Select Education Level
Please select an education level to begin registration.
Teknologi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan pelajar. Smartphone, internet, aplikasi komunikasi, video, dan berbagai platform digital dapat membantu siswa mencari informasi maupun menyelesaikan tugas sekolah. Namun, di sisi lain, perangkat digital juga dapat menjadi sumber gangguan ketika digunakan tanpa pengaturan yang baik.
Bagi siswa SMP, kemampuan mengelola gangguan digital menjadi keterampilan yang semakin penting. Bukan berarti siswa harus menghindari teknologi sepenuhnya, melainkan belajar menentukan kapan teknologi digunakan untuk kebutuhan belajar dan kapan penggunaannya perlu dibatasi.
Di lingkungan pendidikan seperti SMP Al Ma’soem Bandung, kemampuan tersebut dapat mendukung siswa dalam menjalani berbagai aktivitas sekolah, terutama ketika mereka harus membagi perhatian antara pembelajaran, tugas, kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, dan waktu istirahat.
Gangguan digital sering kali muncul dari hal-hal sederhana. Ketika sedang mengerjakan tugas, siswa mungkin menerima notifikasi pesan, membuka media sosial, melihat video singkat, atau sekadar memeriksa ponsel.
Awalnya mungkin hanya dilakukan selama beberapa menit. Namun, kebiasaan berpindah perhatian dapat membuat pekerjaan menjadi lebih lama selesai. Setelah kembali mengerjakan tugas, siswa juga membutuhkan waktu untuk memusatkan perhatian kembali.
Karena itu, masalahnya bukan selalu pada perangkat yang digunakan, tetapi pada cara siswa mengatur perhatian ketika menggunakan perangkat tersebut.
Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah membedakan tujuan penggunaan perangkat digital.
Ketika membuka internet untuk mencari materi pelajaran, siswa memiliki tujuan yang jelas. Berbeda ketika membuka perangkat tanpa tujuan tertentu dan kemudian berpindah dari satu konten ke konten lainnya.
Sebelum menggunakan perangkat, siswa dapat bertanya:
“Saya membuka perangkat ini untuk apa?”
Jika jawabannya adalah mencari informasi untuk tugas, fokuskan penggunaan pada kebutuhan tersebut. Setelah selesai, perangkat dapat digunakan untuk aktivitas lain.
Kebiasaan sederhana ini membantu siswa menyadari bahwa teknologi seharusnya menjadi alat yang digunakan sesuai kebutuhan, bukan sesuatu yang secara otomatis mengambil perhatian.
Notifikasi merupakan salah satu gangguan yang paling mudah muncul ketika siswa sedang belajar. Bunyi atau getaran dari pesan masuk dapat membuat perhatian langsung berpindah.
Tidak semua notifikasi harus diperiksa saat itu juga. Siswa dapat mengatur notifikasi dan mematikan pemberitahuan dari aplikasi yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar.
Misalnya, ketika sedang mengerjakan tugas selama satu jam, siswa dapat mengaktifkan mode yang membatasi gangguan. Setelah tugas selesai, notifikasi dapat diperiksa kembali.
Dengan cara tersebut, siswa tetap dapat menggunakan teknologi tanpa harus terus-menerus merespons setiap pemberitahuan yang masuk.
Membatasi penggunaan perangkat tidak harus dilakukan secara ekstrem. Siswa dapat membuat waktu tertentu untuk hiburan digital.
Contohnya:
Belajar → Istirahat → Menyelesaikan kewajiban → Waktu hiburan
Dengan urutan tersebut, hiburan tetap memiliki tempat tetapi tidak mengambil alih waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar.
Pengaturan seperti ini juga membantu siswa memahami bahwa setiap aktivitas memiliki waktunya masing-masing. Ketika sedang belajar, perhatian diarahkan pada pembelajaran. Ketika waktunya beristirahat, siswa dapat benar-benar menggunakan waktu tersebut untuk melepas penat.
Banyak siswa mungkin merasa mampu belajar sambil menonton video atau membalas pesan. Padahal, berpindah perhatian secara terus-menerus dapat membuat proses belajar menjadi kurang efektif.
Contohnya, siswa sedang membaca materi pelajaran kemudian membuka pesan. Setelah membalas pesan, mereka kembali membaca tetapi sudah lupa bagian terakhir yang dipelajari.
Daripada melakukan banyak hal sekaligus, siswa dapat mencoba menyelesaikan satu aktivitas dalam satu waktu.
Satu tugas → Fokus → Selesaikan → Istirahat → Lanjut ke aktivitas berikutnya
Cara tersebut sederhana, tetapi dapat membantu membangun kebiasaan berkonsentrasi.
