilah salah satu alasan mengapa prokrastinasi sering membentuk pola: merasa tidak nyaman, menghindar, merasa lega sebentar, kemudian semakin tertekan karena pekerjaan belum selesai.
Menariknya, tidak setiap pekerjaan yang dilakukan belakangan merupakan bentuk prokrastinasi. Ada kalanya seseorang memang perlu menunggu karena sedang menyelesaikan pekerjaan lain yang lebih mendesak atau membutuhkan informasi tertentu.
Perbedaan pentingnya terletak pada alasan dan dampaknya. Jika seorang siswa sengaja menentukan bahwa tugas akan dikerjakan setelah menyelesaikan kegiatan lain yang lebih penting, itu merupakan pengaturan prioritas. Namun jika tugas sengaja dihindari meskipun siswa mengetahui bahwa penundaan tersebut akan menimbulkan masalah, situasinya lebih dekat dengan prokrastinasi.
Karena itu, belajar mengatur waktu bukan hanya tentang membuat jadwal sebanyak mungkin. Siswa juga perlu memahami alasan di balik setiap keputusan untuk menunda atau mengerjakan sesuatu.
Salah satu kesulitan terbesar dalam mengerjakan tugas sering kali bukan prosesnya, melainkan memulainya. Tugas yang belum disentuh terlihat lebih berat dibandingkan ketika seseorang sudah mulai mengerjakannya.
Karena itu, siswa dapat membuat target awal yang sangat sederhana. Misalnya, membuka buku dan membaca satu halaman, mengerjakan satu soal, mencari satu sumber, atau menulis beberapa kalimat pertama.
Target tersebut bukan berarti tugas harus selesai dalam lima menit. Tujuannya adalah mengurangi hambatan untuk memulai. Setelah pekerjaan berjalan, siswa sering kali lebih mudah menentukan langkah berikutnya karena sudah memiliki gambaran yang lebih jelas tentang apa yang harus dilakukan.
Tenggat waktu yang masih lama terkadang membuat sebuah tugas terasa belum mendesak. Ini berkaitan dengan kecenderungan manusia memberikan perhatian lebih besar kepada sesuatu yang konsekuensinya terasa dekat dibandingkan sesuatu yang masih jauh.
Tugas yang dikumpulkan tiga minggu lagi mungkin terasa tidak terlalu penting hari ini. Namun ketika waktu tinggal dua hari, tugas yang sama tiba-tiba terasa sangat mendesak.
Salah satu cara mengatasinya adalah membuat tenggat kecil sebelum tenggat sebenarnya. Jika tugas harus dikumpulkan Jumat, siswa dapat menetapkan target pribadi seperti menyelesaikan pencarian informasi pada Senin, membuat kerangka pada Selasa, dan menyelesaikan draf pada Rabu.
Dengan cara tersebut, pekerjaan tidak hanya memiliki satu batas waktu di akhir.
Kebiasaan menunda tidak hanya berkaitan dengan kemauan pribadi. Lingkungan juga dapat membuat suatu perilaku lebih mudah dilakukan.
Meja belajar yang penuh gangguan, ponsel dengan banyak notifikasi, televisi yang menyala, atau suasana yang terlalu ramai dapat membuat perhatian lebih mudah terpecah. Sebaliknya, lingkungan yang sudah disiapkan untuk belajar dapat mengurangi jumlah keputusan kecil yang harus dibuat.
Siswa tidak selalu perlu menciptakan ruang belajar yang sempurna. Hal sederhana seperti menyiapkan buku sebelum mulai, mematikan notifikasi sementara, atau menentukan satu tempat khusus untuk mengerjakan tugas dapat membantu menciptakan tanda bahwa sudah waktunya fokus.
Ada anggapan bahwa seseorang harus memiliki motivasi terlebih dahulu agar bisa mulai belajar. Kenyataannya, hubungan antara tindakan dan motivasi tidak selalu sesederhana itu.
Kadang-kadang seseorang justru mulai merasa lebih termotivasi setelah melihat sedikit kemajuan. Ketika satu soal berhasil diselesaikan, satu paragraf selesai ditulis, atau satu bagian tugas mulai terbentuk, pekerjaan yang sebelumnya terasa berat dapat menjadi lebih mudah dilanjutkan.
Karena itu, siswa tidak harus selalu menunggu munculnya semangat belajar. Membuat langkah awal yang kecil dan realistis dapat menjadi cara untuk membangun momentum.
Setiap siswa dapat memiliki penyebab penundaan yang berbeda. Ada yang kesulitan memulai karena tidak memahami instruksi. Ada yang merasa tugas terlalu sulit. Ada yang takut hasilnya tidak bagus. Ada pula yang mudah terdistraksi oleh aktivitas lain.
Mengenali penyebabnya membuat solusi menjadi lebih tepat. Jika masalahnya adalah tidak memahami tugas, siswa dapat bertanya kepada guru. Jika tugas terlalu besar, pekerjaan dapat dipecah menjadi beberapa bagian. Jika gangguan berasal dari ponsel, notifikasi dapat dikurangi ketika belajar.
Jadi, melawan kebiasaan menunda bukan sekadar memaksa diri untuk bekerja lebih keras. Siswa juga perlu belajar membaca pola perilakunya sendiri.
Kemampuan menyelesaikan tugas tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan akademik. Siswa juga perlu belajar bagaimana merencanakan, memulai, memantau, dan mengevaluasi pekerjaannya.
Guru dapat membantu dengan memberikan tahapan tugas yang jelas, tenggat antara, umpan balik selama proses, serta kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki pekerjaan. Pendekatan seperti ini membuat siswa belajar bahwa pekerjaan besar dapat dikelola melalui beberapa tahap.
Pada akhirnya, kemampuan mengatasi penundaan bukan berarti seorang siswa tidak pernah menunda sama sekali. Yang lebih penting adalah mampu mengenali kapan dirinya mulai menghindar, memahami penyebabnya, lalu mengambil langkah untuk kembali bergerak.
Kebiasaan tersebut dapat berguna bukan hanya untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah, tetapi juga ketika siswa kelak menghadapi tugas organisasi, pekerjaan, proyek pribadi, dan berbagai tanggung jawab lain yang tidak selalu memiliki pengawasan langsung.