Mengelola gangguan digital bukan berarti menganggap semua penggunaan teknologi sebagai sesuatu yang negatif. Justru, teknologi dapat memberikan banyak manfaat ketika digunakan secara tepat.
Siswa dapat memanfaatkannya untuk mencari referensi, membaca sumber belajar, membuat presentasi, mengembangkan keterampilan komputer, maupun mengerjakan proyek tertentu.
Di SMP Al Ma’soem Bandung sendiri, kemampuan teknologi juga dapat dikembangkan melalui kegiatan seperti ekstrakurikuler komputer dan robotik. Artinya, teknologi tidak hanya dapat digunakan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk belajar dan berkarya.
Hal yang perlu diperhatikan adalah tujuan penggunaannya. Perangkat yang sama dapat menjadi alat belajar atau menjadi gangguan, tergantung bagaimana siswa menggunakannya.
Ketika mengerjakan tugas, siswa sebaiknya menentukan informasi apa yang sedang dicari sebelum membuka internet.
Misalnya, jika mendapatkan tugas mengenai ekosistem, siswa dapat menentukan beberapa pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu. Setelah itu, pencarian informasi dapat dilakukan berdasarkan pertanyaan tersebut.
Cara ini lebih efektif dibandingkan membuka internet tanpa tujuan dan kemudian membaca berbagai informasi yang tidak berkaitan dengan tugas.
Selain membantu menjaga konsentrasi, kebiasaan tersebut juga dapat melatih siswa menggunakan internet secara lebih terarah.
Setiap siswa dapat memiliki sumber gangguan yang berbeda. Ada yang mudah terdistraksi oleh pesan masuk, ada yang tertarik membuka video, sementara yang lain mungkin terlalu sering berpindah aplikasi.
Mengenali pemicu menjadi langkah penting untuk mengatasinya.
Siswa dapat melakukan evaluasi sederhana setelah belajar:
Jawaban tersebut dapat digunakan untuk membuat perubahan kecil pada kebiasaan sehari-hari.
Menghindari gangguan digital hanya dengan berkata kepada diri sendiri “jangan buka ponsel” terkadang tidak cukup. Siswa dapat membuat lingkungan belajar yang memang membantu konsentrasi.
Misalnya, ketika mengerjakan tugas, ponsel dapat diletakkan agak jauh dari meja. Jika perangkat diperlukan untuk mencari materi, aplikasi yang tidak berkaitan dengan tugas dapat ditutup terlebih dahulu.
Lingkungan yang mendukung membuat siswa tidak harus terus-menerus menggunakan kemauan untuk menahan diri.
Fokus bukan berarti belajar tanpa berhenti. Siswa tetap membutuhkan waktu istirahat agar aktivitas belajar dapat dijalani dengan nyaman.
Istirahat juga tidak harus selalu diisi dengan layar. Siswa dapat berdiri, berjalan sebentar, minum air, berbicara dengan keluarga, atau melakukan aktivitas ringan lainnya.
Setelah beristirahat, siswa dapat kembali mengerjakan tugas dengan perhatian yang lebih siap.
Orang tua dapat membantu anak membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang sehat melalui aturan dan komunikasi yang jelas. Misalnya, menyepakati waktu belajar, waktu istirahat, dan waktu hiburan.
Yang tidak kalah penting adalah memberikan contoh. Anak akan lebih mudah memahami penggunaan teknologi yang teratur ketika melihat orang di sekitarnya juga mampu mengatur penggunaan perangkat.
Pendekatan tersebut sebaiknya dilakukan melalui kebiasaan dan komunikasi, bukan hanya larangan.
Menjadi siswa yang mampu menggunakan teknologi bukan sekadar mengetahui cara mengoperasikan perangkat. Ada kemampuan lain yang juga penting, yaitu mengetahui kapan teknologi digunakan, untuk tujuan apa, dan bagaimana menjaga diri agar tidak kehilangan fokus.
Inilah bagian dari kecakapan digital yang dapat dibangun sejak SMP.
Siswa yang mampu mengatur gangguan digital akan lebih mudah memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan akademik maupun kreativitas. Mereka tidak harus menjauhi dunia digital, tetapi belajar menjadi pengguna yang lebih sadar dan bertanggung jawab.
Di tengah aktivitas belajar yang beragam di SMP Al Ma’soem Bandung, kemampuan mengelola gangguan digital dapat menjadi bekal yang berguna. Dengan membangun kebiasaan sederhana seperti mengatur notifikasi, menentukan tujuan penggunaan perangkat, menghindari multitasking, dan menyediakan waktu istirahat, siswa dapat belajar menjaga konsentrasi tanpa harus meninggalkan manfaat teknologi.
Keterampilan tersebut juga akan semakin relevan ketika siswa memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, saat tuntutan belajar dan penggunaan teknologi kemungkinan semakin besar.